Jakarta, PBSN – Program Pendidikan Bela Negara ala Dedi Mulyadi harus dikloning menjadi role model secara nasional mencerminkan apresiasi terhadap pendekatan unik yang dilakukan Dedi Mulyadi dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
Untuk mendukung gagasan ini secara objektif, kita bisa melihat beberapa alasan mengapa program tersebut layak dijadikan contoh nasional:
1. Kontekstual dan Membumi:
Dedi Mulyadi dikenal dengan pendekatan budaya lokal yang kuat. Pendidikan bela negara versi beliau tidak hanya berfokus pada aspek militeristik, tetapi juga pada pelestarian budaya, etika sosial, dan cinta tanah air yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
2. Humanis dan Edukatif:
Program ini menekankan nilai-nilai gotong royong, kerja keras, toleransi, dan penghormatan terhadap sejarah serta tokoh lokal—yang semuanya adalah aspek penting dalam pembentukan karakter bangsa.
3. Terbukti Efektif di Daerah:
Di wilayah Purwakarta misalnya, pendekatan ini telah menunjukkan hasil positif dalam meningkatkan partisipasi warga dalam kegiatan sosial, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesadaran identitas kebangsaan.
Namun, untuk mengkloning program ini secara nasional, ada beberapa catatan penting:
Penyesuaian Konteks Lokal:
Budaya dan karakteristik tiap daerah di Indonesia berbeda. Maka, program ini perlu disesuaikan agar tetap relevan dan tidak terkesan dipaksakan.
Keterlibatan Masyarakat:
Keberhasilan program Dedi Mulyadi sangat dipengaruhi oleh keterlibatan langsung masyarakat. Replikasi program ini harus menjamin adanya ruang partisipasi yang serupa.
Penguatan Kurikulum dan Pelatihan: Bila hendak diadopsi secara nasional, perlu integrasi dalam sistem pendidikan formal dan nonformal, serta pelatihan bagi para pelaksana di lapangan.
Oleh : Adv Taufik CH (Sekjen Himpunan Advokat Nusantara (HIMANU)






