Jakarta, PBSN – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) program kesayangan Prabowo. Ente jangan coba-coba menghentikannya. Para jenderalnya siap pasang badan. Apa pun dipertaruhkan Prabowo, tak peduli ekonomi seret, utang berjibun, KDMP wajib berdiri. Saking sayangnya, utang KDMP akan dicicil oleh negara yang berasal dari pajak sampeyan.
Negara resmi mengubah koperasi jadi sinetron. Judulnya “Dari Harapan Jadi Cicilan Nasional.” Produsernya negara, penulis skenario entah siapa, dan eksekutornya? Ya itu, Purbaya Yudhi Sadewa dengan PMK 15/2026 yang kayak tombol “auto-debet massal se-Indonesia.” Menkeu yang selalu berkata “Tenang” di tengah krisis.
Awalnya manis. Koperasi Merah Putih digambarkan kayak Avengers-nya desa. Pinjam Rp3 miliar dari bank Himbara, bunga 6% flat selama enam tahun. Cicilan? Kata brosur, “Tenang, dibayar dari keuntungan usaha.” Semua tepuk tangan. Kepala desa senyum lebar, warga bayangin desa jadi mini Singapura. Spanduk terpasang, foto groundbreaking kayak mau bangun bandara internasional.
Lalu realita datang kayak mantan yang bawa undangan nikah. Gerai berdiri, gudang dibangun. Tapi isinya? Ada yang kosong kayak dompet tanggal tua, ada yang jadi parkiran mobil pikap impor, ada yang belum buka tapi sudah punya utang. Ini bukan bisnis gagal, ini kayak opening restoran tapi chef-nya belum lahir.
Di titik ini, negara masuk dengan jurus pamungkas. “Tenang, kami bantu… kami bayarin.” Plot twist! Negara jadi tukang cicil.
Mulai April 2026, cicilan itu dibayar pakai APBN. Alias uang kita semua. Mekanismenya halus banget. Dipotong lewat DAU, DBH, atau langsung dari Dana Desa. Kayak ninja, tapi bawa kalkulator.
Hasilnya? Pegang kursi dulu. Sebanyak 58% Dana Desa nasional, Rp 34,57 triliun dari Rp 60,57 triliun, lenyap buat nutup utang koperasi. Desa sekarang kebagian recehan Rp 300–400 juta setahun. Itu mau bangun apa? Jalan? Paling sampai gang tikus. Irigasi? Airnya keburu pensiun. Posyandu? Tunggu edisi reboot 2030.
Yang lebih gokil, aset gerai dan gudang jadi milik daerah atau desa. Kedengarannya keren, kan? Tapi yang bayar cicilan tetap kita semua. Ini kayak beli motor, tetangga yang pakai, satu RT yang nyicil. Gotong royong versi plot twist.
Netizen? Sudah ngamuk level Super Saiyan. Ada yang bilang ini bom waktu fiskal. Ada yang nyebut kebijakan ini kayak beli barang diskon tapi ternyata cicilannya 30 tahun. Bahkan, warga di Kediri, Lamongan, Cirebon, sampai Pati protes karena lahannya dipakai. Lapangan bola hilang, TK dibongkar. Anak-anak mungkin ke depan main bola pakai Google Maps.
Pusat? Santai kayak lagi ngopi. “Ini percepatan ekonomi desa,” katanya. Percepatan ke mana? Ke dimensi lain?
Masalahnya jelas. Ini program top-down, dipaksa, studi kelayakan entah di mana, moral hazard-nya setinggi Monas, dan rawan korupsi level “wow.” Otonomi desa yang dulu diperjuangkan mati-matian sekarang kayak anak kos, dipotong dulu sebelum dipakai.
Harusnya pemerintah jadi fasilitator. Ini malah jadi sutradara, produser, sekaligus cameo. Koperasi diperlakukan kayak BUMN mini yang disuruh sukses sebelum ngerti cara jualan.
Ironinya? Kita di kota bayar pajak, desa dipotong dananya, lalu uang itu dipakai buat gerai yang mungkin cuma jual mie instan dan minyak goreng. Petani tetap bingung jual hasil panen. Gudang ada, tapi kosong. Ini bukan rantai distribusi, ini rantai penderitaan.
Kalau begini terus, 2029 nanti kita bisa lihat APBN megap-megap bayar bunga cicilan puluhan triliun. Infrastruktur desa ambruk pelan-pelan. KDMP berdiri gagah sebagai monumen kegagalan, dicat merah putih biar tetap kelihatan heroik walau isinya zonk. Dipasang foto Prabowo membuat lebih wibawa.
Selamat datang di era, desa dibantu dengan cara dipotong, koperasi dikuatkan dengan cara dibebani, dan rakyat disuruh tersenyum sambil bayar pajak. Kalau masih bisa ketawa, itu keajaiban. Kalau sudah pengen lempar sandal ke arah angin, itu lebih masuk akal. Karena ini bukan komedi. Ini komedi… yang tagihannya dikirim ke kita semua.
“Di Kalbar kok tak ada ribut-ribut soal KDMP ya Bang?”
“Benar juga sih, wak. Saat ke kampung kemarin, kenapa tak jumpe satupun gerai KDMP. Nunggu pikap datang dulu kali ya.
Rosadi Jamani






