Meksiko, PBSN – Meksiko sedang membara. Bos narkoba tewas, negara dibuatnya was-was. Inilah wujud negara dikuasai kartel. Negara seperti tidak berdaya. Untungnya, itu tidak terjadi saat saya ke Jalisco, daerah tewasnya El Mencho. Simak narasinya sambil menunggu sahur.
Pada 24 Februari 2026 itu bukan tanggal biasa. Itu hari ketika nama panjang nan sangar, Nemesio Oseguera Cervantes, alias El Mencho, resmi tamat riwayatnya. Umur 59 tahun. Mantan polisi. Naik pangkat jadi raja fentanyl. Tewas ditembak dalam operasi militer di Tapalpa, Jalisco. Delapan anak buahnya ikut gugur di lokasi. Dia sendiri kritis, diangkut helikopter ke Mexico City, lalu wafat karena luka tembak parah. Pemerintah bilang, “kemenangan besar.” Rakyat? Siap-siap tiarap.
Karena begitu kabar kematian bos besar Cartel Jalisco New Generation (CJNG) menyebar, kartel itu tidak menggelar tahlilan. Mereka memilih festival api unggun nasional. Ratusan mobil dibakar. Jalan diblokir di lebih dari 20 negara bagian. Polisi dan National Guard diserang. Di Jalisco saja, 25 tentara tewas dalam enam serangan balasan. Total korban langsung dari operasi plus retaliasi minimal 62 jiwa dalam dua hari. Bandara kacau. Turis Amerika terjebak di Puerto Vallarta seperti karakter game survival yang lupa beli cheat code.
Ironisnya, El Mencho ini dulu aparat. Dari polisi jadi pemasok fentanyl ke Amerika Serikat sampai ratusan ribu orang overdosis tiap tahun. Pemerintah AS pasang hadiah 15 juta dolar untuk kepalanya. Namun yang menghabisi justru tentara Meksiko, dibantu intelijen AS. Begitu dia mati, CJNG tidak bubar. Mereka justru naik level jadi “dewa ngamuk.” Sekolah tutup. Penerbangan dibatalkan. Pemerintah asing memperingatkan warganya untuk stay inside. Al Jazeera menyebutnya “overwhelming fear.” Tentu saja. Siapa yang tidak takut kalau dalam semalam kota bisa berubah jadi kota mati?
Sejarahnya memang seperti sinetron tanpa episode terakhir. Tahun 1980-an, Meksiko cuma “jalan tol” kokain dari Kolombia. Lalu Miguel Ángel Félix Gallardo membagi wilayah, lahirlah Guadalajara Cartel, pecah jadi Sinaloa, Tijuana, Juárez. Tahun 2006, Presiden Felipe Calderón mendeklarasikan perang narkoba. Strateginya, kingpin strategy, tangkap atau bunuh bos, kartel runtuh. Kenyataannya? Kartel malah pecah jadi lebih banyak, lebih brutal, lebih militeristik. CJNG lahir 2010 dari sisa Milenio Cartel. El Mencho mengubahnya jadi mesin tempur: drone bom, IED, kendaraan lapis baja rakitan, rekrut desertir tentara. Bisnisnya bukan cuma narkoba. Mereka memeras, mencuri minyak, menguasai avokad dan jeruk nipis, bahkan mengatur migrasi manusia. Permintaan AS plus korupsi Meksiko? Resep Frankenstein edisi kartel.
Data bikin perut mual. Sejak 2006, korban tewas akibat kekerasan terkait kartel mencapai 350.000–400.000 lebih. Hilang tanpa jejak 115.000–130.000 orang. Ditemukan 5.700 lebih kuburan massal rahasia. Sekitar 72.000 jenazah belum teridentifikasi menumpuk di fasilitas forensik. Rata-rata 30.000 lebih orang tewas tiap tahun, puncaknya 33.000 lebih pada 2018. Tahun 2025 turun sekitar 23.000-an, atau 17,5 per 100.000 penduduk, terendah hampir satu dekade, berkat operasi pemerintahan Sheinbaum dan ekstradisi 29 lebih bos ke AS. Namun Januari 2026 saja sudah 1.518 pembunuhan terkait kartel. Lalu El Mencho mati, dua hari kemudian puluhan orang lagi menyusul. Semua demi white powder dan pil biru yang laris untuk pesta.
Kartel menguasai sekitar sepertiga wilayah Meksiko. Impunitas 95 persen. Banyak aparat memilih plata dari plomo. Senjata mereka? RPG, drone, kendaraan lapis baja improvisasi. Di kubu lain, Sinaloa sedang perang saudara antara Los Chapitos dan Mayitos. Selain dua raksasa, ada Gulf Cartel yang terpecah, sisa-sisa Zetas (Cártel del Noreste), La Familia Michoacana, Tijuana, Juárez, puluhan kelompok besar dan ratusan geng lokal. Di Mexico City saja ada 28 kartel mini. Estimasi 2023 menyebut total anggota kartel sekitar 185.000 orang. Itu “perusahaan” terbesar kelima di negara tersebut.
Jadi, selamat datang di Meksiko 2026. Bos mati disebut kemenangan. Besoknya puluhan orang ikut mati sebagai balasan. Kartel bukan lilin yang padam sekali tiup. Mereka seperti hydra. Potong satu kepala, tumbuh dua lagi, lengkap dengan senyum sadis dan drone bom. Ini bukan film. Ini realitas. Endingnya belum kelihatan. Kalau mau liburan, mungkin pikir-pikir dulu. Kecuali memang ingin jadi figuran di season terbaru perang narkoba paling absurd sedunia.
Rosadi Jamani






