Caracas, PBSN – Masih cerita Amerika yang seenak udelnya menangkap Madura, eh salah, Maduro. Masih ingat ketika Trump menyerang instalasi nuklir Iran, sangat presisi. Tak ada perlawanan. Saat menangkap Maduro, Amerika menjalankan Operasi Absolute Resolve. Hanya 60 menit, Maduro sudah pindah ke kapal induk Amerika. Tentara Venezuela hanya planga-plongo. Luar biasa.
Pukul 02.00 dini hari, Caracas masih setengah terlelap. Para penjaga mungkin baru menyesap Koptagul. Tiba-tiba Venezuela mendadak berubah jadi ponsel jadul. Layar hitam, sinyal nol, panik maksimal. Dalam hitungan menit listrik nasional lumpuh. Radar bisu. Lomunikasi militer terputus. Kurang dari tiga jam kemudian, Nicolas Maduro dan istrinya tak lagi berada di Istana Miraflores, melainkan sudah jadi “penumpang VIP” helikopter Amerika, lengkap dengan borgol edisi khusus. Washington menyebutnya operasi bersih, presisi, tanpa korban sipil. Bersih seperti iklan deterjen, presisi seperti jam Swiss, dan tentu saja bermoral versi Pentagon.
Namun adegan menegangkan itu hanyalah klimaks. Prolognya dimulai jauh sebelumnya, pertengahan Agustus 2025, di ruang sunyi CIA dan NSA yang dinginnya bukan karena AC, tapi karena rahasia. Di sana, para arsitek intelijen mulai menanam benih konspirasi. Melalui operasi perekrutan senyap, beberapa orang dekat Maduro, termasuk perwira, berpindah haluan. Dari merekalah setiap sudut Miraflores dipreteli. Denah, pintu baja, bunker, hingga jam biologis sang presiden. Ceritanya makin liar ketika cip nano implan diselipkan ke barang yang dikenakan Maduro dan istrinya. Sejak itu, setiap langkah, napas, bahkan detak jantung mereka dipantau real time oleh mata-mata di langit yang tak pernah berkedip.
Di orbit rendah, satelit Space Foros bekerja lembur bersama drone siluman RQ-180, memetakan Caracas 24 jam tanpa jeda. Data raksasa ini digiling Palantir, dianalisis NSA, dan disajikan seperti laporan cuaca. Kapan Miraflores jadi kantor, kapan berubah jadi bunker. Demi nol kesalahan, Amerika membangun replika kediaman Maduro skala 1:1, lengkap dengan bunker dan pintu besi. Di situlah Delta Force berlatih ratusan kali, membuka pintu, melumpuhkan target, dan mengevakuasi secepat iklan yang tak sempat di-skip.
Tepat pukul 02.00, perang dimulai tanpa suara tembakan. Komando siber Amerika meluncurkan serangan digital yang disebut-sebut lebih ganas dari Stuxnet, melumpuhkan jaringan listrik Venezuela dan membuat radar S-300 buatan Rusia terlihat seperti mainan rusak. Lebih dari 150 pesawat dan helikopter, ditambah puluhan drone, menyebar kabut elektronik yang memutus radio dan GPS militer. Dalam kebisuan total itu, F-35 Lightning dari USS Gerald Ford meluncur rendah tanpa terdeteksi. Rudal hipersonik AGM-183A dan bom JDAM menghantam pusat komando di Verteuna serta landasan pacu La Carola, hancur, tapi rapi, karena bahkan kehancuran pun harus estetis.
Ledakan itu menjadi aba-aba. Dua puluh hingga tiga puluh operator Delta Force turun dari Black Hawk yang dimodifikasi jadi hantu udara. Mereka tidak masuk lewat pintu depan seperti tamu sopan, melainkan melalui terowongan rahasia yang sudah dipetakan satelit. Perlawanan nyaris nol. Pintu besi justru terbuka dari dalam oleh aset yang sudah dibeli. Maduro dan Cilia terbangun bukan oleh dobrakan, melainkan dinginnya moncong senjata di dahi. Kurang dari sepuluh menit, kekuasaan bertahun-tahun berubah jadi borgol.
Ekstraksi berjalan mulus. Helikopter membawa mereka ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima. Beberapa jam kemudian, Donald Trump memposting foto Maduro diborgol dan bermata tertutup di atas kapal, seperti piala politik. Dari sana, mereka diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan narkoterorisme, konspirasi impor kokain, dan penyelundupan senjata.
Dunia gemetar. Kremlin mengecam, Beijing berhitung dingin. Mengapa Rusia dan Cina tak berbuat apa-apa? Karena mereka tuli dan buta. Perang elektronik Amerika menutup pos pemantauan dan memutus jalur aman. Ditambah kecepatan eksekusi kurang dari 60 menit, terciptalah fait accompli. Saat para jenderal sadar, Maduro sudah di kapal. Kita semua, para pengopi kelas berat hanya bisa menonton sambil bertanya, jika ini bisa terjadi pada Venezuela, who is the next? Indoensia jelas tidak mungkin.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani ( Jurnalis)












