Jakarta, PBSN Indonesia –‘Ada masa ketika orang merasa bisa menyembunyikan apa saja. Uang yang diperoleh dengan cara curang, kekuasaan yang digunakan untuk menindas, bahkan keserakahan yang dibungkus dengan bahasa pengabdian.
Namun, mereka lupa, bahwa cepat atau lambat karma itu pada saatnya tiba. Kemampuan menyembunyikan perbuatan buruk itu ternyata ada masa kadaluarsanya.
Di 2026, sejumlah perkara besar yang mencuat mengingatkan kita bahwa sesuatu yang lama tertutup dapat kembali terbuka.
Tahun ini dan tahun-tahun sesudahnya patut menjadi momentum yang kita renungkan sebagai masa panen karma. Yaitu, saat manusia berhadapan dengan akibat dari benih yang pernah ditaburkannya.
Sebutan itu bukan ramalan tentang jadwal pembalasan Tuhan. Tidak ada dalil yang menetapkan 2026 sebagai tahun khusus penghukuman. Tapi tidak salah juga untuk membaca tahun 2026 sampai seterusnya akan menjadi tahun “gerak alam” yang membuka kedok semua kebusukan.
Mungkin, ia adalah peringatan moral. Jangan mengira perbuatan kehilangan akibat hanya karena pelakunya berhasil menyembunyikannya. Jangan menyamakan penundaan pertanggungjawaban dengan penghapusan kesalahan.
Dalam ajaran Hindu, dikenal karmaphala. Karma berarti perbuatan, sedangkan phala berarti buah atau hasil. Pikiran, perkataan, dan tindakan memiliki konsekuensi moral.
Karma, dengan demikian, juga mencakup buah kebaikan; bukan semata-mata sebutan untuk kesialan.
Kearifan leluhur mengungkapkan pesan serupa melalui ungkapan Jawa, sapa nandur bakal ngunduh. Siapa menanam akan menuai.
Manusia diajak berhati-hati terhadap benih yang ditanamnya sendiri. Sebab, sesuatu yang hari ini terasa menguntungkan belum tentu membawa keselamatan pada akhirnya.
Dalam Islam, istilah yang lebih tepat ialah balasan amal, pertanggungjawaban, dan keadilan Allah. Konsep ini tidak identik dengan seluruh ajaran karma dalam agama lain, tetapi memiliki pertemuan pesan etis. Bahwa perbuatan manusia tidak luput dari pengetahuan dan perhitungan Tuhan.
Surah Az-Zalzalah ayat 7–8 menegaskan bahwa siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya, dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun akan melihat balasannya. Yang kecil saja diperhitungkan, apalagi kezaliman yang merampas hak banyak orang.
Di sinilah justru Tuhan menunjukan keadilannya, bahwa tidak ada hak yang luput dari perhitungan-Nya. Namun, keadilan itu tidak harus seluruhnya selesai di dunia. Dalam iman Islam, pertanggungjawaban akan diminta di akhirat.
Karena itu, ketika orang yang berbuat zalim masih terlihat makmur, kita tidak berhak menyimpulkan bahwa Tuhan membenarkan kezaliman tersebut.
Nabi Muhammad, dalam hadis riwayat Bukhari nomor 4686, menjelaskan bahwa Allah memberi tenggang kepada orang zalim, tetapi ketika hukuman-Nya datang, orang itu tidak dapat melepaskan diri. Pesannya jelas: kesempatan yang panjang jangan disalahartikan sebagai jaminan kebal.
Kita memang perlu jernih membedakan keyakinan agama dan pembuktian ilmiah. Ilmu pengetahuan dapat meneliti sebab-akibat yang terukur, kerusakan lingkungan, jejak transaksi, atau dampak penyalahgunaan kekuasaan. Tetapi, ia tidak dapat memastikan bahwa perkara yang menimpa seseorang merupakan hukuman langsung dari Tuhan.
Perkara mantan Jampidsus Febrie Adriansyah memberi bahan renungan yang kuat. Bagaimana seorang pejabat yang pernah berada di pusat pemberantasan korupsi justru menghadapi tuduhan korupsi? Inikah karma atas kebusukan yang ia sembunyikannya selama ini dengan tameng pejabat pemberantas korupsi?
Contoh lain ialah mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Meski belum divonis bersalah, ia sudah menjadi tersangka KPK pada 9 Januari 2026. Kasus ini cukup memberi pesan moral bahwa jabatan yang sarat dengan label agama itu ternyata tidak ampuh menutup kebusukan yang terjadi di kementerian agama jika karma itu pada saatnya tiba.
Kasus yang beraroma moral juga sedang terjadi di lingkungan keluarga besar Nahdatul Ulama buntut dari pelaksanaan Muktamar NU ke 35 di Jombang Jawa Timur.
Sejumlah tokoh NU yang hadir sebagai peserta di Muktamar tersebut ramai disebut-sebut menerima risywah atau suap. Bahkan, sudah ada salah satu DPC NU yang melaporkan kasus suap ini ke KPK.
Meskipun kita belum bisa memvonis apakah suap itu benar-benar terjadi, namun, kita boleh membayangkan jika suap itu benar terjadi. Disitu, ada nama besar NU, pesantren, ustad dan kiai yang semuanya simbol moral.
Panen karma juga berlangsung dalam hubungan manusia dengan alam. Hutan dibuka tanpa kendali, lereng dikeruk, sungai dibebani sedimentasi, dan gambut dikeringkan. Keuntungan dapat dinikmati hari ini, sementara biaya kerusakannya datang bertahun-tahun kemudian.
Marilah menabur kebaikan agar karma yang kita terima juga berupa kebaikan. Mari kita tebarkan kasih sayang, rawat kepedulian, dan jauhkan diri dari keserakahan serta kezaliman agar karma yang kita terima bukan keburukan dan kejahatan.
Jangan menunggu aib terbuka untuk berlaku jujur; jangan menunggu bencana datang untuk mencintai bumi. Kita dapat menyembunyikan perbuatan dari pandangan manusia, tetapi tidak dari pengetahuan Tuhan.
Oleh : Toto Izul Fatah | Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA






