Koalisi Pragmatis dan Rusaknya Demokrasi

Opini, Politik, Sosial385 Views

Jakarta, PBSN – Demokrasi Indonesia belakangan tampak seperti panggung teater keliling yang selalu ramai, tetapi jarang menghadirkan cerita baru. Partai-partai duduk rapi di barisan depan, bukan untuk mengkritik pertunjukan, melainkan agar terlihat dekat dengan aktor utama. Koalisi pragmatis hadir sebagai jalan pintas menuju kekuasaan, seperti lift khusus yang hanya bisa dipakai mereka yang tahu tombol rahasia. Ideologi pelan-pelan dilipat, dimasukkan ke laci, lalu kuncinya entah dibuang ke mana.

Partai seakan berbisik satu sama lain, “Untuk apa repot membina kader kalau kita bisa menumpang pada figur yang sudah laris di pasaran?” Politik pun berubah menjadi pasar malam, tempat popularitas lebih mahal daripada gagasan. Menang lebih dulu menjadi tujuan, sementara prinsip cukup dijadikan hiasan pidato. Kader potensial akhirnya hanya berfungsi sebagai penonton internal yang tepuk tangannya diwajibkan.

Regenerasi kepemimpinan lalu terdengar seperti legenda lama yang diceritakan menjelang tidur. Semua orang pernah mendengarnya, tetapi tak ada yang benar-benar melihatnya terjadi. Figur tunggal menjelma matahari politik, dan partai-partai rela menjadi planet yang terus mengorbit. Pemilih tetap diajak percaya bahwa mereka pusat tata surya, meski gravitasi sudah ditentukan dari awal.

Koalisi pragmatis juga menumbuhkan patronase yang nyaris tak lagi malu-malu. Dukungan politik ditukar dengan kursi strategis, proyek, dan akses yang konon demi stabilitas negara. Kue kekuasaan dibagi sebelum rakyat sempat mencium aromanya. Demokrasi pun terasa seperti pesta ulang tahun di mana undangan boleh datang, tetapi menu sudah habis dipesan lebih dulu.

Pemilu akhirnya menyerupai pertandingan persahabatan: seragam berbeda, tetapi strategi sama—jangan sampai ada kejutan. Akuntabilitas kalah oleh semboyan sederhana, “yang penting ikut pemenang.” Elite tampak menikmati jamuan di ruang tertutup, sementara rakyat berdiri di luar, mencoba menebak rasa hidangan dari baunya saja. Transparansi berubah menjadi kaca buram yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang punya akses.

Dukungan dini kepada figur tertentu menciptakan ilusi bahwa pertarungan telah selesai sebelum peluit dibunyikan. Secara psikologis, publik diarahkan untuk percaya bahwa melawan arus hanya akan berujung sia-sia. Partai yang mungkin ingin berbeda mendadak terlihat seperti tamu tak diundang. Demokrasi internal melemah, dan keberanian politik diganti dengan kalkulator elektoral.

Program partai pun sering terdengar seperti latihan membaca naskah tanpa niat mementaskannya. Arah kebijakan mengikuti figur kuat, bukan hasil pergulatan ide. Partai kehilangan kemandirian dan perlahan berubah menjadi kendaraan sewaan dengan sopir yang sudah ditentukan penumpangnya. Rakyat kembali duduk di kursi penonton, kali ini tanpa tahu siapa sebenarnya sutradara cerita.

Satirnya, politik kita kadang menyerupai liga olahraga di mana semua tim sepakat memakai jersey kapten lawan. Mereka tetap masuk lapangan, tetapi lebih sibuk berfoto bersama daripada bertanding. Kompetisi menjadi kosmetik demokrasi—indah dilihat, minim makna. Pemilu berubah menjadi parade simbol, bukan adu gagasan.

Secara akademik, situasi ini mencerminkan jarak yang melebar antara teori demokrasi dan praktiknya. Kompetisi ideologis, partisipasi publik, dan kontrol kekuasaan terdengar megah di buku teks, tetapi sering mengecil di ruang negosiasi politik. Partai menjadi penumpang yang menikmati perjalanan, sementara navigatornya hanya satu dua orang. Demokrasi akhirnya tampak seperti peta besar yang detailnya sengaja dikaburkan.

Ketika mayoritas elite berkumpul dalam satu barisan, kontrol publik ikut menipis. Pemilih dibuat pasif oleh narasi stabilitas dan persatuan, seolah perbedaan adalah ancaman. Dalam jangka panjang, kepercayaan publik bisa tergerus, digantikan rasa sinis yang berbahaya bagi republik mana pun. Ironisnya, demokrasi berubah menjadi taman eksklusif—rapi, terawat, tetapi berpagar tinggi.

Jika dukungan telah dikunci jauh sebelum kontestasi dimulai, pemilu berisiko menjadi ritual legitimasi yang mahal. Rakyat tetap datang ke TPS dengan jari siap bertinta, sementara arah angin mungkin sudah disepakati di ruang berpendingin udara. Prosedur berjalan sempurna, tetapi ketidakpastian—roh dari demokrasi—perlahan menghilang. Maka tersisa satu tanya satir yang menggantung: kita sedang memilih masa depan, atau sekadar mengesahkan skenario yang telah ditulis tanpa melibatkan kita?

Irsyad (Satu Pena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *