Jakarta. PBSN – Cerita kemiskinan tak ada habisnya di negeri ini. Kalau tak naik, ya turun. Kalau tak miskin ya jadi kaya. Terbaru, Prabowo mengumumkan angka kemiskinan turun. Hebat. Tapi, dompet atau rekening 31 juta nasabah malah diblokir. Mari kita ungkap anomali ini sambil seruput kopi tanpa gula agar tetap encer dah waras.
Statistik terbaru dari BPS menampilkan kabar gembira, kemiskinan nasional turun dari 8,57% menjadi 8,47%. Artinya… apa, ya? Apakah rakyat Indonesia kini sudah bisa makan tiga kali plus ngemil? Apakah para buruh kini bisa liburan ke Bali tanpa kredit? Apakah warga di desa sudah pakai smartwatch untuk ngukur kadar garam di sambel?
Eits, jangan terlalu bahagia. Karena di waktu yang (sangat) bersamaan, 31 juta rekening bank rakyat diblokir. Iya, tiga puluh satu juta. Jumlah yang kalau dibentuk jadi barisan, bisa melingkari Pulau Jawa sambil pegang KTP dan wajah panik. Sambil BPS bilang kemiskinan turun, sistem keuangan kita justru naik tensi, memblokir rekening karena data tak lengkap. Ente miskin iya, tapi tetap harus punya e-KYC, NIK, NPWP, dan mungkin surat dari kepala desa yang mengonfirmasi bahwa nuan tak punya niat jahat menyimpan uang Rp 100 ribu di tabungan.
Ironis, bukan? Di satu sisi, rakyat dikabarkan keluar dari kemiskinan, bahkan katanya ada 1,4 juta orang yang naik kelas. Tapi di sisi lain, akses keuangan mereka dicabut tiba-tiba, seperti sandiwara negara yang lupa memberi naskah pada figuran. Bisa jadi, sebagian dari yang ‘lolos’ dari kemiskinan itu bukan karena pendapatan mereka naik, tapi karena tabungannya sudah dibekukan, jadi tidak dihitung lagi dalam sistem!
Jangan kira yang keluar dari kemiskinan langsung jadi crazy rich. Kebanyakan dari mereka hanya berhasil menyentuh garis kemiskinan dengan ujung kuku, lalu berdiri di sana sambil berdoa angin tidak bertiup kencang. Satu musibah, satu cicilan gagal, atau satu motor dijual, dan mereka jatuh lagi, langsung masuk statistik berikutnya.
Sementara itu, angka kemiskinan di kota justru naik. Dari 6,66% ke 6,73%. Kota kini jadi neraka ekonomi. Harga cabai kayak barang antik, minyak goreng kayak aset digital, dan bekerja keras bukan jaminan kenyang, cuma jaminan pegal dan stres.
Di desa? Ah, desa tetap tenang. Kemiskinan turun dari 11,34% ke 11,03%. Kenapa bisa begitu? Karena petani masih bisa makan hasil kebun. Karena mereka belum punya rekening bank yang bisa diblokir tanpa aba-aba.
Tapi jangan lupakan aroma politik yang menyelinap. Selalu ada bisik-bisik halus, katanya, “Jangan buru-buru hilangkan kemiskinan, nanti hilang bahan kampanye.”
Karena selama rakyat lapar, janji sembako bisa jadi sihir. Selama rekening rakyat diblokir, mereka jadi lebih patuh, bukan karena cinta, tapi karena tak punya pilihan.
Inilah realitas absurd kita hari ini. Kemiskinan katanya turun, tapi uang rakyat dibekukan, dan nasib tetap digantung di ujung kebijakan. Kalau ini bukan parodi bangsa, mungkin ini sinetron yang terlalu panjang dan tidak tahu kapan tamat.
Tapi kita tetap bertahan. Tetap tersenyum. Karena meski miskin dan rekening diblokir, kita masih punya satu hal yang tak bisa diambil negara, kemampuan menertawakan penderitaan sendiri.
Di negeri angka bicara tapi perut tetap lapar, kemiskinan turun, tapi rekening disambar, rakyat berdiri di garis tipis antara harap dan getir, tersenyum di statistik, menangis di kasir.
Bukan kaya yang diraih, cuma status baru, “nyaris miskin”, dan bila suara dibutuhkan, sembako jadi umpan manis nan licin. Namun di balik satire yang mengalir dan tawa yang getir,
tersimpan pesan, jangan biarkan rakyat disetir angka, karena hidup sejati tak bisa dihitung dari grafik dan kata-kata.
“Di Kalbar infonya jumlah penduduk miskin per Maret 2025 tercatat 330,95 ribu jiwa, mengalami penurunan sekitar 30 ribu jiwa dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Artinye, 30 ribu jiwa itu dah jadi orang kaya. Tul ndak, Bang?”
“Kalau tak miskin kaya. Berarti si Joni yang suka ngebon di warkop udah jadi kaya tu.” Ups
Rosadi Jamani






