Amsterdam, PBSN – Saya ingin my followers jago soal geopolitik dunia juga. Taklah jago kandang saja. Kali ini, saya mengajak kalian ke negeri Belanda. Duh, jadi ingat ke Red Light (cuma jalan-jalan ya). Di negeri kincir angin ini, terjadi dua demo besar. Satu anti-imigrasi, dan satunya lagi Pro Palestina. Mari simak narasinya sambil menikmati nescafe satu sachet gula, wak!
Ada dua macam demo di Den Haag. Pertama, demo sayap kanan anti-imigrasi, penuh gas air mata, batu beterbangan, meriam air, dan mobil polisi gosong seperti ayam bakar. Kedua, demo pro-Palestina, lautan manusia merah membentang, simbol moralitas global yang tak terbantahkan. Dua wajah, satu kota. Yang satu berisik ingin mengusir pengungsi, yang lain berteriak lantang menolak genosida.
Mari kita mulai dari yang pertama. Ada 1.500 manusia plus-minus (tapi minus logika) tumpah ruah menolak imigran. Mereka melempari polisi dengan batu, botol, bahkan mungkin sisa roti basi sarapan. Mobil polisi dibakar, kantor partai D66 dirusak. Perdana Menteri Dick Schoof menyebut aksi itu “mengejutkan, aneh, dan tak tahu malu”persis seperti pesta ulang tahun anak tetangga yang pakai badut menyeramkan. Lalu, Geert Wilders? Sang raja rambut pirang itu memilih tidak hadir, tapi tetap sempat memberi kuliah moral, “Kekerasan itu perbuatan bodoh.” Ironi tingkat dewa, sang penyulut api marah pada percikan api.
Sekarang kita geser kamera ke Minggu, 18 September 2025. Lebih dari 100.000 orang memenuhi Den Haag dengan pakaian merah. Bukan karena diskon baju lebaran, tapi karena simbol “garis merah untuk Gaza.” Ini bukan demo ecek-ecek. Ini demonstrasi terbesar di Belanda dalam 20 tahun terakhir. Malieveld berubah jadi karpet merah, bukan untuk selebriti Hollywood, tapi untuk Palestina yang dijadikan tamu kehormatan dalam panggung solidaritas global.
Aksi ini bukan sekadar teriak-teriak. Mereka melewati Istana Perdamaian, tempat para hakim internasional sibuk menulis putusan yang biasanya dibaca dua dekade setelah tragedi usai. Poster-poster bertuliskan “STOP”, “Hentikan Genosida”, hingga “Belanda Jangan Jadi Kaki Tangan Pembantaian” beterbangan seperti undangan nikah massal. Gugatan hukum pun sudah diajukan. Belanda dituduh melanggar Konvensi Genosida karena ekspor suku cadang jet F-35 ke Israel. Kalau nanti jet-jet itu menjatuhkan bom, jangan pura-pura bilang, “Kami cuma kirim spare part, bukan peluru.”
Lalu ada suara rakyat biasa, Roos Lingbeek, guru dengan bayi 12 minggu, datang sambil berharap pemerintah sadar bahwa nyawa manusia bukan angka di spreadsheet anggaran. David Prins berdiri di depan sinagoge masa kecilnya dan berkata, “Ini tentang nyawa, bukan politik.” Ah, lihatlah, filosofi yang keluar dari hati lebih tajam dari pidato perdana menteri manapun.
Jangan lupa, wak! Semua ini terjadi setelah Sidang Umum PBB mengesahkan Deklarasi New York, 142 negara mendukung solusi dua negara, termasuk Indonesia. Tapi Amerika Serikat dan Israel menolak, dengan alasan “gesture kosong.” Lucunya, yang benar-benar kosong adalah empati. Perdana Menteri Israel bahkan menyatakan, “Tidak akan ada negara Palestina.” Pernyataan setara dengan bilang “Tidak ada oksigen di bumi.” Sayangnya, ribuan warga Gaza sudah mati karena ucapan semacam itu berubah jadi kebijakan nyata.
So, di Den Haag kita melihat dua cermin. Cermin pertama, wajah keruh Eropa yang panik melihat imigran, takut kehilangan sofa nyaman dan pajak stabil. Cermin kedua, wajah manusia universal, merah menyala, berteriak demi Palestina. Kalau filsafat mau jujur, hanya ada satu pihak yang sedang benar-benar memperjuangkan kemerdekaan, bukan yang membakar mobil polisi, tapi yang membakar nurani dunia.
Maka, wahai Belanda dan dunia, berhentilah pura-pura netral. Gas air mata kalian hanya membuat mata perih sebentar, tapi genosida membuat sejarah perih selamanya. Palestina bukan isu jauh di Timur Tengah, ia adalah ujian moral kita semua. Jika gagal, jangan salahkan anak cucu nanti yang menyebut kita “generasi pengecut berotak suku cadang F-35.”
Foto Ai, hanya ilustrasi.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar






