Jakarta, PBSN – Saya hampir tak percaya, Timnas U17 bisa kalahkan tim kuat Asia, Uzbekistan 2-0, tadi malam. Benaran? Ternyata benar, wak. Luar biasa pasukan Nova Arianto. Mari simak ulasannya sambil seruput kopi dengan gula aren, wak!
Malam tadi, di atas padang hijau yang jadi gelanggang laga, Garuda Muda tidak sekadar bermain bola. Mereka seperti pasukan pendekar yang baru keluar dari goa latihan, membawa jurus baru hasil gemblengan Suhu Nova Arianto. Dialah sang pelatih kepala, titisan Shin Tae Young. Ia tenang, berwibawa, tapi sekali mengeluarkan jurus bisa bikin lawan tercengang. Di seberang sana berdiri pula Islombek Ismoilov, pelatih Uzbekistan U-17 yang masih muda, baru 32 tahun, tapi konon sudah bergelar “Pendekar Juara Asia”. Pertarungan malam itu terasa bukan sekadar laga uji coba, tapi seperti duel kitab pusaka yang menentukan siapa lebih pantas disebut raja muda Asia.
Ketika menit ke-17 tiba, jurus pertama dilepaskan. Dimas Adi Prasetyo menari-nari di kotak penalti. Bek Uzbekistan mencoba kuda-kuda, kiper mereka menyalakan jurus “Tembok Baja Stepa”, tapi semua runtuh hanya karena satu gerakan tipuan ala “Lutung Mabuk” yang membingungkan. Bola diceploskan, jala bergetar, stadion mendadak seperti pecah, dan Nova Arianto hanya mengangkat tangan tenang di pinggir lapangan, persis pendekar tua yang tahu muridnya baru saja lulus ujian kenaikan tingkat.
Lalu menit ke-68, giliran Muhammad Al Gazani melayang. Dari sepak pojok, bola terbang seperti kitab rahasia yang dilemparkan ke udara. Semua orang berloncatan, tapi hanya Gazani yang bisa menjangkau dengan jurus “Tanduk Seribu Banteng”. Sundulannya bukan sekadar sundulan. Itu adalah deklarasi bahwa Garuda Muda bisa menaklukkan siapa saja, bahkan sang juara Asia. Islombek Ismoilov di bench Uzbekistan hanya bisa menatap kosong, seperti pendekar muda yang baru sadar jurus pamungkasnya ternyata sudah dibaca duluan oleh lawan.
Di sela hiruk pikuk itu, jangan lupa ada I Putu Panji dengan penyelamatan di garis gawang. Kalau ini cerita silat, dia adalah murid yang tugasnya menjaga gerbang perguruan. Tendangan maut lawan sudah mengarah masuk, tapi Panji mengibaskan kakinya bagai “Pedang Bayangan”, menahan bola tepat di garis. Lalu ada Dafa Al Gasemi, sang kiper, berdiri tegak bak biksu penjaga kuil, berkata dalam diam, “Bola boleh lewat, tapi harga diri bangsa ini jangan.”
Inilah sepakbola. Inilah filsafatnya. Uzbekistan adalah bangsa yang baru saja mencicipi Piala Dunia senior, dan malam itu Indonesia U-17 membuat mereka tersungkur. Seakan-akan semesta sedang ingin berkata: “Hei, bangsa dengan 17 ribu pulau ini jangan diremehkan, karena anak-anak belasan tahun saja bisa menumbangkan raksasa Asia.”
Bayangkan, wak! Di saat yang sama jauh di Alaska, Donald Trump dan Vladimir Putin sedang berunding. Mereka mungkin bicara soal Ukraina, minyak, soal nuklir, atau sekadar membahas siapa lebih macho. Tapi saya yakin, salah satu asistennya tiba-tiba menyodorkan layar kecil, “Tuan, Garuda Muda baru saja mengalahkan Uzbekistan 2-0.” Trump dengan gaya khasnya mungkin akan berkata, “Tremendous! Indonesia is the future!” Sementara Putin menghela napas panjang, “Nyet… bahkan pasukan saya belum tentu bisa menahan sundulan Al Gazani.”
Begitulah, sepakbola memang bukan sekadar permainan 2×45 menit. Ia adalah epos, dongeng, kitab suci nasionalisme yang ditulis dengan keringat bocah belasan tahun. Malam itu, Garuda Muda menorehkan bab baru. Bangsa ini, termasuk ente yang baca, masih punya harapan, masih punya nyali, dan masih bisa bermimpi besar. Kalaupun dunia tak percaya, biarlah, sebab kita punya jurus sendiri, jurus cinta tanah air, jurus semangat tanpa habis, jurus Garuda yang selalu ingin terbang lebih tinggi.
Dengan hasil ini, Timnas nyaman berada di posisi kedua, di bawah Mali. Hasil sekali menang dan seri, nilai empat. Sebelumnya, Timnas ditahan imbang Tajikistan 2-2. Lawan terakhir, raksasa Afrika, Mali. Ini bakalan lebih seru lagi.
Rosadi Jamani











