New Jersey, PBSN – Tulisan ini agak panjang, skip saja kalau tak biasa membaca. Berisi catatan dari sebuah perhelatan olahraga terbesar di planet ini, Piala Dunia 2026.
Piala Dunia 2026 selesai. Spanyol mengangkat trofi setelah menyayat mimpi Argentina lewat gol Ferran Torres di babak tambahan waktu. Dunia langsung sibuk menghitung gelar, statistik, dan berdebat siapa GOAT. Padahal, itu semua cuma trailer. Film utamanya tidak pernah ditayangkan televisi. Kamera terlalu sibuk mengejar bola sampai lupa merekam siapa yang sebenarnya sedang bertanding.
Selama ini kita mengira sepak bola adalah 22 orang mengejar bola selama 90 menit. Salah besar. Itu sama seperti mengira pernikahan cuma acara makan siang gratis. Yang dikejar bukan bola, melainkan uang, kekuasaan, pengaruh, identitas, agama, algoritma, dan ego manusia yang ukurannya lebih besar daripada Stadion MetLife. Bola cuma figuran. Pemeran utamanya adalah keserakahan manusia yang kebetulan memakai sepatu bola.
Lihat saja FIFA. Organisasi ini kelihatannya mengurus offside. Padahal, diam-diam sedang mengelola salah satu mesin pencetak uang paling sakti di planet bumi. Piala Dunia 2026 diperkirakan menyumbang USD40,9 miliar terhadap ekonomi global. Ia menciptakan lebih dari 824 ribu pekerjaan. Sementara FIFA sendiri diproyeksikan mengantongi sekitar USD11 miliar. Angkanya begitu besar sampai kalkulator pun minta cuti. Tetapi para ekonom datang membawa ember berisi air dingin. Mereka bilang dampaknya terhadap ekonomi Amerika Serikat tidak sampai 0,1 persen PDB. Jadi begini, pesta berlangsung seminggu, euforianya sebulan, cicilan stadionnya bisa seumur hidup. Brasil sudah pernah merasakannya. Qatar juga mulai paham. Rupanya stadion bisa berubah menjadi museum beton paling mahal di dunia kalau penontonnya cuma burung gereja.
Lalu muncullah slogan penyelamat bumi. Semua bicara hijau, ramah lingkungan, dan masa depan planet. Kedengarannya seperti seminar pecinta alam. Kenyataannya, industri sepak bola menghasilkan sekitar 66 juta ton emisi CO2 setiap tahun. FIFA malah membuat turnamen di tiga negara. Tahun 2030 lebih nekat lagi, tiga benua. Ini seperti orang kampanye hemat bensin sambil keliling dunia naik helikopter. Aktivis lingkungan sampai tepuk jidat ketika perusahaan minyak menjadi sponsor utama. Bumi mungkin ikut menonton Piala Dunia sambil minum obat sakit kepala. Untung Jepang masih waras. Mereka sudah menyusun Visi 100 Tahun Sepak Bola sejak 1991 dengan target juara dunia pada 2092. Di tempat lain orang baru merancang formasi besok sore, Jepang sudah memikirkan cucu cicit bek kiri yang bahkan belum lahir.
Masuk ke urusan agama, pertandingan berubah menjadi seminar identitas terbesar di dunia. Ada pemain sujud setelah mencetak gol. Ada memakai pesan religius lalu terancam sanksi. Di Indonesia, gema takbir mengguncang stadion. Di Eropa, ekspresi keagamaan bisa menjadi perdebatan nasional. Bola beratnya tidak sampai setengah kilogram tiba-tiba memikul beban diskusi teologi sedunia. Untung Quraish Shihab mengingatkan, Arab Saudi mengalahkan Argentina bukan karena malaikat turun menjadi gelandang bertahan, melainkan karena strategi, latihan, kualitas pemain, dan sedikit keberuntungan. Kalau semua hasil pertandingan ditentukan langit, pelatih seharusnya cukup membawa sajadah, bukan papan taktik.
Lalu muncullah makhluk lebih cepat berkembang dari taktik Guardiola, yaitu rasisme. FIFA menemukan lebih dari 89 ribu unggahan pelecehan selama fase grup, naik tiga belas kali dibanding edisi sebelumnya, dan sebelas persen berupa pelecehan rasial. Dulu orang menghina di tribun. Sekarang pindah ke media sosial karena lebih murah, lebih cepat, dan tidak perlu beli tiket. Rupanya teknologi tidak selalu membuat manusia lebih pintar. Kadang hanya membuat kebodohan memiliki koneksi internet yang lebih stabil. FIFA membuat kampanye “No Racism”, tetapi kebencian ternyata lebih licin dari belut yang dilumuri oli. Hari ini diblokir, besok muncul akun baru dengan foto anime dan bio “pecinta kedamaian”.
Belum lengkap kalau belum ada teori konspirasi. Ini menu wajib. Bahkan lebih wajib dari bola itu sendiri. Ada konspirasi sungguhan seperti pengaturan skor dan korupsi. Itu nyata. Tetapi ada pula konspirasi produksi netizen. Tim kesayangan kalah satu gol, langsung muncul dugaan FIFA punya ruang bawah tanah berisi tombol pengatur skor. VAR disebut teknologi alien. Wasit dituduh lulusan Hogwarts. Istilah “VARgentina” lahir karena sebagian orang yakin FIFA sedang menjalankan sinetron khusus Lionel Messi. Darren Kane dan Pierluigi Collina sudah menjelaskan, wasit bekerja independen, tetapi penjelasan itu justru dianggap bukti, konspirasinya makin rapi. Dalam logika penggemar fanatik, semakin dibantah, semakin benar. Einstein mungkin menyerah kalau berdebat dengan kolom komentar.
Lalu saya sadar. Sepak bola ternyata bukan olahraga. Ia adalah laboratorium tempat seluruh sifat manusia dicampur dalam satu tabung reaksi raksasa. Michael Novak menyebut olahraga sebagai liturgi modern. Paus Yohanes Paulus II pernah menyebut sepak bola sebagai agama sekuler terbesar. Maradona bahkan punya gereja sendiri. Kalau dipikir-pikir memang masuk akal. Setiap akhir pekan jutaan orang mandi lebih rapi untuk datang ke stadion, mengenakan “jubah suci” berupa jersey, menyanyikan lagu kebesaran, lalu pulang dengan wajah seperti habis menerima wahyu atau kiamat kecil, tergantung hasil pertandingan. Bedanya, di stadion dosa terbesar bukan berbohong, melainkan pindah mendukung klub rival.
So, Piala Dunia 2026 mengajarkan sesuatu yang tidak pernah masuk buku pelajaran. Sepak bola hanyalah umpan. Yang sedang dipancing adalah perhatian manusia. Ketika miliaran mata menatap bola, miliaran dolar berpindah tangan. Ketika penonton sibuk menghitung gol, korporasi menghitung laba. Ketika suporter berdebat siapa pemain terbaik, algoritma media sosial sedang menghitung berapa lama kita bertengkar di kolom komentar. Ternyata selama ini yang paling rajin berlari bukan para striker, melainkan uang. Yang paling sering melakukan diving bukan pemain, melainkan logika kita sendiri. Yang paling sering mencetak hattrick bukan penyerang, melainkan bisnis, politik, dan ego manusia. Itulah sebabnya sepak bola tidak pernah sekadar permainan. Ia adalah cermin paling jujur memperlihatkan isi kepala umat manusia. Kadang indah, kadang memalukan, tetapi selalu laris ditonton.
“Akhirnya selesai juga Pildun ya, Bang. Cerita begadang pun tutup buku.”
“Benar, wak. Saatnya kita beralih dengan isu-isu hot dari dalam negeri sendiri.”
Rosadi Jamani












