Jakarta, PBSN – Namanya Maulidi Murni. Wartawan. Penggugah pena yang terbangun dari tidur panjang layar hitam putih. “Assalamualaikum Bang Ros, saya Maulidi dari TVRI Kalbar. Mau izin wawancara. Topiknya: Tradisi Menulis di Era Digital.” Begitu katanya. Sontak, saya tidak langsung menjawab. Saya diam. Merenung. Meneguk kopi. TVRI kini mengakui keberadaan saya sebagai penulis.
Tentu saya iyakan. Tapi saya bukan penulis kemarin sore. Saya adalah penulis aliran Warkopisime. Menulis di warung kopi, ditemani suara mesin blender, abang-abang ojol, dan anak-anak Mobile Legends. Namun, Maulidi khawatir, “Takut rekamannya noise, Bang.” Baiklah. Akhirnya, disepakati, di rumah saya saja. Tempat segala gagasan absurd dan teori filsafat kopi instan lahir.
Jumat, 27 Juni pukul 08.00 WIB, datanglah Maulidi. Sendirian. Tak membawa kru, hanya DSLR dan semangat nasionalisme digital. Wawancaranya serius, pertanyaannya filosofis, “Bang, di era digital ini, masih pentingkah menulis? Bukankah orang lebih suka nonton kucing nyebur got di TikTok dari membaca esai 700 kata?”
Saya menarik napas, menahan air mata, menatap langit-langit, berharap Tuhan menjawab lebih dulu. Tapi tak kunjung datang. Akhirnya saya jawab sendiri.
“Benar. Kita ini hidup di zaman algoritma. Zaman di mana tulisan tak cukup hanya bernyaw, ia harus menari, menyanyi, dan terkadang mengedit wajah agar glowing. Menulis kini tak cukup satu arah. Kalau dulu, menulis seperti khotbah Jumat, ceramah, titik. Sekarang, menulis seperti buka komentar Instagram. Siap dihina, direndahkan, dibilang ‘lebay’, ‘capek bacanya’, ‘males mikir’, ‘hoax’ dan sejenisnya. Tapi justru di sanalah jiwa kepenulisan diuji. Apakah kau menulis karena cinta atau karena validasi?”
Saya lanjutkan, “Saya punya TikTok, @bangros20. Isinya bukan joget, tapi tulisan. Visual AI. Musik instrumental. Followers 215 ribu lebih. Yang komen bukan cuma puji-pujian, tapi juga yang bilang, ‘Apaan sih, tulisan bertele-tele, muter-muter tak jelas!’ Tapi saya senang. Itu tanda tulisan saya berhasil menyentuh, entah menyentuh hati atau menyentuh titik tertinggi rasa jengkel pembaca.”
Maulidi terdiam. Saya juga. Kamera menyala, merekam sebuah monolog eksistensial, bahwa menulis di era digital bukan lagi tentang isi, tapi format. Bukan hanya teks, tapi juga vibes. Ada musik, visual, dan tentu, komentar netizen yang bisa membangun atau meruntuhkan harga diri hanya dalam dua kata, “Gak nyambung.”
Saya bilang, “Menulis hari ini adalah seni mengelola caci maki. Yang kuat bukan penulis paling jenius, tapi penulis yang tahan dibully. Tahan dikatain ‘sok tahu’. Tahan dibilang ‘tulisan kamu ngambang kayak perasaan dia’. Tapi dari situlah revolusi menulis lahir. Kita tak bisa lagi hanya berkisah. Kita harus berinteraksi. Menjadi penulis sekaligus customer service.”
Kawan-kawan, di sinilah letak filsafat menulis hari ini. Tulisanmu bukan milikmu lagi, tapi milik semesta netizen. Kau tak bisa sembunyi di balik metafora. Sebab mereka akan menuntut kejelasan, bahkan dari kalimat paling absurd. Kalau dulu Pramoedya bicara lewat kata, kini kita bicara lewat algoritma.
Menulislah. Tapi bersiaplah menjadi bahan roasting. Menulislah. Tapi jangan berharap selalu dipahami. Menulislah karena itu panggilan jiwa, bukan panggilan notifikasi.
Ingat, kalau suatu hari TVRI mencarimu, itu bukan hanya karena kau menulis. Tapi karena kau menulis dengan jujur, dengan gaya, dan dengan keberanian untuk dikatain “alay” oleh anak-anak Gen Z yang makanannya adalah sindiran dan reaksionerisme. Ayo menulis. Kalau perlu, tulislah sampai tulisanmu dianggap sesat, tidak nyambung, atau terlalu dalam untuk otak netizen yang sudah kebanyakan konten. Tulislah sampai TVRI pun datang ke rumahmu.
So, mulailah menulis, menulis apa saja. Karena, masih banyak orang suka membaca. Dengan membaca otak menjadi lebih encer dan waras.
Foto Ai, bukan saya yang sebenarnya. Aslinya sih lebih ganteng.
Rosadi Jamani





