Sungguh Keji, Warga Lagi Hadiri Pemakaman di Gereja, Ditembak 9 Orang Tewas

Amman, PBSN Indonesia – Ya Allah, begitu mudahnya nyawa manusia melayang. Orang sedang menghadiri pemakaman, datang untuk mengantar seseorang menuju peristirahatan terakhir, malah sembilan orang ikut kehilangan nyawa. Belum selesai berduka, mereka justru dipaksa berhadapan dengan kematian. Dunia macam apa ini? Orang datang membawa doa, malah disambut peluru.

Tragedi mengerikan itu terjadi di Gereja Hamoud, Desa Hamoud, wilayah Karak, Yordania, sekitar 90 kilometer di selatan Amman. Warga berkumpul menghadiri pemakaman. Mereka mungkin datang dengan pakaian terbaik, membawa kenangan, dan berharap bisa menguatkan keluarga ditinggalkan. Tak seorang pun menyangka, hari itu mereka bisa menjadi penghuni pemakaman berikutnya.

Sejumlah pria bersenjata datang menggunakan kendaraan, kemudian melepaskan tembakan ke arah warga di sekitar gereja. Dor! Dor! Dor! Dalam hitungan detik, suasana duka berubah menjadi neraka. Orang-orang berlarian mencari perlindungan. Mereka tadi menundukkan kepala untuk berdoa kini menjatuhkan tubuh agar tak menjadi sasaran peluru.

Ya Allah, sembilan orang meninggal dunia dan hampir 40 lainnya terluka. Jumlah korban tewas bertambah dari tujuh orang pada Jumat (23/10) menjadi sembilan orang pada Sabtu (24/10), setelah sejumlah korban luka meninggal saat menjalani perawatan.

Sembilan nyawa. Bukan sembilan batang kayu bisa diganti. Mereka manusia, punya keluarga, punya cita-cita, punya orang-orang yang menunggu kepulangan mereka. Ada anak yang mungkin masih berharap ayahnya pulang. Ada istri tak pernah menyangka pelukan terakhir ternyata benar-benar menjadi terakhir. Ada orang tua harus menerima kabar paling menyakitkan dalam hidupnya.

Lebih memilukan, saksi mata Saed al-Halaseh mengatakan para penyerang kembali menembaki orang-orang sudah terjatuh. Seolah-olah melukai dan membunuh saja belum cukup. Mereka sudah tak berdaya pun masih menghadapi ancaman. Kemanusiaan macam apa tersisa ketika orang sanggup melakukan kebiadaban seperti itu?

Manusia menciptakan rumah ibadah untuk berdoa, mencari ketenangan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, di sekitar tempat suci itu, ada manusia justru membawa kematian. Ironisnya bukan main. Mulut bisa berbicara tentang keyakinan, tetapi tangan sanggup merampas hak hidup orang lain.

Raja Yordania Abdullah II mengecam serangan tersebut, mengunjungi korban di rumah sakit Karak, dan menjanjikan tindakan tegas. Aparat keamanan masih memburu pelaku. Hingga laporan terakhir, belum ada kelompok mengaku bertanggung jawab dan motif penyerangan belum dipastikan.

Tentu, keadilan harus ditegakkan. Namun, sekeras apa pun hukuman yang dijatuhkan, sembilan nyawa itu tak bisa dikembalikan. Pengadilan tak punya palu ajaib untuk mengetuk meja lalu menghidupkan kembali orang-orang telah pergi.

Ya Allah, mengapa manusia begitu mudah merampas sesuatu yang tak mampu mereka ciptakan? Untuk melahirkan kehidupan, diperlukan waktu dan perjuangan. Untuk merenggutnya, kadang hanya diperlukan satu tarikan pelatuk.

Dunia mungkin segera melupakan tragedi ini ketika berita baru datang. Namun, keluarga korban tak bisa mengganti kesedihan dengan menggulir layar telepon. Mereka akan terus mengingat hari ketika pemakaman seharusnya menjadi tempat mengucapkan selamat jalan justru berubah menjadi awal kehilangan yang lain.

Sungguh keji. Orang datang untuk mengantar jenazah, malah sembilan orang pulang menjadi jenazah. Yang hidup membawa luka, yang ditinggalkan membawa duka, sementara pelaku masih diburu.

Ya Allah, lindungilah manusia dari kebencian yang membutakan hati. Sebab, ketika manusia tak lagi menghargai nyawa sesamanya, peluru bukan satu-satunya mematikan. Hilangnya kemanusiaan jauh lebih mengerikan.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *