Pesta Babi Dibubarkan, Pihak Rektorat Phobia Kritik Akut

News, Politik, Sosial251 Views

Mataram, PBSN – Kasihan babi. Dibikinkan pesta malah dibubarkan. Yang membubarkan, bukan preman pasar, melainkan kaum intelektual yang phobia kritik akut. Simak narasinya sambil seruput Koptagul kopi Tanah Karo di Kafe Elaia, Pontianak.

Di Universitas Mataram (Unram), terjadi peristiwa yang lebih dramatis dari sinetron ijazah. Nobar film dokumenter dibubarkan sebelum sempat tayang. Bukan karena listrik mati atau proyektor ngambek, tapi karena isi filmnya dianggap terlalu “mengganggu stabilitas batin kampus”. Judul filmnya Pesta Babi, karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Dua nama yang sudah lama dikenal doyan bikin dokumenter yang bikin dahi pejabat berkerut.

Film ini bukan soal kuliner babi sambal kecap. Ini cerita tentang Papua Selatan, tentang jutaan hektare hutan yang dibuka untuk proyek raksasa. Food estate, bioenergi, dan agribisnis tebu serta sawit. Skala proyeknya besar sekali. Kalau dilihat dari satelit mungkin kelihatan seperti luka panjang di tubuh bumi. Di tengah itu, masyarakat adat muncul dengan satu kalimat yang lebih tajam dari pisau dapur. “Kami punya tanah, tapi tak bisa hidup di situ lagi.” Kalimat sederhana, tapi efeknya seperti kopi pahit tanpa gula, bikin melek, sekaligus tidak nyaman.

Mahasiswa Unram awalnya cuma mau nobar. Duduk santai, nonton, diskusi, mungkin sambil makan gorengan yang minyaknya sudah lebih senior dari dosen pembimbing. Tapi sebelum film diputar, turunlah aparat kampus. Wakil rektor, satpam, dan aura “ini tidak boleh lanjut”. Film belum tayang, tapi sudah dianggap seperti ancaman ideologis. Langsung dibubarkan. Alasannya? Menjaga kondusivitas kampus. Karena di tempat yang katanya pusat ilmu, yang paling berbahaya ternyata bukan plagiarisme atau titip absen, tapi… pemikiran.

Di sinilah muncul solusi paling visioner abad ini. Mahasiswa disarankan lebih baik nonton sepak bola saja. Sebuah pendekatan revolusioner dalam dunia akademik. Hutan habis? Tonton bola. Konflik lahan? Tonton bola. Krisis sosial? Tonton bola. Seolah-olah semua masalah bangsa bisa diselesaikan dengan formasi 4-3-3 dan harapan gol di menit 90.

Mahasiswa tentu tidak langsung tercerahkan oleh wahyu sepak bola. Mereka malah makin penasaran. Nobar dipindahkan ke luar kampus. Diskusi tetap jalan. Solidaritas muncul. Karena ide itu seperti asap sate, kau kipas ke satu arah, dia tetap nyebar ke mana-mana. Kampus tutup pintu, mahasiswa buka jendela. Kampus tutup jendela, mahasiswa pindah ke media sosial. Teknologi: 1. Birokrasi: masih loading.

Publik pun ikut panas. Sebelum dibubarkan, film ini hanya beredar di kalangan tertentu. Setelah dibubarkan? Viral. Dicari. Dibahas. Orang yang tadinya tidak tahu Papua, mendadak jadi analis geopolitik dadakan. Ini hukum alam yang Isaac Newton mungkin lupa tulis, semakin dilarang, semakin laris.

Pihak rektorat tetap tenang di permukaan. Narasinya rapi, ini soal stabilitas, isu Papua sensitif, bisa memicu polemik, bisa disalahgunakan. Semua terdengar masuk akal, sampai kita sadar, hampir semua hal penting memang sensitif. Ketidakadilan sensitif. Kebenaran sensitif. Kritik? Apalagi itu, sudah level cabai rawit, kecil tapi bikin keringat bercucuran.

Di titik ini, judulnya tidak lagi terasa berlebihan. Ini memang gejala, phobia kritik akut. Sedikit saja ada potensi diskusi yang tidak steril, langsung muncul reaksi alergi. Refleksnya cepat, seperti tangan menghindari setrika panas. Padahal kampus seharusnya tempat orang berdebat, bukan tempat orang sepakat untuk diam.

Yang paling ironis, pembubaran ini justru jadi promosi gratis. Film yang tadinya “sunyi” mendadak naik kelas jadi pembicaraan nasional. Kampus, tanpa sadar, berubah jadi tim marketing paling efektif, strategi larang = viral.

Akhirnya, yang paling menarik bukan filmnya, tapi reaksinya. Pembubaran itu seperti pengakuan diam-diam, ide bisa lebih menakutkan dari keributan. Mahasiswa yang duduk menonton bisa dianggap lebih berbahaya dari kenyataan yang mereka tonton.

Pesta Babi? Dia tidak perlu teriak. Cukup jadi cermin. Masalahnya, tidak semua orang siap bercermin. Apalagi kalau yang terlihat bukan prestasi, tapi kenyataan yang agak berantakan.

Jadi wak, di negeri ini, bukan filmnya yang bikin panik. Tapi kemungkinan setelah menonton, orang mulai berpikir. Bagi sebagian pihak, itu memang wabah paling mengerikan, pikiran yang tidak bisa dikontrol.

 

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *