Orang Jujur Minta Mundur, Eh..Yang Diminta Mundur Malah Ngekost di Kursi Jabatan

News, Sosial76 Views

Jakarta. PBSN Indonesia – Ada pejabat siang malam disuruh mundur dari jabatannya, tetap buta tuli, muka tembok. Lah, ini agak aneh, tidak diminta mundur, malah mundur sendiri. Kesambet kali ya!

Aneh bin ajaib. Orang masih punya prinsip justru berani meninggalkan jabatan. Sementara orang yang sudah didesak mundur karena kinerjanya bikin rakyat migrain berjamaah, malah bertahan seperti perangko menempel di amplop.

Contohnya AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian. Perempuan berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi ini mengumumkan pengunduran dirinya dari Polri, terhitung 1 September 2026. Keputusan itu disampaikan melalui Instagram pribadinya, lengkap dengan surat pernyataan bahwa pengunduran diri dilakukan atas kemauan sendiri, tanpa paksaan atau tekanan siapa pun.

Netty menulis kalimat lumayan membuat telinga pejabat berdenging. Ia memilih mundur dengan luka dari bertahan dengan mengorbankan prinsip. Baginya, seragam bisa dilepas, jabatan bisa ditinggalkan, tetapi harga diri dan hati nurani tidak boleh diperjualbelikan.

Waduh! Ini kalimat berbahaya. Kalau dipasang di dinding kantor pemerintahan, bisa menyebabkan sejumlah pejabat mendadak mengajukan cuti sakit.

Padahal, Netty bukan polisi kaleng-kaleng. Kariernya panjang. Pernah menjadi Kapolsek Sunda Kelapa, Kapolsek Menteng, Penyidik Madya Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, hingga Kabagrenmin Ditreskrimum PMJ. Ia ikut membangun komunitas polwan motor besar The Road Force Blue pada 2005. Komunitas ini mencatatkan rekor MURI dan dunia pada 2009 sebagai pasukan wanita pengawal kenegaraan pertama di dunia.

Pernah mengawal Ani Yudhoyono, Hillary Clinton, hingga prosesi jenazah Ainun Habibie. Ia juga meraih Indonesia Women Excellence Award 2021 dan doktor Ilmu Hukum dengan predikat cumlaude.

Pendidikan tinggi, pengalaman panjang, prestasi berderet. Tetapi ternyata tidak semua orang menganggap jabatan sebagai oksigen kehidupan.

Nah, sekarang mari kita tengok spesies pejabat lainnya. Sudah didemo, tidak mundur. Dikritik, tidak mundur. Kinerjanya dipertanyakan, malah konferensi pers. Rakyat minta pertanggungjawaban, jawabannya sedang melakukan evaluasi. Ngotot tak mau mundur sambil cengengesan. Pejabat sampah.

Ada yang suka salah, minta dimaklumi. Kalau gagal minta kesempatan kedua. Kalau bobrok minta jangan dipolitisasi. Begitu diminta mundur, mendadak pidato tentang pengabdian, stabilitas, dan tanggung jawab.

Luar biasa! Pengabdian dijadikan tameng, padahal yang sedang dipertahankan mungkin fasilitas, tunjangan, sopir, ajudan, dan ruang ber-AC.

Mungkin kursi jabatannya sudah diberi lem Korea. Pantatnya direkatkan pakai semen tiga roda. Untuk melepaskannya harus memanggil Basarnas, pemadam kebakaran, dan tim bedah ortopedi.

Padahal, mundur bukan berarti kalah. Justru tahu diri adalah salah satu tanda kedewasaan seorang pemimpin. Jabatan itu amanah, bukan hak milik yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

Tentu, keputusan Netty merupakan urusan pribadinya. Kita tidak perlu mengarang alasan di balik pengunduran dirinya. Tetapi keberaniannya mengingatkan kita, jabatan bukan segalanya.

Negeri ini tidak kekurangan orang ingin naik jabatan. Yang langka justru orang berani turun jabatan ketika sudah tidak pantas mendudukinya.

Kalau perlu, pemerintah bikin sekolah khusus pejabat. Kurikulumnya sederhana, semester satu belajar bekerja, semester dua belajar bertanggung jawab, semester tiga belajar mengakui kesalahan, semester empat praktik mundur.

Wisuda dilakukan setelah berhasil melepaskan kursi tanpa harus diseret rakyat. Sebab, pejabat gagal masih bisa dimaklumi. Pejabat tidak mau belajar juga masih bisa dikritik. Tetapi pejabat sudah tidak becus, sampah, sudah didesak mundur siang malam, masih ngotot bertahan, itu bukan lagi soal kepemimpinan.

Itu namanya bukan mengabdi kepada negara, melainkan sedang menjalani hubungan asmara terlarang dengan kursi kekuasaan. Kursinya cinta mati, rakyatnya bunyikan klakson patah hati!

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *