Washington DC, PBSN – Kalian pasti sudah menonton videonya. Mobil meluncur di leter U, berputar di udara, lalu mendarat mulus di jalan. Saat melewati banyak mobil macet, ia meloncat, lalu mendarat mulus lagi. Itulah mobil terbaru Elon Musk, Tesla Roadster. Seandainya Elon orang Indonesia, bakal dipuja siang dan malam.
Dunia teknologi sudah kesurupan! Elon Musk sedang mengembangkan Tesla Roadster, mobil listrik bukan cuma mau melawan macet, tetapi juga menantang gravitasi. Mobil berbobot beberapa ton hendak dibuat melayang tanpa sayap pesawat dan baling-baling helikopter. Hukum Newton mungkin sebentar lagi mengajukan surat pengunduran diri.
Sementara itu, pejabat kita masih punya teknologi lebih ajaib, membuat masalah melayang bertahun-tahun tanpa mesin roket. Caranya gampang, gelar rapat!
Kisah Roadster bermula pada 2017. Musk menjanjikan akselerasi ekstrem, kecepatan lebih dari 400 km/jam, dan jarak tempuh mendekati 1.000 kilometer. Produksi ditargetkan mulai 2020. Tahun berganti, kalender sudah tua, mobilnya masih menjadi bahan pembicaraan. Janji teknologi rupanya punya daya tahan setara janji politik menjelang pemilu.
Pada 2018, Musk melempar gagasan sinting. Bagaimana kalau mobil dipasangi pendorong roket SpaceX? Gagasan ini kemudian diperlihatkan melalui demonstrasi prototipe dengan teknologi membuat insinyur tersenyum dan hukum fisika menggaruk kepala.
Pertama, fan-car system. Kipas berkecepatan tinggi menyedot udara dari bawah mobil sehingga kendaraan tertekan kuat ke permukaan lintasan. Tesla mengklaim gaya hisapnya bisa mencapai dua kali gravitasi, memungkinkan mobil mempertahankan cengkeraman ketika lintasan hampir terbalik.
Nuan bayangkan. Mobil menempel di plafon seperti cicak, tetapi harga cicaknya miliaran. Ini bukan pesugihan otomotif, melainkan permainan tekanan udara!
Kedua, cold-gas thruster dari SpaceX. Prinsipnya seperti balon dilepaskan: gas menyembur ke satu arah, kendaraan terdorong ke arah berlawanan. Paparan demonstrasi menyebut tangki berkapasitas sekitar 600 liter, tekanan hingga 5.500 psi atau 380 bar, serta sepuluh pendorong. Gaya dorong diklaim melebihi 80 kilonewton, setara secara kasar dengan berat benda sekitar delapan ton di bumi.
Jangan membayangkan Roadster langsung mengangkut delapan ton beras bantuan sambil terbang ke bulan. Arah dorongan, bobot kendaraan, kestabilan, dan durasi semburan tetap menentukan. Melayang sesaat juga bukan berarti bisa terbang dari Pontianak ke Jakarta sambil menghindari tarif bagasi.
Tesla turut menampilkan klaim akselerasi 0–60 mil per jam, sekitar 97 km/jam, dalam 0,8 detik. Namun, angka demonstrasi itu belum merupakan hasil pengujian independen terstandarisasi. Keselamatan, regulasi, dan kelayakan produksi massal tetap menjadi pekerjaan rumah.
Nah, pejabat kita perlu belajar dari teknologi ini. Tesla menggunakan kipas untuk menghasilkan daya tekan. Pejabat tertentu menggunakan kipas angin ruang rapat untuk mendinginkan kepala, sementara persoalan rakyat dibiarkan mendidih.
Rapat pertama membahas karhutla. Rapat kedua mengevaluasi rapat pertama. Rapat ketiga membentuk tim percepatan. Rapat keempat menyepakati, karhutla harus segera ditangani. Asap sudah nyampai Jakarta, kesimpulan rapat masih mengawang di udara.
Tesla memasang pendorong agar mobil bergerak maju. Birokrasi memasang agenda agar kemajuan bisa ditunda secara terhormat. Masalah belum selesai, notulen sudah punya cucu!
Padahal, teknologi ekstrem membutuhkan pengujian, bukti, dan tanggung jawab. Pemerintahan pun begitu. Rakyat tidak kenyang oleh pidato, tidak terlindungi oleh rapat, dan tidak sejahtera karena foto pejabat mengelilingi meja rapat koordinasi.
Elon Musk berusaha membuat mobil menembus gravitasi. Pemimpin kita seharusnya membuat pelayanan publik menembus birokrasi. Mobil boleh terbang ke angkasa. Anggaran jangan ikut menghilang. Kalau mobil gagal mendarat, teknisi panik. Kalau kebijakan gagal mendarat, rakyat yang jungkir balik!
Rosadi Jamani












