Jakarta, PBSN – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax yang berlaku mulai 10 Juni 2026 mendapat perhatian luas dari media internasional. Selain Kantor Berita Reuters, sejumlah media dari Singapura dan Malaysia turut mengulas kebijakan pemerintah Indonesia yang menaikkan harga Pertamax hingga 32 persen.
Reuters dalam laporannya menyoroti besarnya kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Kantor berita yang berbasis di Inggris tersebut menyebut kenaikan ini sebagai langkah yang berpotensi menambah tekanan biaya hidup masyarakat Indonesia di tengah kondisi ekonomi yang sedang menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak harga energi global.
Reuters juga menyoroti bahwa pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar, sehingga beban kenaikan lebih banyak ditanggung oleh pengguna BBM non-subsidi yang umumnya berasal dari kelompok menengah dan pemilik kendaraan pribadi.
Sementara itu, media Singapura menyoroti keputusan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara yang berupaya menyesuaikan harga energi domestik dengan perkembangan harga minyak dunia. Mereka menilai langkah tersebut menunjukkan upaya pemerintah mengurangi tekanan fiskal akibat meningkatnya biaya energi.
Media Singapura juga menggarisbawahi bahwa kenaikan harga Pertamax terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah serta fluktuasi pasar keuangan internasional.
Dari Malaysia, media The Star menyoroti lonjakan harga Pertamax yang mencapai lebih dari 30 persen dan menyebutnya sebagai kenaikan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Media tersebut mengulas penjelasan Pertamina bahwa penyesuaian harga dilakukan berdasarkan formula harga keekonomian yang mempertimbangkan harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
The Star juga mencatat bahwa pemerintah Indonesia memilih mempertahankan subsidi untuk BBM tertentu guna menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah, meskipun pada saat yang sama harus menghadapi tekanan anggaran akibat meningkatnya biaya energi.
Sorotan media asing tersebut menunjukkan bahwa kebijakan harga energi di Indonesia tidak hanya berdampak pada kondisi domestik, tetapi juga menjadi perhatian kawasan karena Indonesia merupakan salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kenaikan harga BBM di Indonesia dinilai dapat memengaruhi inflasi, konsumsi rumah tangga, hingga prospek pertumbuhan ekonomi regional.
Hingga kini pemerintah dan Pertamina menegaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan mengikuti mekanisme pasar dan perkembangan harga minyak dunia, sementara harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.











