Jakarta, PBSN Indonesia – Presiden Prabowo Subianto menghadapi peringatan politik serius menyusul tren penurunan tingkat persetujuan publik terhadap kepemimpinannya.
Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menilai penurunan tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi Prabowo, terutama terkait keputusannya mempertahankan Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Ginting, tren sejumlah hasil survei menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Prabowo terus menurun dari waktu ke waktu. Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ada persoalan politik yang perlu segera direspons oleh Presiden, termasuk dalam mengevaluasi posisi Gibran dalam pemerintahan.
“Kalau kita lihat rata-rata survei terhadap Prabowo, setiap bulan semakin ke sini semakin turun,” kata Selamat Ginting seperti dikutip PBSN Indonesia, Selasa (27/10/2026).
Ia merujuk pada sejumlah angka survei yang disebutnya menunjukkan penurunan tingkat persetujuan terhadap Prabowo. Pada November 2025, angkanya masih berada di sekitar 81,2 persen. Kemudian, pada Maret 2026 turun menjadi 66,4 persen, lalu kembali merosot menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.
Memasuki Oktober 2026, bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo, angka tersebut disebut telah berada di level 44,5 persen.
Ginting menilai penurunan itu tidak boleh dipandang sebagai dinamika survei biasa. Bagi dia, tren tersebut merupakan peringatan bahwa dukungan publik terhadap pemerintahan Prabowo menghadapi tekanan yang semakin besar.
“Ini sudah warning bagi Presiden Prabowo. Gibran itu bukan lagi lampu kuning, ini sudah lampu merah,” ujarnya.
Ginting berpandangan, keputusan Prabowo untuk tetap mempertahankan Gibran berpotensi membawa konsekuensi politik terhadap posisi Presiden sendiri.
Dalam situasi tersebut, mempertahankan pasangan politik tanpa melakukan evaluasi dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap kepemimpinannya.
“Kalau Prabowo masih juga mempertahankan Gibran, sama saja memakan tabungan pribadinya sendiri. Artinya, dia akan tergerus,” kata Ginting.












