Bank Mandiri dan Budi Arie Ciut Juga Nyalinya, Netizen Dilawan!

News, Politik, Sosial13 Views

Jakarta, PBSN – Setelah digempur netizen siang malam, Bank Mandiri “kaing-kaing” ciut nyalinya, dan menyerah. Rekening Supriyono alias Botok, koordinator AMPB, yang sebelumnya ditunda transaksinya alias diblokir, kini dipastikan diaktifkan kembali. Hidup netizen!

Wah, lega. Dunia perbankan selamat. Botok selamat. Netizen selamat. Yang mungkin kurang selamat adalah tombol blokir di komputer petugas. Bisa jadi sekarang tombol itu diselimuti kain hitam, dikasih bunga tujuh rupa, lalu disumpah, “Jangan macam-macam lagi!”

Keputusan mengaktifkan rekening itu diambil setelah Polda Metro Jaya dan Komisi III DPR melakukan penelusuran. Hasilnya, tidak ditemukan fakta hukum atau pelanggaran terkait dana donasi maupun uang pribadi dalam rekening tersebut. Ya, iyalah, wong kalian ngawur, kok.

Artinya, rekening yang kemarin ditahan kini dilepas. Seperti kambing yang sempat diamankan karena dicurigai mencuri rumput, ternyata cuma lewat.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan menyatakan, pihaknya segera menindaklanjuti hasil penelusuran kepolisian dan Komisi III DPR untuk mengaktifkan kembali layanan rekening yang mengalami penundaan transaksi.

Bank Mandiri juga menjelaskan, tindakan awal dilakukan sesuai regulasi perbankan, termasuk aturan penundaan transaksi maksimal lima hari kerja. So, secara hukum semuanya disebut sesuai aturan. Secara suasana, netizen sudah telanjur membuat suasana seperti final Piala Dunia.

Bank Mandiri pun membantah isu rush money atau penarikan dana besar-besaran. Aktivitas nasabah disebut normal, kondisi perbankan tetap berjalan, sedangkan fluktuasi saham dianggap sebagai dinamika pasar yang wajar.

Wajar? Ya, tentu. Saham naik turun itu wajar. Yang tidak wajar adalah kalau rakyat sudah ramai-ramai buka kalkulator sambil bertanya, “Ini uang saya masih ada, kan?”

Belum selesai drama rekening, muncul pula episode Budi Arie Setiadi. Lama tak nongol, begitu muncul, nusantara jadi gaduh.

Ketua Umum Projo itu sebelumnya tampil gagah dengan teori “percepatan sejarah”. Bahkan ia berspekulasi situasi politik bisa bergerak lebih cepat dari Pemilu 2029. Kalimat itu langsung meledak di ruang publik.

Gagahnya bukan main. Apalagi di sebelahnya ada sosok yang selalu tersenyum sambil ngeteh. Sosok ini membuat mantan menteri yang dipecat Prabowo ini penuh percaya diri. Seolah-olah sejarah sudah naik motor, bensin penuh, helm terpasang, tinggal gas pol.

Namun beberapa jam kemudian, rem tangan ditarik. Budi Arie meminta maaf atas kegaduhan yang timbul. Ia mengatakan pernyataan tersebut merupakan pandangan dan insting pribadinya sebagai mantan aktivis.

Bukan titipan siapa-siapa. Bukan kode dari Jokowi. Bukan pesan rahasia dari Istana. Bukan pula bisikan misterius dari semesta.

Budi Arie menegaskan gagasan “percepatan sejarah” itu sama sekali tidak berkaitan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia juga menyatakan siap menanggung seluruh konsekuensi sosial maupun politik atas pernyataannya.

Luar biasa. Baru saja sejarah mau dipercepat, tiba-tiba permintaan maaf melaju lebih kencang. Maka lengkaplah drama hari ini. Rekening dibuka, isu rush money dibantah, saham disebut normal, pejabat minta maaf, sejarah direm mendadak.

Konspirasi netizen pun sah-sah saja berkembang. Jangan-jangan tombol “blokir” dan tombol “minta maaf” memang diletakkan bersebelahan. Begitu publik menekan tombol komentar, tangan langsung mencari tombol sebelahnya.

Kalau begini, negeri MBG memang negara penuh kejutan. Di sini rekening bisa ditahan lalu dibuka, sejarah bisa dipercepat lalu direm, keberanian bisa menggelegar pagi hari lalu berubah menjadi permintaan maaf sore hari. Pagi tahu, sore tempe.

Namanya juga politik. Kadang paling cepat bukan sejarah. Tetapi ciutnya nyali. Kata Cornelis, kalau berani jangan takut-takut. Kalau takut, jangan berani-berani. Oke, boh!

 

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *