Jakarta, PBSN – Saya bersaksi, beliau orang baik dan berintegritas. Semoga segala amal baik diterima oleh Yang Maha Kuasa.
Pada malam yang hening, 28 Juli 2025, langit Jakarta seperti menahan tangis. Bukan karena kemacetan atau polusi, tapi karena Indonesia kehilangan salah satu jiwa paling langka yang pernah lahir dari rahim bumi, Kwik Kian Gie, sang ekonom senior, pendidik, negarawan, dan di atas segalanya, penjaga nyala integritas yang kini padam dalam usia 90 tahun. Ia wafat setelah dua bulan dirawat di RS Medistra, tubuhnya lelah, tapi pikirannya tetap menyala sampai akhir. Sebuah pencernaan yang menyerah setelah seumur hidup mencerna kekacauan negeri.
Nama lengkapnya, Kwik Kian Gie, lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1935. Anak Indonesia dari rahim peranakan, tumbuh di tanah yang sering kali memperlakukan orang sepertinya sebagai “asing”, tapi justru mencintai republik ini lebih dari banyak pejabat asli. Istrinya, Dirkje Johanna de Widt, telah lebih dulu pergi pada tahun 2020, dan kini ia menyusul, meninggalkan tiga anak: Kwik Ing Hie, Kwik Mu Lan, Kwik Ing Lan, dan sejuta anak ideologis yang tumbuh dari gagasannya.
Pendidikannya melampaui zamannya. Lulus SMA Bagian C pada 1955, ia melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sebelum kemudian menyelesaikan studi ekonomi di Nederlandsche Economische Hogeschool Rotterdam (sekarang Erasmus Universiteit Rotterdam) tahun 1963. Di era ketika banyak yang bangga dengan gelar honoris causa dari kampus fiktif, Kwik membawa pulang ilmu dari Eropa dengan niat tulus, membangun bangsa, bukan membungkus kepentingan.
Karier politiknya dimulai dari PDI, kemudian PDI Perjuangan. Ia duduk sebagai Wakil Ketua MPR RI tahun 1999, dan pada masa pemerintahan Gus Dur, ia dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri. Lalu, di era Megawati, ia menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Ketua Bappenas (2001–2004). Tapi jangan salah. Jabatan tak pernah merusak jiwanya. Ia adalah satu dari sangat sedikit pejabat tinggi yang keluar dari istana dengan kepala tegak dan tangan bersih.
Kwik adalah pendiri Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), yang kini kita kenal sebagai Kwik Kian Gie School of Business. Ia menulis buku-buku penting, dari Saya Bermimpi Jadi Konglomerat, Analisa Ekonomi Politik Indonesia, hingga Kwik Kian Gie Bicara. Ia tidak bicara dalam kode, tidak bicara dalam basa-basi, tapi dalam kebenaran yang telanjang. Ia menolak liberalisasi ekonomi yang membutakan. Ia melawan utang negara yang mencandu. Ia berdiri sendirian di tengah arus, dikecam buzzer, dikucilkan kekuasaan, tapi tetap berdiri, dengan dada terbuka dan kata yang jujur.
Pada 2019, ia bahkan diperiksa KPK, bukan karena salah, tapi karena terlalu paham. Ia menjadi saksi ahli yang membantu negeri ini memahami betapa dalamnya lubang korupsi bernama BLBI. Tapi seperti biasa, kebenaran adalah tamu tak diundang dalam pesta demokrasi yang palsu.
Kini, ia pergi. Bangsa ini seperti kehilangan kompas moralnya. Banyak yang menyebutnya “nasionalis sejati”, “mentor tak kenal lelah”, dan “suara nurani ekonomi rakyat kecil”. Tapi semua itu terdengar telat. Kwik Kian Gie bukan hanya tokoh, ia adalah etika yang berjalan. Ia bukan hanya ekonom, ia adalah akal sehat yang dibungkam terlalu lama.
Malam itu, ketika ia berpulang, bukan hanya tubuh yang dikuburkan, tapi juga integritas. Kita yang masih hidup hanya bisa bertanya dengan air mata yang terlambat, siapa lagi yang akan berani berkata jujur ketika seluruh dunia memilih diam?
Rosadi Jamani






