Houthi Merudal Saudi, 13 Tewas, Saudi Membalas Kerahkan 100 Jet Tempur

Sana’a, PBSN – Dalam negeri, persoalan ijazah Gibran masih berputar-putar di udara. Mau hinggap di DPR RI masih abu-abu. Bagus kita ke luar negeri lagi menengok perang sesama Muslim, Houthi vs Arab Saudi.

Dulu Houthi bisa disebut tentara sandal jepit. Yang penting bisa menembak, bisa ikut perang. Sekarang, siapa sangka, pasukan ini sanggup membuat Arab Saudi kelabakan. Rudal menghantam bandara Riyadh, korban bergelimpangan, penerbangan lumpuh. Namun, Houthi rupanya lupa. Kalau menampar singa, jangan kaget kalau singanya bangun membawa satu skuadron jet tempur!

Pada 10 Oktober 2026, serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Korban tewas terdiri atas empat warga Saudi, dua Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan. Seorang warga India kemudian meninggal akibat luka-lukanya, sehingga jumlah korban tewas mencapai 13 orang.

Keesokan harinya, proyektil kembali menghantam terminal, menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang. Bandara pun ditutup. Pesawat batal terbang, penumpang batal berangkat, rudal malah rajin masuk kerja.

Houthi mengumumkan bandara dan ruang udara Saudi, kecuali Mekkah dan Madinah, menjadi “teater operasi”. Mereka menyebut serangan itu sebagai balasan atas agresi Saudi di Yaman.

Saudi menjawab bukan dengan pantun, melainkan Operasi Dawn of Yemen. Pada 5 Oktober, sekitar 100 jet tempur dikerahkan untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman. Koalisi mengklaim menghancurkan 324 target bernilai tinggi. Pada 7 Oktober, 82 target lagi diklaim dihancurkan, termasuk 11 gudang rudal balistik di Saada. Pada 9–10 Oktober, koalisi mengumumkan penghancuran 136 target tambahan. Totalnya sekitar 542 target menurut klaim mereka.

Serangan menyasar Sanaa, Saada, Taiz, Marib, Al-Jawf, Hajjah, Ibb, hingga kawasan Bab el-Mandeb. Houthi mengklaim Saudi melancarkan 124 serangan udara dalam 24 jam dan lebih dari 2.000 serangan sejak eskalasi. Di darat, pasukan pemerintah Yaman pimpinan Rashad al-Alimi mengincar wilayah Houthi, termasuk Sanaa.

Angka operasi darat juga bikin kalkulator minta pensiun. Pihak pemerintah mengklaim 2.103 operasi pada 8 Oktober, menetralkan 1.860 pejuang. Pada 9 Oktober, mereka menyebut lebih dari 2.750 serangan dalam 24 jam, lebih dari 1.400 pejuang dinetralkan, serta 250 kendaraan militer dirusak atau dihancurkan. Pada 11 Oktober, mereka mengumumkan 1.732 serangan, lebih dari 900 pejuang dinetralkan, dan lebih dari 287 kendaraan serta peralatan dirusak atau dihancurkan. Semua angka tersebut merupakan klaim pihak bertikai belum seluruhnya terverifikasi independen.

Lalu dunia ikut bersuara. Presiden Amerika Donald Trump menyebut serangan itu “terrible” dan “not acceptable”, sembari mempertimbangkan keterlibatan AS. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengutuk serangan yang menewaskan warga Amerika. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengaku sangat terkejut dan mendesak semua serangan terhadap warga sipil segera dihentikan.

Rusia menyerukan diplomasi, sementara Iran menyatakan keprihatinan dan menawarkan diri menjadi mediator, meskipun selama ini mendukung Houthi. Dunia pun seperti reuni keluarga besar, semuanya mengaku ingin damai, tetapi masing-masing datang membawa persoalan sendiri.

Houthi menghantam Saudi, Saudi membombardir Yaman, pemerintah Yaman menyerbu wilayah Houthi. Semua punya alasan, semua mengumumkan keberhasilan.

Namun, ada yang tak pernah menang, rakyat sipil. Mereka tidak punya jet tempur, rudal balistik, atau konferensi pers. Mereka hanya punya rumah, keluarga, dan doa agar esok masih bernapas.

Rudal bekerja lembur, diplomat sibuk mengutuk, pemimpin berpidato tentang perdamaian. Sementara rakyat menjadi korban pertunjukan yang tiketnya tidak pernah mereka beli.

“Kalau nonton video Houthi, sering teriak Allahu Akbar saat meluncurkan rudal. Ia tidak tahu yang kena rudal itu warga sipil, warga negara lain pula. Sepertinya tentara Saudi meneriakkan Allahu Akbar juga saat ia ngebom markas Houthi.

“Ente tak nanya, kalau sama-sama teriak Allahu Akbar, siapa yang masuk surga? Biasanya pertanyaan itu muncul kalau membicarakan perang dua negara Muslim itu, wak!”.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *