Anies Baswedan Terima Penghargaan Bersejarah di London

London, PBSN – Anies Baswedan menerima The Freedom of the City of London, penghargaan sipil dengan tradisi yang tercatat sejak 1237. Prosesi berlangsung di Guildhall, London, pada Jumat, 16 Oktober 2026, dalam upacara yang mengikuti tradisi berusia berabad-abad.

Penghargaan ini menjadi sorotan bukan hanya karena sejarah panjangnya, tetapi juga karena pesan yang dibawa Anies setelah menerimanya: pengakuan tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi Indonesia untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun kerja sama dengan London.

Dalam pemberitaan Liputan6 pada 17 Oktober 2026, Anies diceritakan menjalani prosesi yang mencakup pembacaan deklarasi, penandatanganan buku besar, dan jabat tangan sebelum disambut sebagai “a Citizen of London.”

Tradisi Sejak Abad ke-13

Freedom of the City of London merupakan salah satu tradisi sipil tertua yang masih berlangsung. Pada awalnya, status freeman berkaitan dengan hak tertentu dalam kehidupan kota, termasuk kegiatan perdagangan. Kini, penghargaan tersebut juga diberikan kepada individu yang dinilai memiliki kontribusi bagi kehidupan publik.

Sejumlah tokoh yang pernah menerima penghargaan serupa antara lain Winston Churchill, Nelson Mandela, Desmond Tutu, Lee Kuan Yew, Stephen Hawking, J.K. Rowling, dan Tim Berners-Lee.

Menurut keterangan yang diberitakan, nominasi Anies diajukan oleh Lord Mayor of London Alastair King bersama Alderman Gregory Jones. Prosesi dipimpin oleh City Remembrancer dan didampingi Alderman Vincent Keaveny, Lord Mayor London periode 2021–2022.

Anies: Penghargaan Ini Milik Bersama

Anies tidak memaknai penghargaan tersebut semata-mata sebagai pencapaian pribadi. Ia mengaitkannya dengan kerja bersama yang pernah dilakukan, terutama ketika mengemban amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Penghargaan itu, menurut Anies, didedikasikan bagi orang-orang yang ikut bekerja dalam perjalanan tersebut.

Pesan ini menegaskan bahwa kontribusi di ruang publik melibatkan banyak pihak. Di balik kerja seorang pemimpin, ada tim, aparatur, mitra, dan masyarakat yang turut mengambil bagian dalam proses perubahan.

Bagian penting dari sambutan Anies adalah harapannya agar penghargaan itu menjadi “pintu, bukan piala.”

Ia berharap semakin banyak wali kota, insinyur, guru, dan anak muda Indonesia memperoleh kesempatan belajar ke London. Ia juga menginginkan pertukaran berlangsung dua arah, sehingga London dapat mempelajari pengalaman kota-kota di Indonesia.

Gagasan tersebut membawa pembicaraan melampaui seremoni penghargaan. Pengakuan internasional dapat menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring, bertukar pengetahuan, dan membuka ruang kolaborasi—meskipun manfaat konkretnya tetap bergantung pada tindak lanjut.

Anies menutup sambutannya dengan kata “Merdeka!”, yang ia kaitkan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan makna kebebasan.

Penghargaan ini menjadi momen penting dalam perjalanan Anies di ruang publik internasional. Harapan berikutnya adalah bagaimana momentum tersebut dapat membuka peluang nyata bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan, pembangunan kota, dan pertukaran keahlian.

 

Sumber Utama — Facebook resmi Anies Baswedan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *