Akhirnya Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Termul Sepertinya Senang

Hukrim, News22 Views

Jakarta, PBSN – Duh, lama kali tak membahas sinetron ijazah. Kata pengikut Partai Koptagul, “Bosan, itu mulu!” Nah, kali ini ceritanya beda. Roy Suryo dan Dokter Tifa ditangkap polisi. Mungkin si lae Rismon Sianipar tersenyum lihat duo sohibnya digelandang ke jeruji.

Jumat, 19 Juni 2026. Sebuah pagi yang bagi sebagian orang terasa biasa saja, tetapi bagi para penghuni jagat politik, aktivis media sosial, penghobi komentar Facebook, pelanggan setia YouTube politik, dan terutama kaum Termul, hari itu mungkin terasa seperti final Piala Dunia, malam takbiran, dan diskon 99 persen digabung jadi satu.

Saat mahasiswa masih sibuk berdemo, Badan Gizi Nasional diobok-obok Kejagung, tiba-tiba muncul kabar yang membuat linimasa berguncang. Berguncang seperti terkena gempa berkekuatan 8,9 magnitudo. Roy Suryo dan dr Tifa ditangkap polisi.

Polda Metro Jaya bergerak pagi-pagi sekali seperti pasukan khusus yang baru mendapat koordinat markas penjahat supervillain. Pukul 06.47 WIB, dr Tifa diamankan di apartemennya. Nuan bayangkan saja. Ketika sebagian warga masih ngorok abis nonton Pildun, aparat sudah mengetuk pintu. Lalu, mengubah suasana pagi menjadi episode pembuka serial kriminal. Kopi belum tentu sempat diseduh. Sarapan belum tentu sempat dipikirkan. Tahu-tahu jadwal hidup berubah total.

Tiga belas menit kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, giliran Roy Suryo di rumahnya di Tangerang Selatan. Baru pulang larut malam, belum mandi, belum sempat menikmati kedamaian pagi, sudah langsung diajak mengikuti agenda negara yang tidak tercantum di kalender pribadinya. Menurut keterangan keluarga, tidak ada perlawanan. Tidak ada adegan kabur lewat jendela. Tidak ada aksi melompati pagar sambil membawa koper rahasia. Semuanya berlangsung tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat pendukung mereka bertanya-tanya, “Kalau selama ini kooperatif, kenapa penangkapannya seperti adegan pembuka film aksi?”

Kasus yang menyeret keduanya sebenarnya sudah berjalan sejak akhir 2025. Tuduhannya berkaitan dengan fitnah, pencemaran nama baik, dan penghasutan dalam polemik ijazah Presiden ke-7. Awal Juni 2026 berkas dinyatakan P-21 alias lengkap. Lalu mendadak, boom! Hari ini menjadi hari penahanan. Cepat sekali perubahan nasib di republik ini. Kemarin masih wawancara, hari ini sudah menjadi headline.

Tim kuasa hukum yang dihuni nama-nama besar seperti Petrus Selestinus, Ahmad Khozinudin, Azis Yanuar, Refly Harun, dan rekan-rekan dari TA-AKAA langsung bereaksi. Mereka menilai langkah tersebut represif, berlebihan, dan beraroma politik yang wanginya bisa tercium sampai ke warung kopi paling ujung kampung. Menurut mereka, dua orang yang selama ini datang memenuhi panggilan, rutin wajib lapor, dan tidak pernah kabur, malah diperlakukan seolah-olah bos terakhir dalam permainan video level neraka.

Sementara itu, di kubu seberang, suasananya diduga jauh lebih meriah daripada konser dangdut gratis. Kaum Termul kemungkinan sedang tersenyum selebar jalan tol. Status media sosial berhamburan. Meme bermunculan lebih cepat dari promo judi online. Kata “akhirnya” menjadi kosakata paling populer hari itu. Jika kebahagiaan bisa diukur dengan desibel, mungkin sebagian kolom komentar sudah memecahkan kaca jendela.

Nama Rismon pun ikut menjadi bahan obrolan. Setelah sebelumnya lolos lewat restorative justice, banyak netizen membayangkan dirinya sedang duduk santai di warung kopi, menyeruput kopi hitam dengan ekspresi tenang sambil membaca berita pagi. Benar atau tidak, itu urusan lain. Netizen Indonesia memang memiliki kemampuan imajinasi yang membuat penulis sinetron minder.

Kini drama ijazah yang seperti tak berujung, menuju klimak. Debat tak lagi di MNC TV sampai urat leher keluar, tapi di pengadilan. Mungkin di pengadilan itulah nanti, Jokowi akan memperlihatkan ijazah aslinya. Atau, Roy dan Tifa mampu membuktikan ijazah pakde itu, palsu. Siapa yang benar, tinggal nunggu putusan hakim.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *