Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia dan Evaluasi Warisan Asia-Afrika

News, Olahraga44 Views

Washington DC, PBSN – Piala Dunia 2026 telah menuntaskan rangkaian pertandingan fase grup pada 28 Juni pagi WIB dan segera menggelar 16 pertarungan babak 32 besar mulai 29 Juni dini hari WIB.

Berikut jadwal lengkap 16 pertandingan 32 besar dalam WIB :

29 Juni pk. 02.00 Afrika Selatan vs Kanada
30 Juni pk. 00:00 Brasil vs Jepang
30 Juni pk. 03.30 Jerman vs Paraguai
30 Juni pk. 08.00 Belanda vs Maroko
01 Juli pk. 00.00 Pantai Gading vs Norwegia
01 Juli pk. 04.00 Prancis vs Swedia
01 Juli pk. 08.00 Meksiko vs Ekuador
01 Juli pk. 23.00 Inggris vs Republik Demokratik Kongo
02 Juli pk. 03.00 Belgia vs Senegal
02 Juli pk. 07.00 Amerika Serikat vs Bosnia-Herzegovina
03 Juli pk. 02.00 Spanyol vs Austria
03 Juli pk. 06.00 Portugal vs Kroasia
03 Juli pk. 10.00 Swiss vs Aljazair
04 Juli pk. 01.00 Australia vs Mesir
04 Juli pk. 05.00 Argentina vs Tanjung Verde
04 Juli pk. 08.30 Kolombia vs Ghana

Dari daftar di atas, beberapa yang paling mencuri perhatian tentu perjuangan satu-satunya wakil Asia Jepang melawan juara dunia lima kali Brasil serta Argentina vs Tanjung Verde.

Pertanyaannya, setelah tampil luar biasa di fase grup, apakah Jepang dan Tanjung Verde mampu bertahan di turnamen ini ketika harus berhadapan dengan kedua tim raksasa tersebut.

Sambil menantikan rangkaian pertandingan 32 besar, mari kita melihat ke belakang sejenak, mengevaluasi bagaimana pencapaian tim-tim Asia dan kemudian membandingkannya dengan raihan tim-tim Afrika.

Asia meloloskan delapan wakil ke putaran final Piala Dunia 2026, dalam hal ini tidak termasuk Australia. Negara jiran di selatan kita itu memang anggota Asian Football Confederation (AFC), tetapi sejatinya mereka bukan bagian dari bangsa-bangsa Asia.

Australia bergabung ke AFC sejak 1 Januari 2006, berpindah keanggotaan dari Oceania Football Confederation (OFC) dengan pertimbangan di konfederasi tersebut hanya satu lawan tangguh yakni Selandia Baru, yang timnasnya pun pernah takluk 0–5 dari Indonesia pada 1997.

Dari delapan wakil Asia, sayangnya hanya Jepang yang berhasil lolos ke 32 besar. Satu per satu wakil Asia yang masih bertahan tumbang. Terakhir pada 28 Juni siang, Iran dan Korea Selatan tergusur dari 8 besar peringkat ketiga terbaik.

Kegagalan Iran sangat dramatis. Di laga matchday ketiga fase grup kontra Mesir, pada menit-menit akhir Iran sempat mencetak gol kemenangan, tapi dianulir lantaran VAR menunjukkan ada offside yang luar biasa tipis. Akibatnya, skor akhir imbang dan Iran finis di posisi ketiga grup sehingga harus beradu nilai dengan tim-tim peringkat ketiga lainnya.

Drama lagi-lagi terjadi, pada pertandingan yang berakhir 28 Juni siang WIB, sampai hitungan detik menjelang wasit meniup peluit akhir, Aljazair unggul 3–2 atas Austria berkat gol Riyad Mahrez ketika injury time babak kedua berjalan 3 menit.

Jika skor bertahan 3–2 untuk kemenangan Aljazair, Austria jadi peringkat ketiga Grup J dan memiliki selisih gol –1, kalah dari Iran yang selisih golnya 0. Tapi, 3 menit setelah gol Mahrez, atau menit ke-6 injury time, Austria mencetak gol ketiga lewat Sasa Kalajdzic. Dengan demikian, Iran pun tersingkir dengan cara yang luar biasa dramatis, benar-benar dalam hitungan detik dan itu terjadi dua kali.

Beberapa jam sebelumnya, Korea Selatan tersingkir dari daftar delapan tim teratas klasemen antar-tim peringkat ketiga setelah Republik Demokratik Kongo menang 3–1 atas Uzbekistan. Padahal di laga itu Uzbekistan menjebol gawang RD Kongo ketika pertandingan baru berjalan 20 detik, tapi dianulir lantaran offside.

Uzbekistan kemudian benar-benar unggul beberapa menit kemudian, tetapi RD Kongo tampil hebat dan akhirnya membalikkan skor menjadi kemenangan 3–1.

Sebaliknya, dari 10 wakil Afrika ke turnamen ini, hanya satu yang gagal melaju ke fase knock out yakni Tunisia yang di Grup F kalah bersaing dengan Belanda, Jepang, dan Swedia.

Saya jadi teringat kisah perjuangan bersama bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam mencapai kemerdekaan di mana Indonesia dengan Bung Karno menjadi salah satu barisan terdepan dalam rentetan kemerdekaan negara-negara di dua benua ini.

Namun, dalam perkembangannya di bidang olahraga sepak bola di level dunia, ternyata Asia kalah jauh dibandingkan dengan Afrika. Bahkan ironisnya, tim-tim Asia di Piala Dunia kali ini justru disingkirkan oleh tim-tim dari Afrika.

Tentu perlu kajian mendalam mengapa negara-negara Asia tertinggal dari sepak bola Afrika. Mungkin ada yang menyebut faktor kekuatan fisik yang membedakannya. Tetapi, ini bisa dengan mudah dibantah, karena penampilan fisik kebanyakan orang Asia sebenarnya tak jauh berbeda dengan bangsa-bangsa di Afrika.

Bahkan orang-orang Jepang pada dasarnya tidak bisa disebut memiliki fisik sekuat orang Asia Barat, Asia Selatan, atau Asia Tengah. Tapi faktanya justru Jepang yang melaju ke 32 besar mewakili Asia.

Okelah, kita lupakan saja pembahasan agak serius yang mengevaluasi warisan perjuangan bersama Asia-Afrika ini khususnya soal sepak bola. Kita nikmati dahulu rangkaian pertandingan hebat seperti Brasil vs Jepang atau Argentina vs Tanjung Verde.

 

Oleh : M. Syahran W. Lubis | Penulis buku Para Jawara Piala Dunia (2014) serta Piala Dunia, 96 Tahun Penuh Sesak Drama & Kontroversi dan 13 Kisah Tragis Sepakbola (2026).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *