TERKAIT KAPAL PENYELAMAT IMIGRAN, HUBUNGAN PRANCIS – ITALIA MEMANAS

Internasional873 Views
Roma – Kebijakan Italia untuk menutup pelabuhannya bagi kapal yang membawa migran yang diselamatkan telah meningkatkan ketegangan antara Italia dan Prancis.
Melansir Anadolu Agency, Sabtu (12/11/22), Ketegangan ini terjadi karena pemerintah koalisi baru Italia yang dipimpin oleh Giorgia Meloni, yang mulai menjabat pada 22 Oktober, tidak membuka pelabuhannya untuk kapal-kapal LSM yang berbasis di Eropa yang menuntut pelabuhan yang aman bagi para migran yang mereka selamatkan di Mediterania dalam beberapa pekan terakhir.
Italia kemudian memutuskan untuk mengizinkan beberapa migran meninggalkan dua kapal, dengan alasan kondisi kesehatan darurat.
Di bawah dekrit baru yang didorong oleh Menteri Dalam Negeri garis keras Matteo Piantedosi, Italia sekarang menerapkan pendekatan “selektif” dalam memutuskan siapa yang dapat turun dari kapal-kapal amal NGO.
Mereka yang tidak memenuhi syarat sebagai “orang yang rentan” harus meninggalkan perairan Italia, menurut aturan baru.
Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin pada Kamis mengatakan bahwa kapal Ocean Viking, yang dioperasikan oleh SOS Mediterranee, yang memiliki 234 orang di dalamnya telah diberikan “status luar biasa” untuk berlabuh di pelabuhan militer Toulon.
Desakan pemerintah Italia untuk tidak menerima kapal itu adalah “perilaku yang tidak dapat diterima,” kata Darmanin pada konferensi pers.
“Prancis sangat menyesalkan bahwa Italia telah memutuskan untuk tidak berperilaku seperti negara Eropa yang bertanggung jawab dalam menangani masalah ini,” kata menteri Prancis itu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menggambarkan pernyataan Prancis tentang masalah ini sebagai “tidak proporsional.”
Tajani mengatakan bahwa negara-negara lain belum berbuat banyak dalam program redistribusi migran di dalam UE, dan menambahkan bahwa 8.000 orang harus didistribusikan dari Italia, tetapi jumlah ini hanya 117 orang.
Secara terpisah, menteri dalam negeri Italia juga mengkritik pernyataan pihak Prancis dan mengklaim bahwa Prancis sejauh ini hanya menerima 234 migran sementara Italia menerima 90.000 migran.
“Apa yang tidak kami mengerti adalah mengapa Italia harus rela menerima sesuatu yang orang lain tidak mau terima,” tutur dia.
Xavier Lauth, direktur operasi di SOS Mediterranee, mengatakan bahwa dia menyambut baik keputusan Prancis untuk menerima pengungsi, tetapi dia juga menambahkan, “Solusi ini memiliki rasa pahit.”
“Mendarat hampir tiga minggu setelah penyelamatan mereka, begitu jauh dari wilayah operasi di Mediterania tengah, adalah hasil dari kegagalan dramatis dari semua negara Eropa, yang telah melanggar hukum maritim dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tukas dia.
(Red/Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *