Sama-sama Puasa, Pakistan Serang Afghanistan, 133 Tewas

Islamabad, PBSN –  Negara kok doyan perang sih. Baru saja damai, eh udah terlibat perang. Itulah kelakuan Pakistan dan Afghanistan. Bertetangga bukannya akur, malah asyik saling serang.

Tanggal 27 Februari 2026, Pakistan melancarkan“open war”. Serangan udara dilancarkan ke Kabul, Afghanistan. Pakistan mengklaim 133 personel Taliban tewas. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan cangkir kesabaran telah meluap. Cangkirnya mungkin porselen, tetapi isinya bahan bakar jet tempur.

Biang keladinya tetap si garis tua renta bernama Durand Line. Garis warisan 1893 sepanjang lebih dari 2.640 kilometer ini bagi Afghanistan adalah simbol kolonialisme, bagi Pakistan adalah batas sah harga mati. Garis imajiner ini seperti kabel telanjang. Disentuh sedikit, semua tersetrum. Sejak 1947, sejarahnya penuh episode panas, 1949–1950 soal Pashtunistan, 1960–1961 Bajaur Campaign, era perang proksi Soviet, hingga fase TTP pasca-2001. Skirmish kecil terjadi berkali-kali, seperti ritual tahunan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Episode terbaru dimulai 22 Februari 2026. Pakistan menghantam Nangarhar, Paktika, Khost, mengklaim puluhan militan TTP dan IS-KP tewas. Kabul membalas dengan narasi 18 korban sipil. Malam 26 Februari, Taliban menyerang pos perbatasan Pakistan, mengklaim 55 tentara tewas. Pagi 27 Februari, Islamabad meluncurkan Operation Ghazab Lil Haqq. Nama operasinya terdengar seperti judul film laga yang poster-nya penuh api dan wajah serius. Jet tempur meraung di Kabul, Kandahar, dan Paktia. Pakistan mengklaim 27 pos hancur, 133 personel Taliban tewas, 200 lebih luka-luka. Taliban menjawab singkat, tidak ada korban signifikan. Angka berubah jadi senjata retoris. Siapa pun yang pegang mikrofon, dialah yang merasa menang.

Sekarang masuk bab yang bikin konflik ini terasa seperti duel mitologi. Pakistan dikenal dengan reputasi mekaniknya yang legendaris. Bengkel-bengkel yang bisa menyulap logam bekas jadi senjata, kreativitas DIY level dewa, hingga statusnya sebagai negara bersenjata nuklir. Nama Abdul Qadeer Khan pernah menjadi simbol kebanggaan nuklir nasional. Dunia tahu, Pakistan bukan cuma punya obeng dan palu, tetapi juga hulu ledak yang bisa mengubah peta.

Di seberang, Afghanistan punya reputasi yang lebih mistis, “kuburan imperium”. Inggris pernah frustrasi. Uni Soviet berdarah. Amerika Serikat dua dekade jungkir balik sebelum angkat kaki. Negeri pegunungan ini berkali-kali membuktikan, tank canggih tidak otomatis menaklukkan mental perang yang ditempa generasi demi generasi. Sekarang, negara dengan nuklir dan tradisi bengkel kreatif berhadapan dengan bangsa yang punya reputasi membuat superpower pulang kampung. Ini bukan sekadar konflik perbatasan, ini adu gengsi sejarah.

Ironinya terasa pahit sekaligus absurd. Dua negara ini sama-sama mayoritas Muslim. Sama-sama menghadap kiblat ke Makkah. Sama-sama membaca Alquran, menjalankan puasa Ramadan, dan mengumandangkan azan lima kali sehari. Doanya naik ke langit yang sama, tetapi roketnya meluncur ke arah yang berbeda. Keduanya merasa membela kebenaran, merasa di pihak yang sah. Pertanyaan yang menggantung di udara lebih tajam dari peluru, kalau dua-duanya merasa benar, siapa yang salah? Kalau dua-duanya merasa berjihad, siapa yang masuk surga?

Konspirasi pun beterbangan. Ada tuduhan pengaruh India, ada bayang-bayang proyek CPEC yang membuat China berhitung senyap, ada PBB yang meminta dialog seperti wasit kehilangan peluit. Dunia tampak terkejut, padahal ini seperti musim baru serial lama. Aktornya sama, set-nya sama, hanya ledakannya lebih besar.

Perang ini bukan cuma soal wilayah, tetapi ego, sejarah, dan tafsir kebenaran. Mekanik nuklir melawan bangsa penakluk imperium. Dua-duanya sujud ke arah yang sama. Dunia menonton dengan napas tertahan, sambil sadar, ini baru pembuka. Bab berikutnya bisa lebih panas, lebih tragis, atau lebih absurd.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *