Washington DC, PBSN – Kita sering mendengar ungkapan, “Di negeri ini sudah banyak orang pintar bahkan jenius, tapi sangat susah mencari orang jujur.” Betul ndak, wak? Kali ini saya ingin mengenalkan orang super pintar dan juga jujur (sepertinya). Masih muda dan sangat jenius. Mari kita kenalan sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Namanya, Matt Deitke. Umur baru 24 tahun. Dia manusia setengah algoritma, setengah keajaiban ekonomi. Dia yang berhasil membuat Meta membuka brankasnya, menyiram 4 triliun rupiah ke kepalanya, dan berkata, “Silakan, wahai anak muda, ciptakan masa depan!”
Matt Deitke bukan orang biasa. Ia adalah fenomena eksistensial dalam dunia perkomputeran. Dia tergolong bocah dalam konteks hidup yang penuh utang, cicilan rumah, dan harga beras naik. Tapi bocah satu ini berhasil menolak Rp 2 triliun pertama dari Mark Zuckerberg, karena… ya, katanya kekecilan. Sebuah penolakan yang kalau dilakukan oleh manusia biasa mungkin akan langsung dikirimi utusan rumah sakit jiwa.
Zuckerberg, sang pemilik kerajaan digital yang bahkan bisa mengubah definisi “teman”, akhirnya turun gunung seperti Gandalf dari Silicon Valley. Ia bertemu Matt dan menggandakan tawarannya jadi 250 juta dolar, alias Rp 4 triliun. Matt pun akhirnya bersabda, “Ya, saya mau.”
Seketika itu juga, bumi berguncang, saham Meta naik turun seperti roller coaster yang mabuk, dan para programmer di seluruh dunia mulai mempertanyakan pilihan hidup mereka. Beberapa bahkan terdengar mulai belajar meditasi atau kembali ke kampung untuk beternak lele.
Bayangkan saja! Neil Armstrong, yang pergi ke bulan, tempat yang bahkan belum tersedia di Google Maps, cuma dibayar Rp 4 miliar per tahun (nilai inflasi). Matt? Dapat segitu tiap dua hari, sambil ngoding di ruangan ber-AC dengan cemilan sehat dan standing desk ergonomis.
Robert Oppenheimer, yang bikin bom atom dan mengubah sejarah umat manusia? Gajinya bahkan tak cukup untuk membeli sandal Yeezy bekas Deitke.
Apa yang membuat Matt begitu berharga? Ia bukan hanya paham AI. Ia adalah AI. Dia tak sekadar menguasai sistem multimodal, dia hidup di dalamnya. Bayangkan manusia yang bisa memproses gambar, suara, teks, emosi, dan kemungkinan eksistensial sebuah partikel kuantum, itulah Matt.
Ia memimpin proyek Molmo, chatbot AI yang bisa membaca pikiranmu… kalau kamu cukup transparan di media sosial. Ia membuat startup Vercept, yang hanya dengan 10 karyawan berhasil meraup Rp 270 miliar. Itu artinya, tiap orang di startup-nya mungkin bisa beli apartemen dan tetap punya sisa buat bikin AI baru yang bisa menggantikan mereka.
Jangan lupakan penghargaan NeurIPS, event sains paling serius yang bahkan tak bisa dieja oleh separuh orang tua kita. Matt menang di sana. Bukan karena koneksi, apalagi ordal. Bukan karena main politik, atau anak jenderal. Tapi karena otaknya sudah overclock sejak lahir.
Meta sendiri, ibarat bangsa Asgard yang sedang membangun senjata untuk menghadapi Ragnarok, sedang mengumpulkan dewa-dewa AI demi menciptakan Superintelligence, yakni kecerdasan buatan yang bisa mengungguli manusia, menggantikan kita di kantor, dan mungkin suatu saat memimpin upacara bendera one piece.
Mark Zuckerberg kini mirip Odin. Ia bermata satu, tapi melihat jauh ke masa depan (karena satu mata lagi fokus di metaverse). Ia rela menggelontorkan Rp 1.180 triliun untuk server, listrik, kabel bawah laut, dan tentu saja, untuk para nabi digital seperti Matt.
Pertanyaannya, apakah Matt Deitke akan menyelamatkan dunia? Atau justru membuat AI yang bisa menulis novel, menggantikan dosen, dan membuat penyair-penyair manusia hanya relevan di acara 17-an?
Tak ada yang tahu. Tapi satu hal pasti, mulai hari ini, kita semua harus berlatih menyebut “Rp 4 triliun” dengan nada biasa. Karena di dunia baru ini, itu bukan lagi angka absurd. Itu cuma… gaji anak magang level dewa.
Kira-kira ada ndak sih anak muda jenius Indonesia kayak Matt Deitke? Kalau ada mau saya ajak ngopi.
Rosadi Jamani












