Jakarta, PBSN – Banyak followers minta saya membahas apa maksud tagar #sellindonesia. Pengikut Partai Koptagul juga harus paham soal yang lagi hangat dibahas ini. Saya coba bahas dengan gaya warkop mudahan bisa dipahami.
Awal Juni 2026, jagat keuangan Indonesia mendadak lebih ramai dari arisan emak-emak yang hadiah utamanya kulkas empat pintu. Penyebabnya bukan perang, bukan meteor, bukan pula tertangkapnya Harun Masiku dan Silperster Matutina. Penyebabnya cuma satu kalimat dari seorang pengelola dana asal Australia bernama George Boubouras dari K2 Asset Management.
Dengan santainya ia berkata, “The big trade in Asia is sell Indonesia.” Boom!
Kalimat itu meledak seperti rudal Fattah menghantam Tel Aviv. Media internasional langsung menggorengnya. Artikel dari media Singapura berjudul “Sell Indonesia sweeps trading desks as Prabowo tightens grip” ikut menyiram bensin ke api. Dalam hitungan jam, tagar #SellIndonesia bertebaran di media sosial.
Netizen Indonesia langsung bereaksi seperti warga kampung yang mendengar kabar ada tuyul mencuri tabungan RT.
“Wah, jangan-jangan ini operasi internasional!”
“Ini pasti ada rapat rahasia!”
“Singapura panik melihat Indonesia maju!”
Teori konspirasi tumbuh lebih cepat dari jamur di musim hujan.
Di pasar keuangan, efeknya nyata. Rupiah sempat terjungkal ke atas Rp 18.000 per dolar AS. IHSG ikut limbung. Investor asing kabur membawa lebih dari Rp 67 triliun. Mereka khawatir terhadap arah kebijakan ekonomi yang dianggap makin penuh intervensi, ditambah proyek-proyek besar seperti makan siang gratis dan Danantara yang membuat sebagian analis luar negeri mengelus dada sambil memandangi kalkulator.
Lalu terjadilah adegan yang tidak disangka-sangka. Saat banyak orang meramalkan rupiah akan masuk ICU, si burung Garuda justru mulai mengepakkan sayapnya lagi.
Per 14 Juni 2026, rupiah berhasil menguat ke kisaran Rp 17.800–Rp 17.900 per dolar AS. Memang belum seperti masa-masa indah yang membuat ekonom tersenyum lebar, tetapi setidaknya sudah menjauh dari jurang Rp 18.000.
Nah, di sinilah letak kehebatannya. Bank Indonesia mendadak berubah seperti kiper Maroko, Bono, yang sukses menangkis serangan Brazil. Pada 9 Juni 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Belum cukup, mereka juga mengguyur pasar dengan berbagai instrumen moneter, termasuk SRBI, sambil melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Hasilnya mulai terlihat. Modal asing masuk Rp 15,11 triliun hanya dalam satu hari. Pemerintah juga menjalankan PP Nomor 21 Tahun 2026 yang mewajibkan 100 persen devisa hasil ekspor disimpan di dalam negeri. Dolar pun mengalir ke pasar domestik seperti air dari bendungan yang baru dibuka.
Di saat bersamaan, dolar AS sedikit melemah karena ketegangan Timur Tengah mereda. Kombinasi faktor-faktor itu membuat rupiah perlahan bangkit dari kasur setelah sempat pingsan karena diteriaki #SellIndonesia.
Lucunya, ketika sebagian netizen masih sibuk perang hashtag dan mengajak dunia melakukan #SellSingapore, pasar justru bergerak berdasarkan uang sungguhan, bukan berdasarkan komentar Facebook sepanjang tujuh paragraf.
Ini seperti pertandingan tinju. Di luar ring, penonton berteriak histeris. Di dalam ring, yang menentukan hasil tetap pukulan.
Apakah rupiah sudah aman? Belum tentu. BI masih memproyeksikan nilai tukar bisa bergerak menuju Rp 16.200–Rp 16.800 pada akhir tahun. Namun pasar keuangan itu ibarat kambing yang minum kopi. Sulit ditebak dan sering membuat pemiliknya pusing.
Yang jelas, skandal #SellIndonesia memberi pelajaran menarik. Satu kalimat dari seorang manajer investasi Australia sempat membuat pasar panik. Pada akhirnya rupiah menunjukkan, ia belum mau pensiun dini. Berkali-kali diramal tumbang, berkali-kali pula ia bangkit.
So, kalau ada yang bertanya siapa pemenang ronde pertama drama #SellIndonesia, jawabannya sederhana, rupiah. Meski sempat dihajar, dicibir, dan diramal tamat, ia masih berdiri sambil berkata, “Belum selesai, Bos!”
Rosadi Jamani












