Setelah Rezim Serbia Tumbang, Apakah Rezim Macron Prancis Mampu Bertahan?

Beograd, PBSN Indonesia – Kita ke luar negeri lagi. Eropa sedang mengalami wabah aneh. Bukan cacar monyet, bukan flu burung, bukan pula virus bikin orang tiba-tiba bisa Rentak Kudo Kerinci. Ini lebih mengerikan, virus rakyat melawan penguasa! Benarkah?

Di Serbia, kekuasaan bertahan 14 tahun akhirnya tumbang setelah hampir dua tahun mahasiswa melakukan perlawanan. Mahasiswa menang, rakyat bersorak, sejarah mencatat. Budak-budak kampus biasanya dikejar dosen karena telat mengumpulkan tugas, kali ini justru membuat penguasa kehabisan jawaban.

Nuan bayangkan! Biasanya mahasiswa disuruh keluar ruangan oleh dosen. Ini malah penguasa dipaksa keluar dari panggung politik. Dunia seperti mengalami korsleting. Stopkontak demokrasi meledak, kabel kekuasaan terbakar, tukang servis istana langsung buka praktik.

Belum selesai Serbia merayakan, Prancis ikut panas. Presiden Emmanuel Macron menghadapi gelombang demonstrasi akibat mahalnya biaya hidup, persoalan pendidikan, dan tuntutan kesejahteraan. Pada 24 Oktober, pemerintah menyebut 410.000 demonstran turun ke jalan. Sedangkan serikat pekerja mengklaim jumlahnya mencapai 800.000 orang. Sebanyak 70.000 polisi dikerahkan untuk menjaga keamanan.

Tujuh puluh ribu polisi, wak! Kalau semuanya ditugaskan mengawasi harga kebutuhan pokok, mungkin harga bawang langsung sujud sambil meminta ampun. Sayangnya, yang berhadapan dengan polisi justru rakyat sedang menyuarakan keresahan.

Di Paris, Nantes, Lyon, dan Bordeaux, ketegangan terjadi. Gas air mata ditembakkan, kendaraan lapis baja dikerahkan. Sementara rakyat tetap menyuarakan tuntutan. Macron tentu belum otomatis tumbang. Tetapi suasana politiknya sedang diuji, bukan sedang piknik menikmati croissant.

Konon, menurut imajinasi liar Warkop Camanewak, situasi ini membuat para presiden Eropa menggelar rapat darurat di bunker bawah tanah. Agenda pertama, memeriksa apakah mahasiswa sudah disusupi alien. Agenda kedua, menyita seluruh megafon. Agenda ketiga, menghapus kata demonstrasi dari kamus, lalu menggantinya dengan wisata berjalan kaki berjamaah.

Sayangnya, rapat tersebut gagal karena seorang mahasiswa menyusup membawa kalkulator. Ia menghitung harga sewa, biaya sekolah, dan belanja bulanan. Para pejabat langsung berkeringat. Kalkulator itu dinyatakan sebagai senjata pemusnah massal.

Konspirasi ini tentu cuma dagelan. Namun, kegelisahan serupa memang muncul di berbagai negara. Di Albania, demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama dan mempersoalkan tuduhan korupsi, pengangguran, serta pendidikan. Italia diguncang protes buruh soal upah dan biaya hidup. Portugal menghadapi kemarahan warga akibat mahalnya sewa rumah. Di Israel, demonstrasi terhadap Benjamin Netanyahu ikut memanaskan politik menjelang pemungutan suara parlemen.

Lah, ini Eropa sedang mengadakan arisan akbar apa bagaimana? Negara berbeda, bahasa berbeda, tetapi keluhannya seperti hasil fotokopi. Hidup mahal, masa depan mencemaskan, pemerintah dituntut mendengar.

Jangan-jangan ada grup WA rahasia bernama “Rakyat Sedunia: Sudah Muak, Bos!” Adminnya mahasiswa Serbia, wakil adminnya buruh Italia, sedangkan Macron cuma bisa membaca pesan tanpa berani mematikan notifikasi.

Sekali lagi, itu cuma humor, wak. Namun, pelajarannya serius. Demonstrasi besar tidak otomatis menjatuhkan pemerintahan, tetapi mengabaikan keresahan rakyat bisa memperbesar krisis kepercayaan.

Mampukah Macron bertahan? Belum ada bisa memastikan. Yang jelas, kursi kekuasaan bukan kursi pijat otomatis. Duduk terlalu lama sambil mengabaikan suara rakyat bisa membuat istana mendadak terasa seperti kursi listrik.

Sebab, mahasiswa boleh belum punya rumah, rakyat boleh belum punya tabungan, tetapi mereka masih punya suara. Suara yang berkumpul bisa lebih nyaring dari seribu pengeras suara istana. Kalau penguasa mulai takut mendengar rakyat, mungkin perlu diperiksa bukan megafonnya, melainkan telinganya!

“Itukan di Eropa, Bang. Di mari, sepertinya adem-ayem. Yang diributkan bukan biaya hidup, tapi ijazah. Prabowo pasti asyik ngopi di istana.”

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *