Reformasi Jilid II Mulai Digemakan Mahasiswa

Politik, Sosial79 Views

Jakarta, PBSN – Hampir semua sepakat negeri ini semakin salah arah. Saya pernah nanya seorang profesor di Untan, siapa yang bisa meluruskan negeri ini. Jawabannya, mahasiswa. Sepakat prof. Tak bisa lagi berharap pada wakil rakyat, partai politik, apalagi ormas. Mahasiswa masih menjadi agent of change. Hari ini, gerakan mahasiswa mulai menggemakan “Reformasi Jilid II” Simak narasinya.

Jakarta dari siang sampai malam mendung. Langit seperti sedang ikut menahan emosi melihat keadaan negeri yang makin hari makin mirip sinetron ijazah. Tokohnya ganti-ganti, tapi masalahnya tetap itu-itu juga. Sekitar pukul 14.00 WIB, ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cirendeu, dan Universitas Pamulang datang ke Gerbang Pancasila DPR/MPR RI. Mereka tidak datang membawa proposal bagi-bagi jabatan. Mereka datang membawa spanduk yang isinya lebih pedas dari sambal setan level tujuh.

“REFORMASI JILID II”, “Makan Bikin Goblok”, “Indonesia Gawat Darurat”, “Ibu Pertiwi Memanggil”, dan “Jangan Melemah Kita Bukan Rupiah”. Tulisan-tulisan itu seperti pesan WA dari rakyat yang sudah centang dua bertahun-tahun tetapi tidak pernah dibalas. Di bawah cuaca murung pasca hujan, mereka berteriak, berorasi, menggoyang pagar, menendangnya, bahkan melempar botol minuman ke area dalam gedung. Pagar DPR berguncang seperti sedang ikut stres membaca berita ekonomi.

“Kita minta Prabowo-Gibran mundur karena gagal memimpin Indonesia,” teriak salah seorang mahasiswa. Kalimat itu meluncur seperti rudal politik yang ditembakkan langsung ke jantung kekuasaan. Sementara itu mahasiswa bersumpah tidak akan pulang sebelum ada pihak berwenang yang mau menemui mereka dan menjawab tuntutan “Reformasi Jilid II”. Sampai berita ini diturunkan, aksi masih berlangsung. Mahasiswa tetap berdiri. Polisi tetap berjaga. Dan rakyat tetap bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang sedang mendengar siapa?

Yang lebih spektakuler adalah jumlah aparat yang diterjunkan. Sebanyak 5.955 personel gabungan dikerahkan ke berbagai titik Jakarta Pusat. Jumlah itu membuat orang bisa salah paham mengira Jakarta sedang bersiap menghadapi Godzilla. Padahal yang datang adalah mahasiswa membawa spanduk dan pengeras suara. Personel ditempatkan di Silang Selatan Monas, DPR/MPR RI, dan Bundaran HI. Unsurnya lengkap, Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, BKO TNI, hingga Pemda.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung menegaskan pengamanan dilakukan secara humanis, persuasif, dan profesional. Ia meminta seluruh personel tetap berkepala dingin serta mengingatkan mahasiswa agar tidak anarkis. Sebuah adegan yang selalu hadir dalam serial panjang demokrasi Indonesia: mahasiswa berteriak menyelamatkan masa depan, aparat menjaga agar masa depan itu tidak terlalu berisik.

Namun Jakarta hanyalah panggung utama. Hari ini, Senin 15 Juni 2026, demonstrasi meledak hampir di seluruh Indonesia. Di Bandung, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati dan kampus lainnya memadati DPRD Jawa Barat. Di Semarang, BEM Undip memimpin tuntutan evaluasi program pemerintah. Di Malang, mahasiswa berpakaian serba hitam melakukan long march dengan spanduk legendaris “MBG: Maling Berkedok Gizi”. Di Majalengka, sekitar 200 peserta mengikuti aksi Majalengka Bergerak.

Di Medan, mahasiswa USU membawa sembilan tuntutan termasuk pembukaan 19 juta lapangan kerja. Di Padang, BEM KM Unand mendesak Prabowo-Gibran mengakui kegagalan kebijakan. Di Palembang, sekitar seribu mahasiswa BEM Nusantara berkumpul di DPRD Sumsel. Di Lampung, massa bergerak sejak pagi menuju DPRD. Di Banjarmasin, sekitar 500 mahasiswa menuntut perhatian terhadap pendidikan daerah terpencil. Di Balikpapan, massa bergerak menuju DPRD setelah salat Zuhur.

Tuntutan mereka hampir seragam, menolak Program MBG dan KDMP yang dianggap boros dan berpotensi menjadi ladang korupsi, menolak kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mencekik rakyat, serta menolak revisi UU Polri yang dinilai mengancam supremasi sipil. Kemarahan juga membesar setelah mencuat kasus dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional yang menyeret mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana.

Di tengah semua itu, mahasiswa kembali memainkan peran paling tua dalam sejarah republik, menjadi sirene kebakaran ketika banyak orang masih sibuk berdebat apakah asap yang terlihat itu benar-benar api. Mereka mungkin dicemooh, ditertawakan, bahkan dianggap tukang ribut. Tetapi sejarah Indonesia punya kebiasaan lucu sekaligus kejam. Ketika mahasiswa turun ke jalan secara serentak dari Jakarta sampai Kalimantan, biasanya bukan karena negara sedang baik-baik saja. Biasanya karena mereka sudah lebih dulu mencium bau sesuatu yang terbakar di dapur republik.

“Bang, di Kalbar tak ada mahasiswa demo, ya?”

“Mungkin mereka sedang asyik kuliah, ingin cepat tamat, lalu melamar kerja.”

Sumber foto: Ryandi Zahdomo/JawaPos.com

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *