Pontianak, PBSN – Kawan saya di Satupena sering share link berita Borneo FC. Padahal ia orang Jawa. Sementara saya orang Kalimantan tak pernah memberitakan klub satu daratan itu. Jadi malu. Untuk menembus rasa malu ini saya coba narasikan sambil seruput Koptagul.
Dulu banyak orang mengira Kalimantan itu cuma tempat tiga hal, yakni orangutan, tambang, dan sinyal internet yang muncul-hilang seperti janji kampanye. Kalau bicara sepak bola nasional, pulau ini sering dianggap cuma penonton. Klub-klub Jawa pesta trofi, Kalimantan kebagian tepuk tangan. Tapi musim 2025/2026, semua mendadak berubah gara-gara satu makhluk bernama Borneo FC.
Pesut Etam ini main bola bukan lagi seperti klub biasa. Mereka seperti debt collector yang datang bawa surat sita. Sepuluh kemenangan beruntun. Lawan digilas satu-satu. Stadion Segiri bergemuruh seperti rakyat Sumatera saat listrik menyala. Bahkan di laga terakhir, Malut United dihajar 7-1. Ini sih ayam sayur, ups. Maaf Bu Sherly Tjoanda, keceplosan. Itu bukan laga sepak bola lagi. Itu sudah seperti nilai rapor murid IPA lawan anak bimbingan olimpiade.
Lucunya, setelah ngamuk sepanjang musim, gelar juara malah jatuh lagi ke Persib Bandung. Borneo FC cuma runner-up dengan 79 poin. Rakyat Kalimantan langsung paham satu filosofi hidup di republik ini. Kadang kerja keras saja belum cukup, harus punya aura “pusat peradaban” juga.
Tapi jangan salah. Runner-up ini bukan kekalahan. Ini trailer film horor untuk Liga 1 musim depan.
Sebab Kalimantan sebenarnya sudah lama punya DNA sepak bola gila. Lihat saja Persiba Balikpapan. Klub yang lahir tahun 1950 ini dulu dijuluki Tim Selicin Minyak. Cocok sekali dengan kota minyak. Main mereka licin, cepat, dan bikin lawan tergelincir harga diri. Era 2009-2010, Persiba finis peringkat tiga nasional. Mengalahkan klub-klub besar yang suporternya kalau kalah langsung menyalahkan wasit, jadwal, cuaca, bahkan fase bulan.
Lalu ada PS Barito Putera. Klub ini lahir dari janji di rumah sakit. Bukan dari kongres hotel mewah sambil makan prasmanan. Dari klub amatir, Barito menjelma jadi kebanggaan Banua. Mereka seperti warung soto pinggir jalan yang awalnya diremehkan, eh tiba-tiba cabangnya ada di mana-mana.
Belum lagi PS Mitra Kukar. Si Naga Mekes ini punya sejarah lebih liar lagi. Berakar dari NIAC Mitra Surabaya era Galatama, mereka pernah mengalahkan Arsenal 2-0 tahun 1983. Iya, Arsenal Inggris itu. Kalau ada fans Arsenal sok galak di media sosial, warga Kukar tinggal bilang, “Santai, leluhur klub kami pernah bikin Arsenal pulang sambil nyari Tolak Angin.”
Yang paling menarik, klub-klub Kalimantan ini mulai mandiri. Mereka tidak lagi hidup dari proposal “demi pembinaan generasi muda” yang ujungnya pengurus ganti Fortuner. Borneo FC didukung korporasi kuat milik Nabil Husein. Barito Putera dibeking Hasnur Group. Mereka sadar satu hal, kalau terus bergantung APBD, nasib klub bisa seperti jalan proyek, mulus saat pemilu, hancur setelahnya.
Suporternya? Ah, ini bagian paling keren. Pusamania memang belum sebesar Bobotoh atau Jakmania. Tapi mereka punya sesuatu yang langka di negeri +62, fanatik tanpa jadi toxic. Banyak suporter lawan mengaku disambut seperti saudara di Samarinda. Pian bayangkan, di zaman orang ribut gara-gara beda pilihan capres, masih ada fans bola yang bisa bikin tamu merasa nyaman. Itu lebih langka dari harga cabai stabil.
Kini Kalimantan tidak lagi cuma penonton. Mereka sedang naik panggung. Dari Balikpapan, Banjarmasin, Kukar, sampai Samarinda, satu pesan mulai terdengar keras, orang Borneo bukan cuma jago mengangkut batu bara, tapi juga bisa mengangkut trofi.
Percayalah, ikam. Hari ini runner-up. Besok bisa juara. Kalau itu terjadi, satu Kalimantan bakal pesta seperti menemukan cadangan minyak baru.
“Bang, Persipon Pontianak kapan ke Liga 1?”
“Udahlah, wak, usah nak ngomong itu, bagus kita ngopi lagi.






