New York, PBSN – Beliau sering diejek oleh Donald Trump, “Komunis lho..!” Bahkan, si rambut jagung itu mengancam akan setop dana federal untuk Kota New York. Selain sering dibully Trump, ia juga harus melawan internal partainya sendiri. Itulah sosok Mamdani berpeluang besar menjadi walikota New York, ibukotanya dunia. Siapkan kopi tanpa gulanya, wak!
Di suatu pagi di New York yang biasanya hanya diisi suara klakson, bau kopi Starbucks, dan orang-orang yang sibuk pura-pura penting, dunia mendadak berhenti sejenak, Zohran Kwame Mamdani, pria Muslim, kelahiran Uganda, alumni Bronx High School, rapper separuh waktu dengan nama panggung Mr. Cardamom, dan pemuja keadilan sosial yang tak bisa diam, terpilih sebagai calon Wali Kota New York dari Partai Demokrat. Ia mengalahkan Andrew Cuomo. Iya, Andrew freaking Cuomo, sang mantan gubernur, pemilik alis tajam dan ego lebih tebal dari tembok Meksiko yang gagal dibangun Trump.
Kemenangan ini bukan sekadar kemenangan biasa. Ini adalah meteor politik yang menabrak kepala dinosaurus status quo. Mamdani tidak hanya menantang sistem, ia mengejeknya, menari di atasnya, dan menulis lirik hip hop tentangnya. Dengan perolehan suara 56 persen, angka yang bahkan lebih tinggi dari nilai ujian Matematika sebagian besar warga AS, Mamdani menampar Cuomo secara digital, moral, dan spiritual. Proses pemilunya juga absurd luar biasa: karena sistem ranked-choice voting, suara dihitung seperti sedang main Uno campur Sudoku, dan pada akhirnya semua orang bingung tapi Mamdani menang.
Saat Cuomo mencoba menelan pil pahit kekalahan, dibungkus retorika, dilapisi nostalgia masa jabatan, Mamdani berdiri di atas podium seperti protagonis film Bollywood yang baru mengalahkan 30 orang jahat dan satu sistem politik. Ia tidak membawa pedang, tapi membawa manifesto, layanan bus gratis, pajak untuk jutawan, toko bahan makanan milik kota, dan pembekuan sewa yang bikin landlord se-New York insomnia berjamaah.
Ketika media mulai berteriak “Komunis!” seperti burung camar mencium sisa kentang goreng, Mamdani tak bergeming. Ia hanya tersenyum seperti Sufi yang baru saja menemukan makna hidup di tengah Times Square, lalu berkata, “Saya rasa kita tidak perlu punya jutawan.” Sebuah kalimat yang membuat pasar saham goyang, Forbes menangis, dan Elon Musk mendadak ingin cuti dari X.
Kemenangan Mamdani bukan sekadar statistik. Ini adalah puisi revolusi. Seorang pria dari keluarga intelektual, yang ibunya adalah sutradara kondang dan ayahnya profesor postkolonial, masuk ke jantung kapitalisme Amerika dan berkata, “Saya di sini bukan untuk main aman. Saya di sini untuk membakar meja makan oligarki.” Dalam satu gerakan politik, ia menjadi hantu dalam mesin demokrasi yang terlalu lama dikendalikan oleh teknokrat botak dengan dasi mahal dan mimpi kecil.
Jika ia menang di pemilu November, New York akan punya wali kota Muslim pertama, milenial pertama, dan satu-satunya rapper yang bisa bicara soal Palestina, pajak progresif, dan beat trap dalam satu napas. Bukan tidak mungkin, setiap rapat dewan kota akan dibuka dengan freestyle.
Ini bukan hanya soal politik. Ini tentang sebuah dunia di mana kekuasaan tak lagi disterilkan, disemir, dan dikemas dalam paket birokrasi hambar. Ini tentang kekuasaan yang berani memeluk kemanusiaan, meninju sistem dari dalam, dan tetap tampil keren di TikTok. Zohran Mamdani bukan hanya calon wali kota. Ia adalah glitch dalam Matrix, sajak dalam dokumen hukum, dan, jika sistem tak segera sadar, ia adalah awal dari akhir pesta para tuan tanah.
New York, bersiaplah. Tuan rumah sedang diganti. Dia datang bukan dengan jas, tapi dengan hoodie, beat hip hop, dan bom moral di sakunya.
Duh, jadi ingin ngopi di Warkop NYC, 366 West 52nd Street, New York City.
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar






