Oleh: Astha Yudhana
Pangkal kehebohan ini sebenarnya hanya satu: ada orang yang kebelet jadi Cawapres, tapi tidak digubris. Namanya Erick Thohir.
Sejak awal sebenarnya kejuaraan piala dunia U-20 itu sulit untuk diwujudkan. Pak Lurah yang punya ambisi untuk mencetak sejarah, terninabobokan oleh Erick.
Makanya Iwan Bule digeser. Dengan harapan, Erick akan lebih bersinar. Tapi namanya juga urusan ruwet. Mau siapapun yang jadi komandan, ya tetap aja ruwet.
Karena semua itu berkaitan dengan hal-hal kompleks. Ada soal kesiapan stadion, keamanan suporter, sentimen masyarakat terhadap Israel.
Masih ada satu lagi soal konstitusi. Negara dengan tegas melarang semua simbol Israel digunakan. Baik kop surat, lagu, bendera, apalagi delegasi resmi negara.
Pokoknya ruwet.
Tapi yang namanya Erick, dia pantang balik badan sebelum dapat keuntungan. Disulaplah pangggung yang dia miliki itu dengan segenap drama.
Mulai ke bandara dengan wajah murung. Bikin gerakan pita hitam. Begitu juga dengan narasi yang terus diulang-ulang: berjuang untuk menyelamatkan kejuaraan.
Lah, kejuaraan sudah dibatalkan jauh-jauh hari, apa yang mau diperjuangkan?
Siasatnya tidak berhenti di situ saja. “Kejahatan” lain yang dilakukan Erick adalah menutupi fakta dari publik. Bahkan mungkin dari Pak Lurah. Yang dia tampilkan adalah drama. Akting memukau di atas pangung.
Arya Sinulingga sebagai tangan kanannya kemudian menyalak keras. Dia koar-koar ke mana-mana, ini salah Koster dan Ganjar. Gara-gara mereka berdua kejuaraan dibatalkan.
Tapi itu semua tentu kebohongan publik. Sebuah siasat jahat agar energi kekecewaan suporter bola mengarah ke Ganjar. Hasilnya, Erick sebagai Ketua PSSI tidak dijadikan sasaran tembak.
Kalaupun terpaksa disalahkan, jawabnya enteng, lho, saya kan baru saja gantiin Iwan Bule, masak mau main sulapan?
Dia malah dapat panggung gratis. Mendadak pahlawan. Modalnya tiket pulang-pergi Jakarta-Doha. Itupun yang ngongkosin negara.
Kemudian Erick yang mau diduetkan dengan Prabowo itu membuat strategi yang bikin pusing seluruh Indonesia, yaitu membenturkan Jokowi dan Megawati.
Jokowi yang sudah percaya Erick ya manut saja. Karena mungkin tidak menduga, ada skenario jahat yang akan menjebloskannya.
Karena selama ini Jokowi dibius harapan, bujukan dan rayuan. Seolah-olah setelah kasus Kanjuruhan itu Indonesia bisa menyulap keadaan.
Mahfud lapor, Pak kita belum siap. Tapi laporannya diacuhkan. Muhadjir lapor, Pak ini ada masalah. Tapi laporannya gak digubris.
Kenapa begitu? Ya karena Erick menyunat informasi. Apa yang ditampilkan di depan Pak Lurah serba baik, serba, indah, serba sempurna. Pokoknya yes bos banget.
Tapi ternyata stadion belum beres. Bujukan ke ormas Islam gagal dilakukan. Negosiasi ke FIFA juga dimentahkan.
Dalam kondisi yang runyam itulah Ganjar Pranowo dijadikan kambing hitam. Ganjar dikuliti hidup-hidup saat Erick melenggak-lenggok di atas panggung yang telah diciptakannya.
Sebenarnya FIFA memberikan solusi. Biar gak ampas banget. Ada kejuaraan dunia U-17. Tenggat waktunya lebih panjang. Dan yang bikin adem, Israel gak ikut main.
Tapi berita baik ini disimpan saja sama Erick. Orang-orang tahunya setelah dibuka oleh Tempo.
Dengan kata lain, Erick dan anjing penyalaknya, Arya, telah melakukan penggelapan informasi pada publik. Bahkan mungkin termasuk ke Jokowi.
Makanya gak masuk akal jika Jokowi melangkahi konstitusi. Itu bisa terjadi karena informasi dari Erick tidak utuh. Padahal menteri-menteri lain sudah memberikan peringatan.
Ambisi Erick telah menyebabkan keributan yang besar. Dia menjelma dirigen yang mengatur orkestra adu domba. Bukan hanya rakyat Indonesia yang dipecah-belah, tapi juga elit politik.
Gara-gara drama dan penyunatan informasi oleh Erick, hubungan Jokowi dan Megawati tegang. Bahkan sempat ada narasi yang membenturkan keduanya.
Kalau Erick punya prestasi, cara kotor semacam ini tidak perlu terjadi. Tapi ya begitulah kualitas Erick. Prestasi dia tak jauh-jauh dari memasang mukanya di mesin ATM atau menganeksasi baliho perayaan NU.
Orang-orang tahunya Anies oportunis dan berbahaya, ternyata Erick jauh lebih merusak dan jahat.






