MALIK TODING : BERMODAL BERANI, BISA BELI DAN KELOLA TIGA RESTORAN DI BELANDA (2)

Uncategorized679 Views

Hartford – Sebagai pelayan Panti Jompo di Belanda, Malik Toding, diaspora asal Toraja, Indonesia, mengaku membeli dan mengelola restoran di Belanda bagaikan orang yang berani masuk hutan tanpa memiliki dan membawa Kompas atau penunjuk jalan.

“Saya hanya bermodal berani, mulai keluar dari Panti Jompo, padahal saya sudah disekolahkan dan bisa menjadi pelatih atau pembimbing petugas atau pelayan junior,” katanya.

Lebih jauh Malik Toding berkisah bahwa:

“Ketika mulai membuka restoran, saya merekrut karyawan enam orang.

Sebagian karyawan saya adalah mahasiswa asal Indonesia yang tidak mendapatkan beasiswa. Mereka kuliah sambil kerja. Saya pilih mahasiswa karena ulet, mandiri, cepat kerjanya, pintas cari informasi, mudah berkomunikasi dengan customer, dan wajahnya ramah.

Ragam negara customer kami, selain orang Belanda, juga dari Iran, Nepal, Jerman, Spanyol, Amerika, dll.Saya sering berpesan ke staf saya, “makanan tambah enak ketika kita melayani dengan penuh keramah tamahan, penuh kehangatan dan bersahabat kepada costumer. Penampilan keramahtamahan dan kualitas produk itu adalah kuncinya.”

Ketika Eropa dilanda virus pandemik Covid-19. Berlaku berbagai peraturan secara ketat, misalnya tiga pakem protokol kesehatan: harus menjaga jarak dengan orang lain, rajin mencuci tangan, dan selalu memakai masker. Di mana semua kantor pemerintah dan swasta, termasuk restoran pada tutup. Untuk menyikapi hambatan terakhir ini, untungnya setahun sebelumnya Malik Toding telah membuatkan dan mendaftarkan restorannya di “portal dan sistem delivery take away.” Ternyata trik itu manjur dan restoran tetap jalan dan berpenghasilan. Artinya, di tengah pandemik, pembeli banyak atau customer, kendati harus antri dan take away. Saat lockdown, Malik Toding mengaku memiliki 6 karyawan yang dikhususkan untuk mengantar (delivery) order ke customer.” Waktu itu kami ibaratnya harus berpacu dengan McDonald, karena mereka juga tidak melayani secara manual dan menerapkan takeaway jug
MALIK TODING: BERMODAL BERANI, BISA BELI DAN KELOLA TIGA RESTORAN DI BELANDA

Tulisan Bagian Kedua

Sebagai pelayan Panti Jompo di Belanda, Malik Toding, diaspora asal Toraja, Indonesia, mengaku membeli dan mengelola restoran di Belanda bagaikan orang yang berani masuk hutan tanpa memiliki dan membawa Kompas atau penunjuk jalan. “Saya hanya bermodal berani, mulai keluar dari Panti Jompo, padahal saya sudah disekolahkan dan bisa menjadi pelatih atau pembimbing petugas atau pelayan junior,” katanya.

Lebih jauh Malik Toding berkisah bahwa:

“Ketika mulai membuka restoran, saya merekrut karyawan enam orang.

Sebagian karyawan saya adalah mahasiswa asal Indonesia yang tidak mendapatkan beasiswa. Mereka kuliah sambil kerja. Saya pilih mahasiswa karena ulet, mandiri, cepat kerjanya, pintas cari informasi, mudah berkomunikasi dengan wajah yang ramah pada customer dari berbagai negara, seperti Iran, Nepal, Spanyol, Jerman, Amerika, dll. Saya sering berpesan ke mereka, “makanan tambah enak ketika kita melayani dengan penuh keramahtamahan, penuh kehangatan, dan bersahabat kepada costumer. Penampilan keramahtamahan dan kualitas produk itu adalah kuncinya.”

Ketika Eropa dilanda virus pandemik Covid-19. Berlaku berbagai peraturan secara ketat, misalnya tiga pakem protokol kesehatan: harus menjaga jarak dengan orang lain, rajin mencuci tangan, dan selalu memakai masker. Di mana semua kantor pemerintah dan swasta, termasuk restoran pada tutup. Untuk menyikapi hambatan terakhir ini, untungnya setahun sebelumnya Malik Toding telah membuatkan dan mendaftarkan restorannya di “portal dan sistem delivery take away.” Ternyata trik itu manjur dan restoran tetap jalan dan berpenghasilan. Artinya, di tengah pandemik, pembeli banyak atau customer, kendati harus antri dan take away. Bahkan saat Lockdown Malik Toding mengaku harus mengawal 6 orang karyawannya yang dikhususkan untuk mengantar (delivery) order kepada customer”. Waktu itu kami benar-benar ibaratnya berpacu dengan restoran lainnya, misalnya McDonald melayani pelanggan secara online dan delivery. Kini, setelah masuk era New-Normal, Malik Toding bersama karyawannya kembali seperti biasa, mengelola ketiga restoran dan toko kelontongnya di pusat-pusat keramaian di Den Haag dan Delft Belanda. Bahkan, Malik Toding saat ini sedang membidik lokasi keempat untuk buka cabang ketiga atau restoran keempatnya, nama restorannya sama, “Redjeki Restaurant.”

Kita berharap Pak Malik Toding terus meraih sukses agar dapat mengembangkan sayap usahanya, terutama di bidang restoran dan toko kelontong atau sembako.

Seperti apa komitmen, pesan, dan harapan Malik Toding pada diaspora atau mahasiswa Indonesia di berbagai negara lainnya, yang belum meraih sukses, dia akan berbagi tips pada tulisan ketiga, atau terakhir.

M. Saleh Mude
Kini, setelah masuk era New-Normal, Malik Toding bersama karyawannya kembali seperti biasa, mengelola ketiga restoran dan toko kelontongnya di pusat-pusat keramaian di Den Haag dan Delft Belanda. Bahkan, Malik Toding saat ini sedang membidik lokasi keempat untuk buka cabang ketiga atau restoran keempatnya, nama restorannya sama, “Redjeki Restaurant.”

Kita berharap Pak Malik Toding terus meraih sukses agar dapat mengembangkan sayap usahanya, terutama di bidang restoran dan toko kelontong atau sembako.

Seperti apa komitmen, pesan, dan harapan Malik Toding pada diaspora atau mahasiswa Indonesia di berbagai negara lainnya, yang belum meraih sukses, dia akan berbagi tips pada tulisan ketiga, atau terakhir.

(M. Saleh Mude)