Giliran Kiyai Said Bantah Ikut Menulis Buku Islam Ala Prabowo

Jakarta, PBSN – Tulisan ketiga kisah Buku Islam Ala Prabowo. Sebelumnya dua tokoh nasional, Gus Kautsar dan Zainul Majdi membantah ikut terlibat menulis buku dengan cover wajah Prabowo itu. Terkini, KH Said Agil Siradj juga ikut membantah. Waduh, itu tulisan siapa, dong? Jin Krakatau kali, ups.

Mantan Ketua Umum PBNU dua periode itu namanya tercantum sebagai kontributor buku. Bahkan beredar screenshot percakapan WA diklaim berasal dari kontak terkait KH Said Aqil Siradj.

Seseorang mengirim foto daftar isi buku yang mencantumkan nama beliau dalam bagian “Berislam Nusantara Ala Prabowo Subianto.” “ Tercantum di Bagian II: Spiritualitas Prabowo Subianto, pada halaman 129.

Balasannya singkat. “Tdk benar saya tdk tau menau sayapun kaget.” Makjleb! Yang membaca kaget. Yang namanya tercantum juga kaget. Jangan-jangan bukunya paling santai karena dia tidak punya urusan dengan siapa pun.

Dalam waktu kurang dari 48 jam, tiga nama besar yang tercantum dalam buku setebal 346 halaman sudah membantah keterlibatan mereka. Daftar isi akhirnya terasa seperti daftar tamu kondangan yang ditulis panitia berdasarkan perasaan.

Nama dicantumkan. Ketika dikonfirmasi, “Bapak datang?” “Tidak.” “Bapak menulis?” “Tidak.” “Bapak memberi izin?” “Apalagi itu!”

Lho, cak! Ini buku atau permainan petak umpet?

Padahal peluncurannya bukan acara arisan RT. Buku tersebut diluncurkan secara resmi pada 26 Agustus 2025 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, dalam rangkaian Rakornas Baznas. Hadir Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Ketua Baznas Prof. Dr. KH Noor Achmad, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar yang mewakili Presiden Prabowo, serta ulama pesantren Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, yang menulis epilog.

Penggagasnya adalah Ketua MPR Ahmad Muzani, sedangkan penulis yang tercantum adalah Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.

Muzani, eks Sekjed Partai Gerindra 17 tahun, menjelaskan buku tersebut menggambarkan perjalanan religius Prabowo sejak masa muda, karier militer, hingga kepemimpinannya sebagai Presiden.

Konsepnya terdengar serius. Namun setelah publik membongkar daftar isinya, seriusnya berubah menjadi lucu. Sebelumnya para pembela buku mengingatkan, “Jangan hanya lihat cover dan judul. Baca isinya!”

Masalahnya sekarang, publik sudah mencoba membaca isinya. Yang ditemukan malah pertanyaan, “Lho, ini tulisan siapa?”

Gus Kautsar disebut menulis bab Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto di halaman 318. Namun dibantah.

TGB dicantumkan sebagai penulis Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan di halaman 241. Namun ia mengatakan tidak pernah mengirim tulisan.

Kini nama KH Said Aqil Siradj ikut masuk barisan yang membantah. Tiga tokoh. Tiga bantahan. Satu buku.

Baznas sebelumnya juga sudah meminta maaf melalui percakapan WA beredar dan menjelaskan, buku itu bukan produk kebijakan Baznas dan bukan rujukan ajaran Islam resmi. Buku tersebut diluncurkan dalam rangkaian Rakornas sebagai bentuk sinergi kelembagaan, sementara mandat Baznas tetap mengelola zakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011.

Maka pertanyaan publik sekarang sederhana, tetapi jawabannya bisa bikin kepala berasap. Kalau nama-nama yang tercantum tidak merasa menulis, siapa yang menulis? Jangan sampai nanti dibuat buku jilid dua, Islam Ala Prabowo: Mencari Penulis yang Tidak Pernah Menulis.

Kalau begini ceritanya, pembaca memang diminta membaca isi buku. Tetapi sebelum itu, mungkin perlu dibentuk dulu Panitia Khusus Pencarian Penulis. Sebab buku ini awalnya mau memberikan pencerahan spiritual. Sekarang malah memberikan latihan investigasi.

Judulnya Islam Ala Prabowo. Genrenya? Misteri. Subgenre? “Penulisnya saja tidak mengaku menulis.”

Sementara pembaca? Cuma bisa melongo sambil bertanya, ini sebenarnya buku apa, Wak? Entahlah. Bagus baca tulisan saya edisi spesial, Malam Jumat aja. Jelas penulisnya, ups.

“Bang, kalau semua penulis membantah, gimanalah?”

“Tak mungkin, wak. Itu namanya melecehkan Prabowo.”

 

 

 

Rosadi Jamani