Sumber foto: foxnews.com
Teheran, PBSN – Jelang tengah malam, kita lanjutkan kisah Iran yang semakin bergejolak. Saya berusaha menulis apa adanya sesuai dengan sumber media yang kredibel. Namun, saya sering dicap penulis pro barat. Tak jarang dicap agen Mossad dan CIA. Ya, wes lah, risiko menulis di media sosial. Untungnya, ada Koptagul yang selalu menemani sehingga otak selalu encer dan waras. Simak narasinya.
Iran sedang menulis bab paling gelap dalam sejarah modernnya. Bukan dengan tinta undang-undang atau pidato kenegaraan, melainkan dengan darah yang mengering di aspal kota. Sejak akhir Desember 2025, negeri ini tak lagi berdetak sebagai republik, melainkan berdenyut sebagai ladang pengorbanan. Rakyat turun ke jalan membawa tubuh rapuh dan amarah yang lama dikunci, negara menjawab dengan peluru, dan dunia menyaksikan sambil menghitung, berapa nyawa lagi yang bisa ditoleransi sebelum disebut krisis global.
Di jalanan Tehran, Isfahan, Mashhad, Shiraz, hingga Qom, kematian menjadi bahasa resmi kekuasaan. Senjata api, peluru logam, gas air mata, meriam air, dan popor senjata bekerja seperti orkestra yang sudah lama berlatih. Amnesty International dan Human Rights Watch mencatat pola kekerasan negara yang berulang dan sistematis. Kepala HAM PBB, Volker Türk, menyebutnya “kekerasan mengerikan”, istilah diplomatik yang terasa terlalu sopan untuk menggambarkan tubuh-tubuh yang roboh tanpa nama.
Angka korban menjadi medan tempur berikutnya. Aktivis HAM HRANA mencatat sedikitnya 646 orang tewas hingga 13 Januari 2026. Media internasional berhenti di kisaran 544–646 korban. Lalu negara sendiri, dalam ironi paling sinis, mengakui hampir 2.000 korban jiwa. Namun, dengan satu catatan licin, mereka bukan korban represi, melainkan “teroris”. Kebenaran pun terbelah menjadi dua versi, dan di antaranya terbentang jurang sunyi yang diisi tangis keluarga korban.
Untuk memastikan versi negara menang, internet dipadamkan. Lima hari berturut-turut Iran dibisukan, seolah kebenaran bisa dicekik dengan mematikan jaringan. Dalam gelap digital itu, kesaksian hilang, video lenyap, dan dunia diberi ruang nyaman untuk ragu. Pemadaman internet bukan sekadar kebijakan keamanan, melainkan alat sastra kekuasaan. Jika cerita rakyat terlalu keras, hapus saja narasinya.
Di sinilah propaganda mengambil alih panggung. Narasi resmi pro-rezim dengan percaya diri membalikkan fakta. Demonstrasi besar yang meluas sejak akhir Desember 2025 disebut bukan gerakan rakyat Iran, melainkan ulah penyusup dan agen asing. Demonstran dicap teroris, boneka CIA, agen Mossad, kaki tangan Amerika Serikat dan Israel. Kerusuhan digambarkan sebagai bagian dari konspirasi intelijen Barat untuk mengguncang stabilitas Republik Islam. Media pemerintah dengan tekun mengulang satu kalimat kunci, ini bukan rakyat, ini infiltrasi.
Namun fakta di lapangan membandel. Pada 8 Januari 2026 saja, protes tercatat terjadi di 27 provinsi, dengan 156 aksi dalam satu hari. Skala nasional ini terlalu luas untuk disebut ulah segelintir penyusup. Ratusan hingga ribuan korban jiwa, ribuan penangkapan, lebih dari 10.000 orang ditahan secara sewenang-wenang. Semuanya berbicara lebih jujur dari pidato resmi. Jika ini hanya ulah agen asing, pertanyaannya sederhana dan mengerikan, sejak kapan agen asing berjumlah ratusan ribu dan hidup di setiap sudut Iran?
Ironi mencapai puncaknya ketika negara menggelar demonstrasi tandingan pro-rezim. Pada 12 Januari 2026, puluhan ribu orang memenuhi jalan-jalan utama Tehran dan kota besar lainnya. Bus-bus berbaris rapi, massa digiring, spanduk dibagikan. Media pemerintah menyebutnya bukti “rakyat Iran sejati”. Ayatollah Ali Khamenei menyebutnya peringatan bagi Amerika Serikat. Di sini, logika dibalik secara brutal. Rakyat yang turun spontan dianggap penyusup. Sementara massa yang dimobilisasi negara dijadikan simbol keaslian.
Satir tragedinya telanjang. Ketika rakyat berteriak lapar, mereka dicap agen CIA. Ketika mahasiswa turun ke jalan, mereka disebut Mossad. Ketika buruh mogok, mereka dituduh infiltrasi Barat. Namun ketika ribuan orang diangkut dengan bus dan dikawal aparat, itulah yang disebut suara murni rakyat. Negara tidak sekadar mengontrol jalanan, tetapi juga mendefinisikan siapa yang layak disebut warga.
Di luar Iran, tragedi ini menjelma kalkulasi global. Amerika Serikat mengancam intervensi militer, menekan negara lain agar tak membantu Teheran. Ancaman mengenakan tarif tinggi bagi negara lain yang membantu Iran. Rusia berhitung agar tak rugi terlalu jauh. China menimbang stabilitas dan minyak. Eropa cemas pada sanksi. Semua berbicara tentang HAM dan stabilitas kawasan, tetapi diam-diam menukar nyawa rakyat Iran dengan kepentingan strategis. Dalam persamaan geopolitik, manusia hanyalah variabel yang bisa dikorbankan.
Iran hari ini adalah cermin retak dunia modern. Ketika rakyat menuntut hidup layak dan kebebasan, negara menjawab dengan peluru dan label teroris. Ketika fakta membanjiri jalanan, propaganda membendungnya dengan narasi penyusup. Ketika dunia seharusnya berteriak, ia justru berhitung. Selama Iran terus berdarah dan dunia terus menghitung, satu hal menjadi jelas, dalam politik global, kebenaran sering kali bukan soal apa yang terjadi, melainkan siapa yang paling keras menentukan cerita.
Rosadi Jamani (Jurnalis)








