Empat Nama Ini Digadang-gadang Calon Pj Ketum PBNU

Politik439 Views

Jakarta, PBSN – Saya beralih ke Hotel Sultan sebentar ya! Soal bencana tanda tangan di tanah Sumatera, saya break sebentar. Bentar aja..! Nanti kita kulik lagi. Siapkan lagi Koptagul, simak narasi tentang update terkini Prahara PBNU.

Rapat Pleno Syuriyah PBNU di Hotel Sultan hari ini berjalan begitu mulus sampai-sampai petugas parkir pun mungkin bingung karena tidak ada drama, tidak ada demo, tidak ada penghadangan, dan tidak ada orang teriak “bubarkan!”. Semua undangan hadir. Mustasyar hadir, A’wan hadir, Syuriyah hadir, Tanfidziyah hadir… bahkan sandal jepit para kiai pun hadir berpasangan, lengkap, tidak ada yang hilang, ups. “Mulai tu ndagel”

Acara dibuka dengan doa bersama yang begitu khusyuk, seolah para peserta bukan sedang memilih Pj Ketua Umum, tapi sedang bersiap mengangkat meteor dari orbit dengan kekuatan zikir kolektif. Setelah itu dilanjutkan donasi peduli Sumatera. Ini membuktikan, dompet peserta pun turut hadir dengan penuh keimanan.

Semua unsur hadir, AC dingin, kursi empuk, kopi panas, dan suasana rapat sah secara konstitusi. Pokoknya ini rapat yang kalau difoto dari atas, bentuknya mirip bundaran HI, rapi, tertib, dan tidak ada yang melawan arus. Satu-satunya yang tidak hadir adalah nama calon Pj Ketum PBNU. Empat nama sudah beredar ke mana-mana, gosipnya kemana-mana, tapi siapa yang bakal dipilih? Hanya Tuhan, Rais Aam, dan sinyal WiFi Hotel Sultan yang tahu.

Empat nama itu muncul seperti rumor superhero baru Marvel, muncul di mana-mana tapi tidak ada yang bisa memastikan apakah benar atau cuma fan theory. Ada Gus Tajul yang menandatangani undangan dan mungkin kaget karena ternyata tanda tangannya bikin namanya masuk bursa. Ada KH Sarmidi Husna, yang tiap muncul wajahnya terlihat siap menekan tombol “setuju” kapan saja. Ada Prof Mukri, yang kalau bicara di media suaranya seperti dosen memberi kuliah umum tentang tata negara sambil menenangkan mahasiswa baru. Ada KH Amin Said Husni, yang baru saja jadi Sekjen tapi langsung dilempar ke kolam politik paling ganas, bahkan belum sempat menyimpan pulpen di laci meja kerjanya.

Tapi sebagaimana kaidah drama besar, pihak penolak pun muncul dengan gagah perkasa, kubu Gus Yahya. Mereka menolak rapat pleno di Hotel Sultan sekeras-kerasnya. Menurut mereka, rapat itu tidak sah. Bahkan kalau bisa, mereka mau bilang, “Ini rapat apa sih? Kok saya tidak ikut? Kembalikan remote kontrol organisasi!” Versi mereka jelas, rapat Syuriyah ini cacat prosedur, tidak sah, tidak legitimate, dan tidak bisa dijadikan dasar untuk menetapkan Pj Ketua Umum. Gus Yahya sendiri menegaskan, dia masih ketua umum sah hasil Muktamar 2021, bukan aktor sampingan yang bisa dicoret begitu saja. Mereka keliling pesantren, silaturahim ke kiai sepuh, konferensi pers, dan pokoknya bergerak seperti tim sepak bola yang tidak terima gol dianulir wasit.

Hasilnya, PBNU sekarang punya vibes seperti film dua semesta. Semesta Syuriyah sedang siap-siap pilih Pj Ketum, sementara Semesta Tanfidziyah bersikeras, ketumnya masih Gus Yahya. Dua-duanya punya pendukung, dua-duanya punya dalil, dua-duanya sama-sama yakin semestanya lebih benar. Kalau ini sinetron, ratingnya pasti tembus 12+, mengalahkan sinetron Mencintaimu Sekali Lagi di RCTI.

Di tengah semua itu, publik cuma menunggu satu hal, nama final Pj Ketua Umum PBNU. Empat nama sudah disebut. Suasana sudah tegang. Semua tokoh sudah ambil posisi. Tapi hingga detik ini, belum diumumkan. Lah, iyalah, kan plenonya baru dimulai. Kemungkinan, esok sudah ada definitifnya.

Makin lama makin jelas, PBNU sedang menciptakan cliffhanger paling mahal tahun ini. Drama politik, rapat penuh kiai, perdebatan legitimasi, dan empat nama misterius yang digadang-gadang. Semuanya sudah dihidangkan. Yang belum, siapa yang akan berdiri paling depan.

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *