Mengapa TVRI Sebaiknya Tidak Menayangkan Piala Dunia

Olahraga, Opini35 Views

Oleh : jonminofri nazir

Jakarta, PBSN – Setiap empat tahun sekali, Piala Dunia datang membawa dua hal sekaligus: pesta sepak bola dan wabah nasional bernama “mendadak jadi ahli taktik”. Dunia terasa bergetar ketika Messi, Ronaldo, Mbappe beraksi di lapangan hijau. Orang yang kemarin masih bingung membedakan sepak pojok dengan tendangan gawang, hari ini sudah sibuk mengkritik formasi 4-3-3. Di tengah demam itu, selalu muncul pertanyaan usil: haruskah TVRI ikut menyiarkan Piala Dunia?

Jawaban saya sederhana: jangan.

Bukan karena sepak bola tidak penting. Justru karena TVRI lebih penting daripada sepak bola.

TVRI bukan televisi swasta yang hidup dari rating, iklan, dan sponsor. Ia lahir sebagai lembaga penyiaran publik. Mandatnya bukan mengejar jumlah penonton, melainkan melayani kepentingan warga negara. Bahasa sederhananya, kalau televisi swasta berlomba membuat orang betah di depan layar, TVRI seharusnya membuat orang tahu lebih banyak dengan pengetahuan baru. Itu pekerjaan yang jauh lebih sulit. Dan, seperti biasa, manusia lebih suka gol salto daripada dokumenter tentang bahasa daerah yang hampir punah.

Masalahnya, hak siar Piala Dunia bukan barang murah. Rp 1 Triliun. Harga itu bisa membuat bendahara negara berkeringat sebelum pertandingan dimulai. Mengapa Presiden Prabowo ringan betul keluar Rp1 triliun, seperti membeli sapi qurban senilai Rp 1 triliun juga. Ini dua hal yang mestinya tidak dilakukan oleh Prabowo.

Ketika uang negara dipakai membeli tontonan impor yang sebenarnya mampu dibeli dan ditayangkan televisi swasta, kita patut bertanya: ini investasi publik atau sekadar ikut-ikutan euforia global? Rasanya agak aneh jika uang rakyat dipakai agar kita bisa menyaksikan Argentina dan Prancis di laga final piala dunia, sementara dokumenter tentang budaya Indonesia justru antre menunggu anggaran. Negara seperti sedang berkata, “Mari kita lestarikan warisan budaya… nanti saja setelah babak final selesai.”

Selain itu, setelah memperoleh hak siar, TVRI tetap menghadapi keterbatasan dalam penyajian. Dengan sumber daya yang terbatas, sulit bagi TVRI untuk menghadirkan kualitas produksi yang setara dengan televisi swasta, baik dari segi analis, program pendukung, maupun kegiatan promosi. Akibatnya, TVRI berpotensi tidak mampu bersaing secara optimal dalam penyajian konten tersebut.

Televisi swasta sebenarnya tidak perlu dibantu. Mereka tahu betul cara mengubah sepak bola menjadi mesin uang. Iklan mengalir, sponsor berdatangan, acara nonton bareng digelar di mana-mana. Mereka memang dibangun untuk itu. Jika TVRI ikut masuk ke arena yang sama, kesannya seperti perpustakaan membuka diskotek agar pengunjungnya ramai. Mungkin ramai, tetapi semua orang mulai lupa fungsi perpustakaan itu sendiri.

Lembaga penyiaran publik tidak seharusnya bersaing dalam bisnis hiburan. Tugasnya mengisi ruang yang tidak menarik bagi logika pasar. Ketika televisi swasta sibuk menayangkan pertandingan, TVRI justru bisa melakukan sesuatu yang tidak dilakukan siapa pun: menjelaskan taktik permainan, mengulas sejarah sepak bola Indonesia, membahas dampak sosial olahraga, mengangkat kisah atlet daerah, atau menghubungkan olahraga dengan pendidikan, kesehatan, dan karakter bangsa. Memang tidak akan viral seperti gol menit ke-90. Tetapi sejak kapan ukuran keberhasilan lembaga publik adalah viral?

Ironisnya, kita sering menuntut TVRI berbeda dari televisi swasta, tetapi begitu ada Piala Dunia kita justru berharap keduanya sama persis. Kalau begitu, untuk apa ada televisi publik? Kalau semua mengejar rating, siapa yang akan mengejar kepentingan publik?

Piala Dunia akan selesai dalam sebulan. Euforia akan padam. Jersey tim favorit akan kembali masuk lemari. Grup WhatsApp yang penuh analisis dadakan akan kembali membahas harga cabai keriting atau harga rupiah makin terpuruk. Tetapi mandat TVRI tetap ada. Ia tidak berganti setiap empat tahun.

Karena itu, membiarkan Piala Dunia menjadi wilayah televisi swasta bukanlah kekalahan TVRI. Justru itulah kemenangan akal sehat. Televisi publik tidak perlu ikut setiap pesta. Ada kalanya tugasnya adalah memastikan, ketika pesta usai dan lampu stadion padam, masyarakat masih memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar mengetahui siapa yang menjadi juara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *