Mengapa Kita Masih Percaya Pada Pemerintahan ini ?

Opini, Politik, Sosial17 Views

Jakarta, PBSN – Dalam panggung politik modern, janji kampanye adalah sebuah kontrak sosial tertulis antara calon pemimpin dan rakyatnya. Ketika mandat itu resmi berpindah tangan, detik waktu langsung berubah menjadi hakim yang paling adil sekaligus paling kejam. Hari ini, setelah melewati paruh waktu kepemimpinan Presiden Prabowo, publik mulai dihadapkan pada satu pertanyaan retoris yang menggugah nalar kritis: apakah arah bangsa ini masih berada di jalur yang benar, atau justru tengah berjalan mundur?

Menyoroti Keretakan Hukum dan Etika Penegak Negara

Melihat lanskap domestik hari ini, suara-suara skeptisisme tidak lahir dari ruang hampa. Ironi terbesar sering kali muncul dari sektor penegakan hukum. Ketika perut yang lapar bertemu dengan pemberitaan tentang korupsi yang kian merajalela, ketimpangan itu terasa semakin getir. Menjadi sangat naif ketika penegakan hukum yang diharapkan menjadi benteng keadilan bagi masyarakat kecil justru runtuh dari dalam, dirusak oleh oknum aparat sipil maupun aparat penegak hukum yang seharusnya berdiri di garis depan sebagai teladan moral bangsa.

Tekanan Ekonomi Domestik dan Menyusutnya Daya Beli

Kekecewaan di sektor hukum kian diperparah oleh situasi dapur masyarakat. Di bidang ekonomi, lesunya daya beli masyarakat dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang tak kunjung perkasa bukan sekadar angka statistik di atas kertas. Ia adalah beban nyata yang dirasakan langsung di dompet-dompet kelas pekerja setiap harinya. Ketika pemenuhan kebutuhan pokok menjadi perjuangan yang kian berat, ketidakpuasan publik secara logis akan langsung mengarah pada kebijakan ekonomi yang diambil oleh pemegang kemudi pemerintahan.

Penyumbatan Komunikasi Politik dan Alarm Kepercayaan Publik

Gelombang kekecewaan ini akhirnya menemukan muaranya di jalanan. Demonstrasi mahasiswa dan elemen sipil yang kembali marak adalah sinyal kuat bahwa ada sumbatan komunikasi politik antara penguasa dan rakyat. Ketika kebebasan berekspresi mulai dibayangi oleh tindakan yang dinilai represif, kualitas iklim demokrasi kita dipertanyakan. Fakta bahwa lembaga survei tepercaya sekelas SMRC merekam merosotnya tingkat kepercayaan publik hingga mendekati angka kritis 50 persen adalah sebuah alarm keras. Angka ini bukan sekadar rapor merah, melainkan refleksi dari akumulasi harapan publik yang belum kunjung terwujud.

Sudut Pandang Keberlanjutan dan Tantangan Global

Namun, sebuah analisis yang adil menuntut kita untuk melihat dinamika ini dari helikopter yang lebih tinggi. Apakah semua kemunduran ini murni karena kegagalan manajerial eksekutif? Para pembela keberlanjutan tentu punya argumen tandingan yang tidak kalah logis. Di era yang saling terhubung ini, kelesuan ekonomi domestik tidak pernah lepas dari hantaman badai geopolitik global dan restrukturisasi ekonomi dunia. Mengubah arah kemudi sebuah negara sebesar Indonesia dengan segala kompleksitas birokrasinya tidak seperti membalikkan telapak tangan; ia membutuhkan stabilitas politik dan waktu konsolidasi yang tidak sebentar. Dari sudut pandang ini, apa yang disebut sebagai ‘stagnasi’ mungkin adalah fase transisi yang berat namun krusial.

Menjaga Koridor Konstitusi Demi Stabilitas Nasional

Maka, ketika pertanyaan “Masih layakkah dipertahankan?” mencuat ke permukaan, jawaban yang bijak tidak boleh terjebak pada polarisasi hitam-putih. Secara konstitusional, Indonesia menganut sistem presidensial dengan masa jabatan yang pasti (fixed-term). Aturan main ini dirancang agar negara tidak mudah limbung oleh riak opini publik yang fluktuatif, serta memberikan kepastian bagi iklim investasi dan keberlanjutan pembangunan. Mengganti kepemimpinan di luar jalur pemilu tanpa adanya pelanggaran hukum berat (seperti pengkhianatan negara) justru berpotensi melahirkan kekacauan politik yang ongkosnya jauh lebih mahal bagi rakyat banyak.

Penutup : Mengapa Kita Harus Tetap Optimis?

Pada akhirnya, kegelisahan, demonstrasi, dan kritik tajam yang terjadi hari ini tidak harus dipandang sebagai pertanda kehancuran. Sebaliknya, dinamika ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat sipil Indonesia masih hidup, kritis, dan peduli terhadap masa depannya. Melalui tekanan publik dan kontrol sosial inilah pemerintah dipaksa untuk bangun dari kenyamanan, mengevaluasi kabinetnya, dan menyelaraskan kembali kompas kebijakannya dengan janji-janji kampanye yang dulu diikrarkan.

Kita tetap harus optimis karena sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini memiliki daya tahan (resilience) yang luar biasa dalam melewati berbagai krisis politik dan ekonomi. Riuh rendah kritik hari ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan “vitamin” yang akan mendewasakan demokrasi kita. Hak pengujian final yang paling mutlak dan sah tetap berada di tangan rakyat melalui bilik suara pada pemilihan umum berikutnya. Selama nalar kritis masyarakat tetap terjaga dan jalur konstitusi tetap dihormati, kita punya alasan kuat untuk percaya bahwa Indonesia akan selalu menemukan jalan keluar menuju masa depan yang lebih baik.

 

Oleh : Sobirin Malian
Dosen FH UAD

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *