Oleh : Faizal Assegaf
Kritikus
Lingkar kekuasaan silih berganti menjadi lapak empuk para pemburu jabatan. Di pusaran kelezatan itu, anak, ibu, istri, paman bahkan tikus selokan ikut berpesta. Demi pencitraan, asyik berlomba.
Jargon utamanya: Pilpres. Menyusul dayang-dayang dan segala rupa drama hiruk-pikuk demokrasi. Iklan politik dalam temali keluarga presiden, anak mantan presiden serta family Capres dan Cawapres.
Rakyat baru saja gusar soal dinasti politik Jokowi. Kini berganti calon pesaing, jauh lebih norak. Putri Anies dibumbui paling cerdas dari Gibran. Tak kalah heboh, putera Ganjar dipoles katanya pemalu.
Di panggung lain, Prabowo tampak kesepian. Ganjar, Anies dan Muhaimin, rame-rame pajang istri berhijab. Semakin lengket, terlihat mempesona. Dandan para calon ibu negara bersaing tipis-tebalnya bedak.
Semua pertunjukan aduhai itu tidak ada kaitannya dengan tujuan rakyat memilih Capres dan Cawapres. Hanya mengotori panorama politik. Rakyat butuh keadilan bukan lomba pajangan anak dan istri.
Walhasil, rakyat semakin tersadarkan. Wabah dinasti politik berawal dari gandeng, gendong dan goyang para calon penguasa. Dari situ, nongol aneka figur karbitan hasil racikan di jalur instan.
Dari Megawati, Puan hingga ke Gibran dan Kaesang, alurnya serupa. Hanya beda zaman dan cara mereka dikatrol. Tak kalah noraknya, tiga putri Gus Dur dan dua putera SBY, super sibuk berakrobat.
Negara seolah jadi sarang binalnya dinasti politik yang berputar-putar pada DNA pemburu tahta. Tak hanya di pusat eksekutif, namun di berbagai partai, kasta dan watak itu tumbuh subur.
Rakyat dibuat termarginal, miskin dan tertindas oleh perilaku maboknya kekuasan bertopeng moral dan etika. Wabah hipokrit tersebut membuat demokrasi hanya sarana penyalur hawa nafsu.
Rakyat menjerit, dinasti politik berjoget…!






