Formasi Baru Kabinet, Akankah Bisa Mewujudkan 17+8?

Opini, Politik291 Views

Jakarta, PBSN – Semenjak demo besar, Prabowo sudah dua kali ganti formasi kabinet. Kalau ada demo lagi, bakal ganti menteri lagi, ups. Para menteri yang dilantik wajib lho terima kasih sama mahasiswa yang demo tu. Simak narasinya sambil seruput latte di Nordu 2 Jalan Ujung Pandang Pontianak.

Jakarta, 17 September 2025. Langit keruh menggantung di atas Istana, persis kayak wajah rakyat yang bingung mau berharap atau menyerah. Presiden Prabowo Subianto berdiri gagah, mengangkat tangan kanan, membaca sumpah. Dari jauh terdengar suara kentongan imajiner, tok… tok… tok… tanda dimulainya episode baru sinetron politik negeri ini. Reshuffle bukan lagi kata yang keren, tapi sudah kayak “season baru” dari drama birokrasi yang entah kapan tamatnya. Selamat datang di Kabinet Merah Putih Jilid III.

Sebelas nama dipanggil. Sebelas takdir dipajang. Sebelas wajah dipaksa senyum meski hati mereka mungkin deg-degan kayak mahasiswa nunggu nilai ujian.

Lihat saja Letjen TNI (Purn) Djamari Chaniago. Dari loreng ke kursi Menko Polkam, langkahnya mantap macam tank baja. Konon, cukup dengan tatapan matanya, demo bisa bubar tanpa perlu gas air mata. Ia menggantikan Budi Gunawan, yang katanya lebih sibuk ngurus bayangan ketimbang kebijakan.

Lalu ada Erick Thohir. Dulu urus BUMN, sekarang dilempar jadi Menpora. Dari hitung laba-rugi jadi ngatur stamina pemuda. Transformasi ekstrem, bahkan Kafka kalau bangun dari kubur bisa tepok jidat, “Apa-apaan ini?”

Belum selesai. Muhammad Qodari, komentator politik paling rajin nongol di TV, sekarang resmi jadi Kepala Staf Kepresidenan. Analisisnya yang dulu cuma sekadar opini, kini bisa jadi perintah harian. Angga Raka Prabowo pun nongol sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah. Tugasnya jelas, menjelaskan kebijakan yang kadang para menterinya sendiri tak paham. Singkatnya, juru bicara zaman digital, di mana kata-kata bisa lebih bergizi dari fakta.

Masuk juga Ahmad Dofiri, mantan Kapolda. Jabatan barunya, Penasihat Khusus Presiden bidang Keamanan dan Reformasi Polri. Ia dikasih PR menjinakkan naga birokrasi yang doyan api sendiri.

Belum cukup, lima wakil menteri diselipkan. Ada Afriansyah Noor di Ketenagakerjaan, Rohmat Marzuki di Kehutanan, Farida Faricha di Koperasi, Sonny Sanjaya dan Naniek S. Dayang di Badan Gizi Nasional. Ya, gizi. Karena revolusi butuh nasi, bukan cuma narasi.

Sarah Sadiqa, Kepala LKPP, juga hadir. Ia dipasang sebagai benteng pengadaan, biar proyek negara nggak lagi berubah jadi ladang drama antara puisi dan korupsi.

Prabowo sendiri cuma bicara singkat, “Jangan banyak retorika. Rakyat menunggu hasil nyata.”
Kalimat pendek, tapi efeknya kayak mantra. Para pejabat yang biasa pamer pidato panjang mungkin langsung keringat dingin.

Pengamat politik menyebut reshuffle ini “penataan mesin negara”. Tapi bagi rakyat, ini cuma ganti channel sinetron. Aktornya berganti, ceritanya tetap. Lalu, kita, penonton setia di warung kopi, di ruang tamu, di medsos, cuma bisa menertawakan absurditas ini sambil bergumam, “Akankah 17+8 benar-benar bisa diwujudkan, atau cuma jadi angka mistis buat nambah bab dalam buku tebal bernama pemerintahan Nusantara?”

Dari setiap reshuffle, rakyat bisa belajar, jabatan hanyalah titipan, dan kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mengabdi. Mereka yang hari ini berdiri gagah dengan sumpah di bibir, suatu saat akan ditanya oleh sejarah, apakah benar bekerja untuk bangsa, atau sekadar memoles nama di lembar arsip birokrasi? Moral yang jelas, kursi itu bukan milik pribadi, melainkan amanah yang beratnya lebih dari sekadar seremonial pengucapan janji.

Bagi rakyat, pelajaran yang bisa dipetik adalah jangan mudah larut dalam euforia wajah-wajah baru, sebab sejatinya perubahan sejati tidak lahir dari seremoni, tetapi dari kerja nyata. Kita perlu mengingat, harapan itu bukan untuk dititipkan penuh pada pejabat, melainkan harus juga dijaga oleh kesadaran bersama bahwa negeri ini milik semua. Kalau pejabat lengah, rakyat jangan ikut tertidur, karena perjalanan bangsa adalah tanggung jawab kolektif, bukan tontonan sinetron politik semata.

Foto Ai, hanya ilustrasi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *