Yogyakarta, PBSN – Beberapa hari belakangan, saya merasa resah sekaligus marah karena mengikuti pemberitaan soal kasus kekerasan kepada puluhan bayi dan balita di daycare Little Aresha, Yogyakarta.
Anak-anak yang dititipkan untuk dijaga, justru mengalami perlakuan yang tidak semestinya. Sejumlah anak-anak diikat kaki dan tangannya bahkan ditempatkan di ruangan yang sangat sempit, jauh dari kata layak untuk tumbuh dan merasa aman.
Saya mengecam keras tindakan semacam itu. Sulit membayangkan bagaimana luka yang dirasakan para orang tua yang menitipkan anak-anak mereka dengan penuh kepercayaan, namun justru dikhianati dengan cara yang begitu menyakitkan.
Namun di tengah kemarahan itu, ada hal lain yang diam-diam ikut mengemuka di hati saya, dan tak kalah menyakitkan. Yaitu komentar-komentar yang muncul di media sosial, di mana ada sejumlah pihak yang justru menyalahkan ibu dari anak-anak korban daycare itu. Mirisnya, sebagian di antara yang berkomentar juga merupakan perempuan.
_“Apa tidak kasihan, anak masih bayi kok dititipkan?”_
_“Ngapain kerja kalau anak akhirnya diasuh orang lain?”_
_“Anak itu titipan Tuhan, bukan untuk dititipkan ke manusia lain.”_
Kalimat-kalimat itu terasa familiar. Bukan karena baru pertama kali muncul, tetapi karena ia sudah lama hidup dalam cara kita memandang seorang ibu.
Kasus itu membuka satu ruang yang lebih sunyi: bahwa menjadi ibu hari ini sering kali berarti hidup dalam posisi yang serba salah.
Padahal kondisi setiap perempuan saat mengemban amanah sebagai ibu, pun beragam. Tidak selalu ideal sebagaimana yang ditampilkan public figure atau influencer di media sosial.
Adalah sebuah privilege jika seorang ibu bisa memilih untuk tinggal di rumah dan mengurus anak sepenuhnya, tanpa perlu mengemban tanggung jawab mencari nafkah. Namun di sisi lain banyak juga ibu yang tidak memiliki privilege semacam itu. Sehingga bekerja dan mencari nafkah adalah sebuah keharusan.
Atau bahkan lebih jauh, tidak sedikit juga ibu yang memilih untuk bekerja, mengekspresikan diri dan mengejar karir. Bukan sesuatu yang perlu juga disalahkan, karena bagaimanapun ibu, perempuan, sebagai individu punya hak untuk mengem bangkan dirinya.
Sayangnya, dari kasus daycare di Yogyakarta ini, saya merasa miris karena mendapati bahwa masih banyak sesama perempuan yang mudah sekali menilai dan menghakimi pilihan ibu bekerja.
Saya teringat tulisan seorang jurnalis dan novelis Amerika Serikat bernama Jessica Grose. Dalam bukunya “Screaming on the Inside: The Unsustainability of American Motherhood”, ia menggambarkan satu hal yang terasa sangat dekat, bahwa sistem sosial sering kali menuntut ibu untuk menjadi segalanya sekaligus. Di satu sisi hadir penuh untuk anak, namun di sisi lain juga tetap produktif secara ekonomi, dan tetap stabil secara emosional.
Masalahnya, tuntutan itu bukan hanya tinggi, bahkan sering tidak realistis. Banyak ibu akhirnya hidup dalam tekanan yang tidak terlihat, berusaha menyeimbangkan antara ruang domestik dan ruang publik, antara menjadi “ibu yang baik” dan “perempuan yang tetap utuh sebagai diri sendiri”.
Di titik inilah dilema itu menjadi nyata. Bekerja, dianggap mengorbankan anak. Tidak bekerja, bisa berarti kehilangan kemandirian. Dan di antara dua pilihan itu, tidak pernah benar-benar ada ruang yang bebas dari penilaian.
Ironisnya, ketika sesuatu terjadi, seperti kasus daycare di Yogyakarta, yang pertama kali dipertanyakan justru pilihan ibunya. Bukan sistemnya. Bukan pengawasannya.
Bukan standar keamanannya. Tetapi keputusan seorang ibu.
Padahal, keputusan menitipkan anak tidak pernah sesederhana “mau atau tidak mau mengasuh”. Sering kali itu adalah hasil dari banyak hal, seperti kebutuhan ekonomi, kondisi mental, dukungan keluarga, bahkan sekadar keinginan untuk tetap menjadi manusia yang punya ruang hidup di luar peran sebagai ibu.
Namun semua kompleksitas itu hilang, ketika kita memilih untuk menghakimi dari permukaan.
Barangkali, dari kasus ini, ada satu hal yang bisa saya pelajari, bukan hanya tentang keamanan daycare, tetapi tentang cara kita melihat seorang ibu.
Bahwa di balik setiap keputusan, ada cerita yang tidak kita tahu. Ada lelah yang tidak selalu terlihat. Ada pertimbangan yang tidak pernah sesederhana komentar di media sosial.
Mungkin, yang lebih kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak opini, tetapi lebih banyak empati. Empati untuk memahami bahwa tidak semua ibu punya pilihan yang sama. Empati untuk menerima bahwa setiap keluarga punya cara bertahan yang berbeda. Dan empati untuk berhenti menjadikan ibu sebagai pihak yang paling mudah disalahkan.
Karena pada akhirnya, menjadi ibu bukan tentang menjadi sempurna. Melainkan tentang terus berusaha, di tengah dunia yang sering kali terlalu cepat menilai, dan terlalu lambat untuk memahami.
Oleh : Amelia Fitriani_
Pendiri Rumah Baca Serayu












