Oleh : Musni Umar
Sosiolog
Guru atau dosen di perguruan tinggi lebih banyak yang hidup jauh dari layak daripada yang hidup layak apalagi sejajtera.
Mereka yang mengajar di sekolah negeri terutama di DKI Jakarta kehidupan mereka cukup layak dan bisa dikatakan “sejahtera” karena memperoleh Tunjangan Kinerja Daerah (TKD). Begitu juga, mereka yang menjadi dosen di perguruan tinggi negeri lebih sejahtera. Mereka tidak saja mendapatkan gaji sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara), tetapi banyak obyekan dalam proyek penelitian.
Begitu juga, mereka yang menjadi guru atau dosen di sekolah- sekolah swasta, kalau sekolah favorit atau perguruan tinggi yang banyak diminati anak-anak orang kaya, maka kehidupan guru dan dosen, cukup sejahtera. Namun biaya sekolah sangat mahal. Hanya anak-anak orang kaya yang bisa mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi.
Sebaliknya, banyak sekali sekolah swasta dan perguruan tinggi swasta yang di kelola oleh yayasan tidak memiliki dana yang cukup, hanya mengharap dari Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan uang kuliah dari siswa atau mahasiswa. Pada hal siswa atau mahasiswa yang belajar di sekolah swasta dan perguruan tinggi pada umumnya dari kalangan kurang mampu secara ekonomi.
Dampaknya dari itu, gaji pegawai, guru dan dosen sangat tidak memadai. Implikasinya, kehidupan para guru dan dosen sangat memprihatinkan. Dampak selanjutnya, kualitas pendidikan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Tidak Bedakan Swasta dan Negeri
AMIN (Anies-Muhaimin) dalam dialog terbuka dengan Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengemukakan bahwa tidak akan membedakan sekolah swasta dan sekolah negeri.
Anies ingin menyetarakan sekolah swasta negeri yang selama ini dianggap mendapat perlakuan berbeda dengan sekolah negeri.
Menurut Anies, selama ini swasta lebih banyak menyediakan pendidikan bagi masyarakat dibanding pemerintah. Sebaliknya, pemerintah dinilai masih kurang memberi apresiasi atas peran serta swasta di bidang pendidikan.
“Kami harus dibebaskan PBB atas tanah mereka nol. Harus nol. Tanpa ada kampus dan sekolah swasta kita enggak cukup untuk sekolahkan anak-anak Indonesia. Cara negara membayar balik adalah PBB untuk sekolah kampus termasuk rumah sakit yang sifatnya sosial itu nol”. (CNN Indonesia, Sabtu, 25 Nov 2023 12:00 WIB)
Memuliakan Guru
Dalam rangka memperingati hari guru 25 November 2023, Anies mengatakan guru merupakan orang yang berjasa dalam pembangunan di Indonesia.
Namun, kata Anies kondisi ini membuat banyak orang yang melupakan peran dari guru. “Mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa bila kita lihat pembangunan yang ada di Indonesia ini dibalik pembangunan itu ada peran guru yang sering tak tersebutkan namanya,” ungkapnya.
Oleh karena itu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu ingin pemerintah untuk turut mengambil tanggung jawab agar guru-guru bisa bekerja dengan tenang.
“Ke depan kita ingin agar pemerintah mengambil tanggung jawab yang penuh yang bisa memastikan guru-guru kita bekerja dengan tenang, bekerja dengan tenang itu artinya apa?”. “Artinya mereka memiliki kejelasan status memiliki kepastian tentang pendapatan sehingga mereka bisa konsentrasi mendidik anak kita dengan baik”.







