Jakarta, PBSN – Setelah nakes Widhiyarini kita bejek-bejek, giliran tiga manusia berstatus dokter. Kelakuan spesies berpendidikan tinggi ini mirip sifatnya sama si nakes biadab itu.
Yurizal Tri Chaerawan sudah pergi. Sebelum pergi, ia sempat mengeluh karena delapan jam menunggu ruang rawat. Keluhannya sederhana. Ia sedang sakit dan ingin mendapat tempat untuk dirawat.
Namun balasan yang muncul justru membuat akal sehat ingin mengajukan cuti. Dr. Benny Christian Sihombing dari RSUD Ruteng, Nusa Tenggara Timur, melalui akun Threads @bennychrstn, menulis:
“Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yg make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri.”
Sampai di sini, mungkin masih bisa dianggap penjelasan tentang kondisi rumah sakit. Tetapi kemudian muncul kalimat yang bikin bulu kuduk berdiri:
“Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong.”
Ruang jenazah! Pasien masih bernapas, malah ditawari tempat yang penghuninya sudah tidak bernapas. Ini humor macam apa? Kalau rumah sakit penuh, mestinya pasien diberi penjelasan. Bukan diberi rekomendasi menuju ruang terakhir.
Ironinya, Yurizal kemudian meninggal pada 31 Juli 2026. Tentu tidak boleh sembarangan menyimpulkan komentar tersebut menyebabkan kematiannya. Penyebab medis harus dibuktikan secara medis. Tetapi secara moral, kalimat “ruang jenazah selalu kosong” kepada orang sakit jelas bukan bentuk empati.
Lalu ada dr. Renanda Maulidya Fadyla dari RSUD Inche Abdoel Moeis, Samarinda. Pada 24 Juli 2026, melalui akun Threads @nandafadyla_, ia menulis:
“bacot nih pasien.”
Dua kata. Hanya dua kata. Namun dua kata itu seperti membuka pintu menuju persoalan yang lebih besar. Pasien mengeluh, bacot. Pasien menunggu, bacot. Pasien meminta pertolongan: bacot. Lalu pasien harus berkata apa agar dianggap manusia?
Kemudian ada dr. Elda Putri Rahardini, peserta PPDS di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, yang dalam bahan ini disebut memiliki latar akademik panjang, termasuk lulusan FK UGM serta penerima beasiswa MEXT dan LPDP.
Komentarnya? Pasien BPJS disebut “haven’t brain” seolah-olah yang sakit bukan hanya tubuh, tetapi juga isi kepalanya. Luar biasa. Sekolah tinggi, tetapi empati bisa jatuh ke selokan.
Belum selesai. Dr. Tamara Dewi Jasmine dari RS Pusri Palembang menulis:
“kalian cuma bayar ke BPJS, bukan bayar ke RS apalagi Nakes-nya. Jadi nggak usah songong.”
Sementara NZ, petugas kesehatan dari RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya, disebut menghina Yurizal dengan kata “goblok.”
Maka lengkap sudah: “ruang jenazah”, “bacot”, “haven’t brain”, “nggak usah songong”, dan “goblok”. Rumah sakit boleh kekurangan kamar. Tetapi jangan sampai kemanusiaan ikut kehabisan stok.
BPJS bukan kasta. Pasien BPJS bukan manusia kelas dua. Mereka datang bukan meminta belas kasihan. Mereka datang karena sakit. Jika kamar penuh, jelaskan. Jika harus menunggu, jelaskan. Jika harus dirujuk, jelaskan. Tetapi jangan jadikan penderitaan pasien sebagai panggung komedi.
Sanksi kemudian dijatuhkan. RSUP Dr. Sardjito menonaktifkan dr. Elda, RSUD Ruteng memberi sanksi kepada dr. Benny, dan RSUD IA Moeis menskors dr. Renanda. Kemenkes dan IDI juga mengingatkan pentingnya etika serta empati di media sosial.
Bagus. Tetapi jangan berhenti pada sanksi. Sebab pertanyaan paling mengerikan bukan siapa yang dihukum. Pertanyaannya, mengapa orang yang dididik untuk menyelamatkan manusia bisa begitu mudah merendahkan manusia yang sedang kesakitan?
Yurizal sudah tidak bisa menjawab. Namun sistem kesehatan kita masih bisa. Jangan jawab dengan “kami akan evaluasi”. Yurizal tidak membutuhkan evaluasi. Ia membutuhkan kamar ketika masih hidup. Ia membutuhkan pertolongan ketika masih menunggu. Terutama, ia membutuhkan satu hal yang ternyata mahal sekali, dipandang sebagai manusia.
Rosadi Jamani












