Prabowo Dapat Kartanu Seumur Hidup, Presiden Resmi “Warga NU”

News, Politik182 Views

Jombang, PBSN – Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, resmi berakhir. Terpilih Rais Aam, KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU, Gus Kikin. Presiden Prabowo Subianto akhirnya mendapatkan Kartanu seumur hidup. Artinya, Presiden resmi jadi “Warga NU.”

Ya, Prabowo resmi mendapatkan Kartu NU. Bukan kartu ATM. Bukan kartu tol. Bukan kartu kredit yang kalau dipakai bikin tagihan datang membawa air mata. Ini Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama.

Lebih menarik lagi, Prabowo bukan sekadar menerima. Kartunya langsung dikalungkan ke leher. Usai memukul kentongan sebagai tanda ditutupnya Muktamar, Presiden langsung mengenakan Kartanu tersebut. Talinya melingkar di leher, kartunya bergoyang di dada.

Pemandangan ini seperti menyaksikan kepala negara baru saja mendapatkan SIM untuk masuk gang Nahdliyin. Bedanya, ini berlaku seumur hidup. Konon, ini menjadi kali pertama seorang Presiden Indonesia secara resmi menerima Kartanu seumur hidup dalam momentum Muktamar NU.

Yang lebih unik, Prabowo memang sudah sempat meminta kartu tersebut sejak pembukaan Muktamar. Ceritanya bukan NU tiba-tiba menyodorkan kartu. Presidennya memang nagih.

“Mana kartu NU saya?”

NU menjawab:

“Sabar, Pak. Muktamarnya belum selesai.”

Akhirnya pada penutupan:

“Ini Pak, sudah jadi.”

Prabowo pun resmi menjadi bagian dari keluarga besar NU secara simbolik. Muktamar ke-35 juga mencatat sejarah lain. Untuk pertama kalinya Muktamar NU dibuka dan ditutup langsung oleh Presiden RI.

Maka lengkap sudah. Datang membuka. Datang menutup. Pulang membawa Kartanu. Kalau ada yang bilang Presiden cuma menghadiri acara NU, sekarang buktinya ada di dada. Kartunya bergoyang, cak!

Namun jangan salah. Di balik kartu yang kelihatannya sederhana itu ada simbol politik dan kultural lumayan besar. NU merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kedekatan Presiden dengan NU tentu punya makna politik.

Apalagi di tengah dinamika Muktamar, sempat beredar isu “paket Istana”, yang mengaitkan KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin. Gus Kikin menanggapi isu tersebut dengan santai, bahkan tertawa. Ia mengatakan tidak tahu siapa membuat paket itu.

Sekarang hasilnya sudah terang. KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam. Gus Kikin menjadi Ketum PBNU. Keduanya lahir dari mekanisme AHWA.

Jangan sampai karena Presiden memakai Kartanu, semua keputusan NU langsung dituduh berasal dari Istana. Itu namanya qiyas yang kepanjangan.

Dalam ushul fikih, jangan mencampuradukkan dugaan dengan fakta. Al-yaqin la yazulu bisy-syakk, keyakinan tidak gugur hanya karena keraguan. Faktanya, pemimpin NU dipilih melalui mekanisme internal Muktamar. Fakta lainnya, Presiden mendapatkan Kartanu.

Selesai. Tetapi ada pesan yang jauh lebih penting. Kartanu boleh menjadi simbol kedekatan NU dengan pemerintah. Namun kedekatan tidak boleh berubah menjadi kehilangan keberanian untuk mengkritik.

Sebab keluarga yang sehat bukan keluarga setiap Presiden bicara langsung menjawab, “Siap, Pak!” Kalau kebijakan pemerintah bagus, dukung. Kalau bermanfaat, apresiasi. Kalau keliru, ya ingatkan. Kalau rakyat susah, NU harus bersuara. Jangan sampai Kartanu berubah fungsi menjadi kartu bebas kritik. Nah, ini baru NU.

Presiden boleh memakai Kartanu. Pemerintah boleh dekat dengan ulama. NU boleh bersahabat dengan kekuasaan. Tetapi ketika kepentingan rakyat terganggu, hubungan persahabatan tidak boleh membutakan mata.

Semoga nilai-nilai NU ikut bergoyang di dalam kebijakan negara, bergerak menuju keadilan, kemaslahatan, dan keberpihakan kepada rakyat. Kalau tidak? Warga NU punya satu kartu yang paling ampuh, kartu kritik. Kartu itu, cak, tidak mengenal masa berlaku.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *