Menyepak Purbaya Bisa Menjadi “Gol Bunuh Diri” Prabowo

News, Politik36 Views

Jakarta, PBSN – Makin seru saja cerita disepaknya Purbaya dari istana. Politik kadang mirip sepak bola. Lawan belum menyerang, pemain sendiri malah menendang bola ke gawang. Kalau di stadion disebut gol bunuh diri. Kalau di Istana mungkin disebut penyegaran kabinet.

Presiden Prabowo Subianto menyepak Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan. Suahasil Nazara masuk menggantikan. Ia langsung bersumpah dan berjanji: APBN sehat, kredibel, dapat dipercaya, defisit di bawah 3 persen, dan program prioritas pemerintah tetap jalan. Janji sudah direkam kamera. Mikrofon juga sudah bekerja. Tinggal rakyat menunggu hasil.

Namun publik mulai bertanya nakal, benarkah Purbaya diganti karena persoalan ekonomi? Sebab muncul kecurigaan lain lebih gurih untuk digoreng. Ada soal Rp 120 triliun harus disetor Danantara ke APBN, dana MBG tak boleh dipotong, Bea Cukai jangan diobok-obok, dan berbagai urusan fiskal lainnya.

Belum tentu benar. Belum tentu juga salah. Itu baru kecurigaan publik. Tetapi kalau sudah menyangkut uang triliunan, rakyat mendadak berubah menjadi auditor. Kalkulator keluar, alis naik.

Yang bikin situasi makin menarik, Purbaya bukan menteri popularitasnya sedang tenggelam. Bukan menteri yang ono, kerja tak jelas, kursi aman. Survei IndexPolitica menempatkan Purbaya peringkat kedua bursa capres 2029 dengan 22,50 persen, hanya kalah dari Prabowo. Bursa cawapres malah menempatkannya di posisi pertama dengan 28,65 persen, mengalahkan Dedi Mulyadi, AHY hingga Gibran.

Beberapa lembaga juga mencatat kepuasan terhadap kinerjanya mencapai 84,1 persen. Gaya blak-blakannya yang disebut sebagian orang sebagai “Purbaya Effect” justru disukai publik yang sudah bosan dengan bahasa birokrasi yang kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat membutuhkan tiga gelas kopi dan satu kamus.

Masalahnya, popularitas Purbaya berhadapan dengan tren kepuasan terhadap Prabowo yang sedang anjlok. SMRC: 81,2 persen November 2025, turun menjadi 66,4 persen Februari-Maret 2026, lalu 51,1 persen Juli 2026.

Poltracking: dari 78,1 persen Oktober 2025 menjadi 55,1 persen Agustus 2026. Tempo Data Science: 75 persen Desember 2025, turun ke 58 persen Maret, lalu ambruk ke 37 persen Agustus 2026. ASI masih mencatat 57,6 persen Juli 2026, tetapi arahnya tetap menurun.

Ekonomi memang menjadi salah satu biang kerok: harga kebutuhan pokok, lapangan kerja dan daya beli terus dikeluhkan. Tapi angka fiskal Purbaya sendiri tidak sedang berantakan. Defisit APBN masih di bawah 3 persen. Realisasi Juli-Agustus 2026 sekitar 0,9 persen PDB, outlook akhir tahun 2,85 persen. Penerimaan pajak tumbuh 23,7 persen. Sementara rasio utang bertahan di kisaran 40 persen.

Maka muncul pertanyaan usil, kalau bukan karena angka ekonomi, apakah ada angka lain yang bikin kursi Menkeu bergeser? Rp 120 triliun Danantara? MBG? Bea Cukai? Atau tarik-menarik kepentingan fiskal lainnya?

Belum ada jawaban pasti. Jangan buru-buru membuat konspirasi sampai setebal skripsi. Namun jika nanti ekonomi membaik, Prabowo tentu menang. Kalau APBN sehat dan program pemerintah lancar, pergantian Purbaya terbukti tepat.

Tetapi kalau harga makin menggila, pekerjaan makin sempit, daya beli makin loyo, sementara persoalan Danantara, MBG dan Bea Cukai terus berisik, publik akan kembali mengingat satu hal, Purbaya sudah disepak ketika popularitasnya masih tinggi.

Kalau ternyata keputusan itu salah, sejarah mungkin tidak menyebutnya pergantian menteri. Sejarah bisa saja menyebutnya, gol bunuh diri paling mahal di lapangan politik. Kita hanya bisa menonton aksi para elite mengendalikan negeri di tengah susahnya warga Kalimantan bernafas.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *