Mengenal PT. GAG Nikel Perusak Pulau Raja Ampat

News, Sosial298 Views

Jakarta, PBSN – Banyak followers minta saya menuliskan aksi PT. GAG Nikel. Sengaja saya ulur, karena lebih fokus pada pelaksanaan haji. Haji pun sudah agak landai, yok kita kupas aksi anak perusahaan PT Antam yang merusak sepenggal “surga” di bumi itu. Siapkan kopinya, wak!

Bayangkan sebuah pulau mungil di jantung Raja Ampat, di mana karang-karang kuno menyanyikan lagu purba kepada ikan-ikan yang menari di dalam air sebening doa. Burung cenderawasih berkicau dari dahan yang bahkan belum pernah disentuh manusia. Di sinilah, di Pulau Gag, permata surgawi di Papua Barat Daya, lahir sebuah kisah cinta segitiga yang tragis antara manusia, tambang, dan keserakahan. Namanya PT GAG Nikel. Tidak, ini bukan parodi. Ini nyata. Terlalu nyata sampai rasanya seperti dihantam martil di wajah.

PT GAG Nikel, anak emas dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam), adalah manifestasi kapitalisme tropis yang sedang mencari alasan untuk membenarkan kenapa 13.136 hektare hutan dan laut yang tak berdosa harus dilubangi, dikoyak, dan dipelototi oleh ekskavator. Jangan tanya kenapa. Karena mereka bisa. Karena izin Kontrak Karya Generasi VII sudah diteken sejak 19 Januari 1998, saat kita masih sibuk main Tazos dan belum sadar bahwa satu dokumen bisa mengutuk satu pulau selama beberapa dekade.

Awalnya, PT GAG dimiliki oleh Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. (75%) dan Antam (25%). Namun sejak 2008, Antam menyikat semuanya. Kini, GAG sepenuhnya di bawah kendali Antam. Satu perusahaan, satu visi, menggali nikel sebanyak mungkin dengan cara seefisien mungkin, sambil tersenyum di foto CSR bersama anak-anak lokal yang belum tahu bahwa tanah tempat mereka berdiri akan segera jadi danau asam tambang.

Operasional resmi dimulai 2018. Dari kantor pusat megah di Antam Office Building, Jakarta Selatan, jauh dari lumpur, jauh dari karang yang patah, jauh dari suara laut yang tersedak tailing, PT GAG memulai perjalanannya sebagai pelopor pengrusakan sistematis kawasan Raja Ampat atas nama pembangunan. Mungkin dalam rapat direksi, mereka menyebut ini sebagai “kontribusi terhadap transisi energi.” Karena nikel, kata mereka, adalah masa depan. Padahal, masa depan yang mereka ciptakan adalah lanskap bekas tambang yang lebih mirip permukaan Mars dari Papua.

Tanggal 5 Juni 2025, dunia mendadak merasa punya hati nurani. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menghentikan operasional PT GAG sementara. Katanya ingin evaluasi lingkungan. Dalam kunjungannya pada 7 Juni 2025 ke Pulau Gag, ia ingin melihat “dengan mata kepala sendiri.” Seakan-akan Google Earth dan tumpukan laporan belum cukup. Direktur Jenderal Minerba bilang reklamasi berjalan baik. Tentu saja. Reklamasi di Indonesia selalu “berjalan baik” sampai banjir datang dan laut berubah warna.

Tapi twist terbaik datang dari masyarakat Pulau Gag sendiri. Dengan suara lirih yang terdengar seperti korban Stockholm Syndrome, mereka meminta tambang dilanjutkan. Mereka bilang ekonomi lokal tergantung pada tambang. Mereka bilang lingkungan tidak rusak. Mereka bilang berita-berita itu hoaks. Luar biasa. Inilah puncak dari kekuatan narasi korporasi, membuat orang mencintai penjajah tanahnya sendiri.

Sementara itu, hiu-hiu di laut hanya bisa berputar-putar bingung. Karang-karang yang tadinya penuh kehidupan kini dihantui bising mesin dan serpih logam. Di atas sana, langit biru Pulau Gag menyaksikan segalanya tanpa bisa berteriak.

Beginilah rupa pembangunan di negeri tropis. Hijau dibabat, biru dikeringkan, dan semuanya diberi label “kemajuan.” Jika sampean membaca ini sambil masih merasa biasa saja, maka selamat, hati nurani ente sudah dideportasi ke kantor pusat Antam.

Terima kasih telah membaca. Jika nuan merasa marah, sedih, dan bingung kenapa ini bisa terjadi, maka selamat, you masih manusia. Tapi kalau ikam berpikir, “Lanjutkan saja, kami butuh nikel buat baterai mobil listrik” mungkin kisanak adalah robot Tesla yang sedang menyamar.

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *