Jakarta – Mantan Menko Perekonomian RI 2000-2002, Rizal Ramli mengungkapkan tantangan ekonomi RI yang “terjebak” di angka 5% yakni pembangunan berlandaskan strategi utang sehingga sulit untuk tumbuh tinggi.
“Diperlukan strategi penguatan bidang pangan, energi dan teknologi sebagai kunci untuk menjadi negara dengan ekonomi yang kuat,” ujar Rizal Ramli dalam talk Show yang bertajuk “Your Money Your Vote” seperti dikutip Jakartasatu.com, Sabtu (6/5/23).
“Janjinya pemerintah Jokowi kan ekonomi tumbuh 7 %. Kenapa ga kesampaian ? Tentu memang ada faktor-faktor covid tapi ada hal-hal yang lebih fundamental lagi,” sambung RR sapaan akrabnya.
Menurut dia ekonomi Indonesia tidak bisa tumbuh ke atas 5 % karena ikut model pembangunan yang bergantung kepada hutang.
Ia pun memberikan contoh negara yang mengejar ketinggalan dari Barat seperti Jepang, China, Korea tidak menggantungkan berlandaskan utang. Jepang, China Korea berlandaskan pada strategi dan kebijakan. Misalnya Jepang terkenal bagaimana strategi industrialisasinya, eksport seperti halnya juga dengan Korea.
Sementara kata RR Indonesia kini sudah terbius dengan hutang, tergantung dengan hutang, pejabatnya sama sekali tidak kreatif merumuskan policy dan kebijakan.
“Sebagai contoh, setiap quota import pejabatnya mendapat sogokan,” bebernya.
“Jadi, paling gampanglah misalnya kalau beras itu bisa dapat 20 dollar/ton. Kalau import 1 juta ya tinggal dikalikan saja. Import bawang putih saja 17 triliun, dibagi dengan pejabat 1 triliun, pengusaha pemegang quota 16 triliun, masih pesta,” jelasnya.
RR juga menyentil pidato Jokowi yang harusnya diperintahkan untuk Trisakti.
“Misalnya soal pangan yaitu kemandirian bidang pangan. Yang ada import-import melulu. Kenapa ? Dia setiap kali mengangkat pejabat, dipilih pejabat orang yang mau cari uang dari kewenangan jual atau kasih quota import. Selama hal ini tidak dibersihkan maka kita akan terus bermasalah. Karena negara besar seperti Indonesia itu harus bisa punya kedaulatan dalam bidang pangan, energi juga teknologi. Jika tidak maka akan mudah dilumpuhkan oleh negara lain,” tukasnya
Ia mengaku merasa bingung, karena semua capres diminta untuk melanjutkan program Jokowi.
“Mohon maaf, program Jokowi bikin hutang kebanyakan, yang miskin dan pengangguran makin banyak.
Jangan gitulah, itu ga becus kok. Mau diteruskan, dipaksakan kepada capres yang baru. Capres yang baru mestinya lebih kreatif,” pintanya
“Saya kasih contoh soal food estate, menghabiskan puluhan triliun hasilnya nol. Apa memang itu satu-satunya cara untuk meningkatkan produksi pangan? Ya kaga lah,” sanggahnya
Kemudian Mantan menko ini menyampaikan jalan keluar dengan prinsip sederhana yaitu membuat petani mendapatkan keuntungan.
Begitu mendapatkan keuntungan sebut dia, maka petani sendiri yang akan menaikkan produk.
Dia pun mencontohkan ketika dirinya saat menjadi menko tahun 2000-2001.
Saat itu ulas RR ada beberapa cara untuk menaikkan produksi pangan.
“Caranya yaitu kesatu, hapuskan kredit macet petani karena kalau tidak dihapuskan kreditnya maka petani akan diuber-uber dan disikat tanahnya. Cara yang keduayaitu menaikkan insentif buat petani supaya untungnya lebih besar. Ratio harga gabah dengan harga pupuk yang tadinya 1,5, yang 1 nya untuk pupuk. Petani semangat, dapat untung, petani menaikkan sendiri produksi, selama dua tahun Indonesia tidak perlu import beras,” ujarnya lagi
Lanjut RR kalau mau lebih jauh meningkat, maka pemerintah mesti menaikkan ratio gabah pupuk dua kali lipat.
“Pasti pengusaha-pengusaha mau pada ikutan, mereka bikin sawah sendiri, menaikkan produksi sendiri. Karena mana ada sektor yang untungnya 100% pertahun meski untung kotor. Inilah contoh bedanya membangun dengan strategi dan kebijakan dibandingan dengan membangun berdasarkan hutang,” tandasnya.
“Kita bisa ubah Indonesia lebih maju tumbuh diatas 12% seperti halnya China, Jepang yang mengandalkan stategi dan policy. Tentu syaratnya korupsi dan KKN harus dihapus. Ini yang nyolongnya kebanyakan, lihat aja kasus yang 349 Triliun. 23 miliar dollar-349 T ini skandal terbesar di dunia,” tutupnya.
(Red/Sumber)












