PBSNIndonesia – Jakarta, Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersama PM Israel Benjamin Netanyahu untuk menyerang Iran, dinyatakan sebagai kesalahan. Bukan hanya karena Iran memiliki rekam jejak sebagai pejuang tangguh tapi juga AS memiliki masalah di domestiknya.
Ketua Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah, KH Muhyiddin Junaidi menyatakan konflik Israel dan AS vs Iran adalah bentuk baru penjajahan di era modern, dimana kekuatan ekonomi dan militer adalah basis utamanya.
“Saya prediksi perang akan berlangsung lama dan complicated. Iran yang senantiasa di-branding sebagai negara anti demokrasi dan otoriter dengan rezim Mullah yang pro islam, telah menunjukan kepada dunia bahwa ia punya kapabilitas tinggi melawan arogansi Israel dan Amerika,” kata KH Muhyiddin, Sabtu 7 Maret 2026.
Ia pun mengungkapkan, bahwa kini 20 negara yang dulu pro Amerika dan Israel telah mencabut dukungan, karena sangat kecewa dengan kebijakannya yang absurd dan imprialistik. Bahkan, delapan negara di kawasan Arab, yang memiliki pangkalan militer AS, menolak tegas permintaan Donald Trump untuk menjadikan fasilitas militer tersebut sebagai landasan pacu pesawat .
“Gaya leadership Donald Trump yang urakan dan rasialis, kontradiktif dengan nilai nilai demokrasi yang humanis,” ujarnya.
KH Muhyiddin menyebut Iran yang sudah mengalami embargo zalim selama 48 tahun ternyata mampu mengembangkan jati dirinya menjadi negara kuat, berdaulat, dan bermartabat, yang ditunjukkan dengan sikap menolak tunduk kepada tekanan dari negara manapun, khususnya AS.
“Iran punya peradaban tangguh yang terbukti dalam sejarah. Negara Mullah tersebut punya tradisi terpuji dalam mencetak kader bangsa dengan keunggulan global yang sulit ditandingi oleh bangsa lain,” ujarnya lagi.
Ia menyampaikan, di Iran, militanisme dan martisme diajarkan kepada anak didik sejak kecil, sebagai fondasi utama untuk menjaga negara dan bangsa dari rongrongan asing.
“Kedisiplinan dan cinta ilmu menjadi bagian integral bangsa Iran, yang sudah menjadi value added dan modal berharga bagi kemajuan,” kata KH Muhyiddin.
Ia mengungkapkan, AS tercatat sudah beberapa kali gagal dalam melakukan invasi militer ke Iran, terutama saat pasukan elit militernya, seperti Navy Seal diterjunkan untuk menyelamatkan para sandera warga AS di Gedung Kedubes Amerika di Teheran.
“Para pakar militer menyatakan invasi Amerika ke Iran tahun ini adalah sebuah kesalahan besar Trump yang gegabah tanpa studi kelayakan yang komprehensif. Terlihat, Trump sangat dipengaruhi oleh PM Netanyahu, yang sangat anti Iran. Trump harusnya memperhatikan domestiknya, dimana gelombang penolakan rakyat Amerika atas keputusannya untuk memerangi Iran semakin meluas dan out of control. Amerika di bawah Trump mengalami degradasi ekonomi, sosial budaya dan daya saing. Semangat juang para tentaranya juga terbukti menghawatirkan,” pungkasnya.
sumber/dea






