Yerusalem – Dalam pernyataan tertulis yang dibuat oleh Amnesty International , disebutkan bahwa 220 warga Palestina tewas, 35 di antaranya tewas pada Januari 2023, sejak organisasi tersebut melancarkan kampanye melawan rezim apartheid .
Mengutip Anadolu Agency, Kamis (2/2/23), karenanya Amnesty internasional mendesak otoritas Israel harus mengakhiri rezim apartheid, yang menyebabkan pertumpahan darah dan penderitaan di wilayah Palestina.
Amnesty internasional juga menyebut serangan pasukan Israel di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki, di mana 9 orang tewas sebagai kejahatan.
Sekretaris Jenderal Amnesty, Agnes Callamard dalam pernyataannya menyebut dalam sepekan terakhir rezim apartheid Israel terus melancarkan kebijakan yang mematikan.
Callamard bahkan menuduh komunitas internasional acuh tak acuh terhadap rezim apartheid Israel dan kejahatan lainnya.
“Hal yang mengerikan adalah melihat para pembunuh melarikan diri dari keadilan,” katanya.
Callamard menegaskan bahwa tidak mungkin melindungi warga sipil dan memberikan keadilan bagi keluarga yang berduka sebelum rezim ini berakhir.
Amnesty International mengumumkan laporan rinci setebal 280 halaman berjudul “Rezim Apartheid Israel: Diskriminasi Rasial terhadap Palestina dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan” pada konferensi pers yang diadakan di Yerusalem Timur yang diduduki pada 1 Februari 2022.
Sistem apartheid, menurut hukum internasional, didefinisikan sebagai rezim penindasan dan dominasi yang dilembagakan secara sistematis oleh satu kelompok ras atas kelompok ras lain.
(Red/Sumber)






