Serangan Balik Jampidsus Febrie, 47 Nama di BGN Siap Dibidik

Hukrim, News36 Views

Jakarta, PBSN – Setelah kemarin cokelat muda gencar melancarkan serangan, kali situasi berubah. Cokelat tua ternyata punya jurus baru, siap counter attack. Gelar tikar lagi dan nikmati pertarungannya.

Jampidsus yang dihantam berbagai serangan, mengeluarkan jurus baru. Kali ini sasarannya, BGN lagi. Di sini dua petinggi Polri sudah jadi korban dan menjadi tersangka. Jurus barunya, Jampidsus Febrie menyatakan ada 47 orang siap dibidik.

Kalau nuan begadang subuh nanti pukul 02.00 menyaksikan Spanyol vs Belgia di perempat final Piala Dunia, bayangkan saja laga itu sedang berlangsung di Gedung Bundar Kejaksaan Agung.

Bedanya, di lapangan Spanyol mengoper bola. Di Gedung Bundar, yang dioper adalah nama. Kemarin jumlahnya 41. Hari ini menjadi 47. Besok? Wallahu a’lam. Mungkin Excel di komputer penyidik sudah mulai minta cuti tahunan.

Setelah dihajar isu pengunduran diri, rumah dijaga TNI, penggeledahan Cipete, brankas miliaran, uang tunai Rp67 miliar, emas 74 kilogram, dan segala macam teori konspirasi yang beredar lebih cepat daripada paket gratis ongkir, banyak orang mengira Jampidsus akan bermain bertahan.

Ternyata tidak. Alih-alih parkir bus, yang keluar justru serangan balik. Counter attack. Fast break. Tiki-taka. Pokoknya semua istilah sepak bola dipakai sekaligus.

Dalam konferensi pers di Gedung Bundar, Febrie Adriansyah mengungkapkan, perkara Badan Gizi Nasional terus berkembang. Kalau sebelumnya disebut ada 41 nama, kini berkembang menjadi 47 nama yang muncul dalam perkara tersebut.

Netizen langsung heboh. Ada menghitung pakai kalkulator, spreadsheet, bahkan ada pakai firasat. Yang belum menghitung cuma mesin ATM.

Tetapi Febrie buru-buru mengingatkan, publik jangan salah paham. Munculnya nama bukan berarti otomatis menjadi tersangka. Belum tentu ada perbuatan melawan hukum, unsur pidana. Masih harus didalami. Masih harus dibuktikan.Masih harus diberkaskan.

Kalau diterjemahkan ke bahasa sepak bola, bola memang sudah masuk kotak penalti. Tapi wasit belum menunjuk titik putih. Yang menarik justru waktunya. Pernyataan itu muncul ketika suhu politik dan hukum sedang panas-panasnya.

Rumah masih dijaga. Rumor masih beredar. Isu mundur masih dibahas. Media sosial masih bekerja tiga shift sehari. Tiba-tiba muncul angka baru. Empat puluh tujuh. Angka yang cukup besar untuk membuat grup WA ormas terlihat sepi.

Publik pun mulai bertanya-tanya. Apakah ini sekadar perkembangan penyidikan biasa? Atau sebuah pesan, Gedung Bundar masih punya amunisi? Tentu hanya penyidik yang tahu jawabannya. Yang jelas, perkara BGN bukan perkara kecil.

Program MBG merupakan program prioritas nasional. Dalam perkara ini, sebelumnya sudah ada tujuh tersangka yang ditetapkan, termasuk dua purnawirawan Polri, yakni Irjen (Purn) Sony Sonjaya dan Brigjen Lalu Muhammad Iwan.

Karena itulah setiap perkembangan baru langsung mendapat perhatian luar biasa. Ibarat laga Spanyol versus Belgia, setiap operan langsung disoraki penonton. Setiap sentuhan bola dianggap peluang gol. Setiap nama dianggap calon kartu merah. Padahal pertandingan masih berlangsung. Belum ada peluit akhir. Belum ada papan skor final.

Di tengah situasi itu, Mahfud MD malah tampil seperti komentator yang menikmati laga dari tribun VIP. Ia mengucapkan selamat kepada Polri yang berhasil membongkar dugaan penyembunyian aset hasil korupsi di sebuah kafe dan sejumlah lokasi lain.

Lalu ia juga mengucapkan selamat kepada Kejaksaan yang terus memburu dugaan korupsi di BGN dan MBG. Kalimat penutupnya sederhana. Tetapi efeknya seperti tendangan jarak jauh.

“Silakan berlomba untuk saling bongkar korupsi.” Nah, ini menarik. Kalau yang berlomba adalah membongkar korupsi, rakyat pasti senang dan tepuk tangan. Tetapi kalau yang berlomba adalah mempertahankan ego lembaga, koruptor justru akan membuka kursi lipat, menyiapkan kopi, lalu menonton dari tribun kehormatan.

Untuk saat ini, bola masih bergulir. Angka 47 sudah dilempar ke tengah lapangan. Publik sedang menunggu. Apakah ini awal gol berikutnya? Atau hanya umpan pendek sebelum serangan yang lebih besar?

Yang pasti, satu hal sudah jelas. Jampidsus yang sempat terlihat dikepung kini memberi sinyal, ia belum berniat turun dari lapangan. Setidaknya, belum sebelum peluit panjang benar-benar dibunyikan.

“Bang, kalau Kejagung terus bidik BGN, kasihan emak-emak pro MBG yang selalu demo.”

“Ya, mau gimana lagi, wak. Yang namanya perang, selalu orang tak berdosa jadi korban.

 

 

 

Rosadi Jamani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *